
Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (Purn) Ahmad Luthfi, Luncurkan penggunaan CNG untuk Dapur MBG di Jawa Tengah
TABLOIDSINARTANI.COM, Semarang --- Terobosan baru hadir dari Jawa Tengah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini tak hanya memberi makanan sehat untuk siswa sekolah, tapi juga menghadirkan solusi energi yang lebih murah dan ramah lingkungan. Dapur-dapur MBG mulai beralih dari gas LPG ke CNG (Compressed Natural Gas) gas alam murni yang diproduksi langsung dari perut bumi Jawa Tengah.
Dipelopori PT Jateng Petro Energi (JPEN), BUMD milik Pemprov Jateng, yang secara resmi meluncurkan tabung gas CNG untuk dapur MBG. Peluncuran dilakukan Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (Purn) Ahmad Luthfi, di Dapur Mandiri Marwa, Kelurahan Bandarjo, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
“Saya sangat mengapresiasi peluncuran CNG ini. Selain lebih murah, ini adalah energi yang kita miliki sendiri. Potensinya besar dan ini mendukung kemandirian energi daerah,” ujar Gubernur.
LPG yang selama ini digunakan sebagai bahan bakar dapur, masih bergantung pada impor hingga 85%. Sebaliknya, CNG yang diperkenalkan JPEN berasal murni dari sumber daya alam Jawa Tengah, seperti di Grobogan dan Blora. Hal ini menjadikan CNG sebagai pilihan yang strategis dan berkelanjutan.
Menurut Direktur JPEN, Dwi Budi Sulistiyana, CNG tidak hanya cocok untuk dapur sekolah, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh rumah tangga dan industri kecil.
“CNG adalah energi dari bumi Jawa Tengah. Ini bukan hanya soal harga, tapi tentang kedaulatan energi. Kami ingin semua lapisan masyarakat bisa menikmatinya,” katanya.
Instalasi dapur dengan sistem CNG umumnya membutuhkan investasi awal sekitar Rp20 juta. Namun untuk mendukung program MBG, JPEN memberikan pemasangan gratis dan bahkan meminjamkan hingga 60 tabung besar kepada dapur yang bersangkutan.
Salah satunya adalah Dapur Mandiri Marwa, yang akan mulai beroperasi Agustus 2025 dan melayani lebih dari 3.500 siswa dari lima sekolah.
“CNG ini sangat membantu. Biaya operasional turun, pemasangan gratis, dan pengisian ulang juga jauh lebih hemat dibanding LPG,” ujar pengelola dapur, Gema Pancawati.
Selain hemat, CNG juga dikenal lebih bersih. Gas ini menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan LPG, sehingga baik untuk kesehatan pengguna dan lingkungan sekitar.
JPEN saat ini sudah menyuplai CNG ke empat dapur MBG, yaitu tiga di Kabupaten Wonogiri dan satu di Ungaran. Ke depan, perusahaan menargetkan distribusi CNG ke 18 dapur tambahan mulai Juli, dengan total volume pasokan mencapai 22.000 meter kubik per bulan setara dengan 22 ton gas, yang bisa menggantikan ribuan tabung elpiji.
Di luar program MBG, JPEN juga sudah menyalurkan CNG ke hotel, restoran, katering, dan kafe di berbagai wilayah Jawa Tengah, dengan volume sekitar 7.000 meter kubik per bulan.
“Kami ingin memperluas pemanfaatan CNG ke berbagai sektor. Ini energi murah dan bersih, cocok untuk masyarakat luas,” ujar Dwi.
Gubernur Luthfi menegaskan pentingnya sosialisasi CNG ke masyarakat luas. Menurutnya, selama ini masyarakat hanya mengenal gas melon berwarna hijau. Dengan hadirnya tabung CNG buatan JPEN, masyarakat akan diberi alternatif baru yang lebih efisien.
“Nanti kita siapkan tabung dengan warna berbeda agar masyarakat mudah mengenalinya. Ini gas dari kita, biayanya murah, dan kualitasnya tinggi,” katanya.
Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek berupa makanan sehat bagi anak-anak, tetapi juga manfaat jangka panjang berupa edukasi energi dan keberlanjutan.
Dengan langkah berani beralih ke CNG, dapur-dapur MBG di Jawa Tengah kini bukan hanya tempat memasak, tapi juga pusat inovasi energi. Dari dapur sekolah, semangat kemandirian energi ini menyebar ke rumah tangga, industri kecil, hingga sektor pariwisata.
“Kami berkomitmen untuk terus berkontribusi kepada masyarakat dan lingkungan. Energi bersih seperti CNG adalah bagian dari solusi masa depan,” tutup Direktur JPEN.