Kamis, 09 Februari 2023


Lahan Rawa, Intan yang Tertutup Lumpur

17 Jan 2023, 07:40 WIBEditor : Yulianto

Presiden Jokowi bersama beberapa menteri saat berkunjung ke food estate Kalteng | Sumber Foto:dok. sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Berkurangnya lahan subur untuk usaha pertanian, serta meningkatnya kebutuhan pangan nasional, terutama beras dan lapangan kerja seiring dengan perkembangan penduduk dan industri merupakan masalah dan tantangan yang berat bagi pembangunan pertanian. Banyak lahan sawah subur yang beralih fungsi ke penggunaan non-pertanian atau produksi non pangan sangat besar per tahunnya, padahal kebutuhan beras semakin meningkat.

Sementara itu, kebutuhan sumberdaya lahan pertanian untuk pangan adalah ketersedian lahan subur untuk pertanian serta tersedianya lahan cadangan berupa lahan kering.  Tahun 2025 diperlukan 7,3 juta ha lahan bukaan baru (padi, jagung, kedele, tebu dan hortikultura). Sedangkan tahun 2050 diperlukan tambahan lahan sekitar 14.9 juta ha (sawah, lahan kering dan lahan rawa).

Potensi pengembangan lahan baru berada di lahan rawa. Namun daerah (lahan) rawa dipengaruhi rezim air yang sangat kuat baik rawa pantai, pasang surut maupun rawa lebak, termasuk lahan basah (wetlands) atau lahan bawahan (lowland). Dalam kondisi alami, pada musim hujan daerah rawa tergenang dan pada musim kemarau kekeringan. Daerah pantai dan rawa dipengaruhi adanya gerakan pasang tinggi (springtide-saat purnama dan bulan mati) dan pasang ganda atau pasang kecil (saat bulan sabit).

Lahan rawa mempunyai potensi dan  peluang  besar  untuk  dijadikan  areal  produksi pangan  terutama padi.  Luas  lahan rawa di Indonesia diperkirakan  sekitar 34,1 juta ha. Terdiri dari 25,2  juta ha lahan  rawa lebak  dan 8,9 juta ha  lahan rawa pasang surut (sumber : BBSDLP, 2015).

Potensi padi sawah di lahan rawa yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia  seperti Sumatera,  Kalimantan,  Sulawesi, Maluku, Papua, bahkan Pulau Jawa juga ada potensi padi sawah pada lahan pasang surut seluas 14,18 juta ha. Potensi laha rawa   di masa kini dan masa mendatang akan menjadi salah satu  tumpuan  sentra  produksi  pangan.

Lahan rawa yang terbagi menjadi dua yaitu lahan rawa pasang surut dan lahan rawa lebak. Namun banyak permasalahan dan tantangan pengembangan lahan rawa sebagai sentra pangan. Pertama, pengaturan air, kelebihan air pada musim hujan dan kekurangan air pada musim kemarau.  

Kedua, salinitas. Biasanya lahan dipengaruhi luapan air pasang, sehingga pengaturan air dengan teknologi  (pengendalian air masuk) yang dikombinasikan dengan penataan lahan serta penggunaan varietas toleran/ tahan salin (Inpara 34) menjadi solusinya.

Ketiga, produktivitas lahan menurun karena faktor alam dan praktik manusia. Karenanya, diperlukan pengaturan air sesuai tipe lahan, menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah juga penataan lahan dan pengolahan tanah spesifik lokasi.

Keempat, produktivitas padi di lahan rawa rendah. Sudah menjadi hal yang dimaklumi bahwa produktivitas padi rawa rendah (IP1). Untuk itu memfungsikan saluran dan pengaturan air sesuai tipe lahan serta penggunaan varietas local dan varietas teknologi unggul (umur pendek) amat dianjurkan.

Kelima, adanya periode lahan menganggur. Biasanya lahan rawa lebak dan pasang surut dimanfaatkan hanya 1-2 kali, potensi untuk menaikan IP belum dianjurkan.

Keenam, produktivitas tanaman dan lahan karena EWS (early warning system) dalam upaya pencegahan tidak berfungsi. Umumnya pengendalian dilakukan, tapi pencegahan kurang berfungsi/tidak optimal. Selain itu, belum adanya sinergi yang utuh dalam pengawalan program serta kurangnya komunikasi cepat antara petani dan petugas, saat ini tombol EWS ada di Poktan dan PPL / POPT

Ketujuh, rawa dan hujan sebagai berkah. Rawa dengan segala permasalahannya dan kemarau yang tidak jelas memberikan jaminan ketersediaan air melimpah. Air tersedia sepanjang tahun dan biasanya rawa lebak juga mendapat kiriman nutrisi dari sungai sekitar.

Saat ini rata-rata hasil  padi  di lahan rawa  masih  rendah. Banyak teknologi dan varietas  yang cocok di lingkungan lahan rawa pasang surut dan lebak. Sayangnya, penggunaan  dan  penyebarannya  belum  banyak dikenal  dan  diterapkan. Petani lebih  banyak menggunakan  teknologi  dan  varietas  lokal  yang sudah lama dikenal  dan ditanam petani secara  turun temurun. 

Salah satu komponen teknologi di lahan rawa pasang surut yang potensial adalah penggunaan teknologi  Raisa. Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Dr. Fitrah Gunadi
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018