Sunday, 12 April 2026


Perempuan Petani dan Masa Depan Ketahanan Pangan Indonesia

11 Mar 2026, 09:23 WIBEditor : herman

Petani Perempuan Sedang Melakukan Kegiatan di Sawah

Oleh: Dr. Farahdibha Tenrilemba, M.Kes, Sekretaris Jenderal Wanita Tani Indonesia HKTI

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati International Women’s Day, sebuah momentum global untuk menegaskan kembali peran penting perempuan dalam pembangunan dan keberlanjutan masyarakat. Tahun ini menjadi semakin bermakna karena 2026 juga diperingati sebagai Women Farmers Year, yang menyoroti kontribusi perempuan dalam sistem pangan dunia.

Dalam konteks Indonesia, momentum ini mengingatkan kita bahwa perempuan bukan hanya konsumen pangan, tetapi juga produsen pangan yang memegang peranan strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Data menunjukkan bahwa dari sekitar 25 juta petani di Indonesia, sekitar seperempatnya adalah perempuan (BPS, 2023). Mereka terlibat dalam berbagai tahapan produksi pertanian, mulai dari penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga panen dan pengolahan hasil pertanian.

Namun, kontribusi besar ini sering kali belum sepenuhnya terlihat dalam narasi pembangunan maupun kebijakan pertanian.

Secara global, peran perempuan dalam sistem pangan bahkan lebih signifikan. Perempuan memproduksi antara 40–50 persen pangan dunia dan memainkan peran penting dalam pengolahan serta distribusi pangan di tingkat rumah tangga dan komunitas (FAO, 2023).

(Dr. Farahdibha Tenrilemba, M.Kes, Sekretaris Jenderal Wanita Tani Indonesia HKTI)

Perempuan sebagai Penjaga Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh produksi skala besar, tetapi juga oleh ketahanan pangan rumah tangga dan komunitas. Di sinilah perempuan memainkan peran yang sangat vital.

Di berbagai desa di Indonesia, perempuan tidak hanya bekerja di sawah atau kebun, tetapi juga mengelola pangan keluarga, memastikan kecukupan gizi rumah tangga, serta menjaga keberlanjutan konsumsi pangan sehari-hari.

Perempuan juga menjadi penggerak penting dalam pengembangan usaha tani keluarga, pengolahan hasil pertanian, serta ekonomi pangan berbasis komunitas.

Melalui kegiatan seperti kelompok tani perempuan, koperasi, dan usaha mikro berbasis pertanian, perempuan berkontribusi langsung pada stabilitas pangan masyarakat.

Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan pertanian juga berkorelasi dengan peningkatan keberagaman pangan dan ketahanan pangan rumah tangga (FAO, 2023).

Tantangan yang Masih Dihadapi Perempuan Petani

Meskipun memiliki kontribusi besar, perempuan petani masih menghadapi berbagai tantangan struktural.

Akses perempuan terhadap kepemilikan lahan, pembiayaan, teknologi pertanian, dan layanan penyuluhan masih relatif terbatas dibandingkan dengan laki-laki (FAO, 2023). Dalam banyak kasus, perempuan bekerja sebagai tenaga kerja keluarga tanpa upah atau tidak tercatat secara resmi sebagai petani.

Padahal, berbagai studi menunjukkan bahwa jika perempuan memiliki akses yang setara terhadap sumber daya produktif, produktivitas pertanian dapat meningkat secara signifikan dan berdampak langsung pada peningkatan ketahanan pangan (FAO, 2023).

Memperkuat Perempuan untuk Masa Depan Pangan

Di tengah berbagai tantangan global, seperti perubahan iklim, krisis pangan, dan ketidakpastian ekonomi, penguatan peran perempuan dalam sektor pertanian menjadi semakin penting.

Investasi pada perempuan petani bukan hanya persoalan keadilan gender, tetapi juga merupakan strategi pembangunan yang cerdas dan berkelanjutan.

Sebagai Sekretaris Jenderal Wanita Tani Indonesia HKTI, saya meyakini bahwa perempuan petani merupakan garda terdepan ketahanan pangan nasional.

Perempuan tidak hanya menanam dan memanen pangan, tetapi juga menjaga keberlanjutan sistem pangan melalui pengetahuan lokal, pengelolaan rumah tangga, serta solidaritas komunitas.

Karena itu, kebijakan pembangunan pertanian ke depan perlu lebih inklusif bagi perempuan, mulai dari peningkatan akses terhadap lahan, teknologi, pembiayaan, hingga kepemimpinan dalam organisasi pertanian.

Momentum International Women’s Day pada 8 Maret dan Women Farmers Year 2026 harus menjadi pengingat bahwa masa depan ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan negara, tetapi juga oleh tangan-tangan perempuan yang setiap hari menanam, merawat, dan menjaga kehidupan di ladang-ladang negeri ini.

=====

Dr. Farahdibha Tenrilemba, S.S., M.Kes adalah Sekretaris Jenderal Wanita Tani Indonesia HKTI, Ahli komunikasi pembangunan dan kebijakan sosial, serta dosen kesehatan masyarakat. Ia aktif dalam forum global seperti UN CSW dan Women20 (G20) dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan, care economy, dan ketahanan pangan.

 

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018