
Pemrov Jateng Salurkan Bantuan Benih Padi ke Petani Demak
TABLOIDSINARTANI.COM, DEMAK – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyalurkan bantuan benih padi sebanyak 28.450 kilogram kepada 56 kelompok tani di Kabupaten Demak yang lahan pertaniannya rusak akibat rob dan banjir. Bantuan simbolis diserahkan langsung Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, saat kunjungan kerja di Demak beberapa waktu lalu.
Bantuan ini mencakup area tanam seluas 1.138 hektare dan merupakan bagian dari program antisipasi perubahan iklim tahun anggaran 2025. Kegiatan ini dikemas dalam agenda bertajuk Sinergi Penanganan Sawah Terdampak Banjir untuk Peningkatan Produksi Padi.
Dalam kunjungan tersebut, Wakil Gubernur yang akrab disapa Gus Yasin, turut didampingi sejumlah pejabat strategis, antara lain Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng De Francisco Da Silva Tavares, Kepala Dinas PUSDATARU Henggar Budi Anggoro, serta Kepala BBWS Pemali Juana, Laode Muhammad Bakti.
Hadir pula Bupati Demak Eisti’anah, Direktur Hilirisasi Hasil Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Mulyono, dan Plh. Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng, Nita Rachmenia.
Pada kesempatan tersebut Gus Yasin menyoroti seriusnya dampak rob dan banjir yang telah lama melanda kawasan Demak dan sekitarnya, bahkan menjalar hingga wilayah Jepara.
“Ini bukan proyek, tapi persoalan kemanusiaan dan kebencanaan. Semua pihak harus bergerak—masyarakat, pemerintah, pengusaha, dan akademisi,” tegasnya.
Pemprov Jateng, kata dia, telah mengalokasikan anggaran hingga Rp250–300 miliar untuk penanganan kawasan pesisir. Salah satu upaya konkret yang tengah dilakukan adalah pengerukan Sungai Pelayaran di Kecamatan Sayung sepanjang dua kilometer sebagai bagian dari program normalisasi sungai.
Pengerukan tersebut dapat diperpanjang jika mendapat tambahan pasokan solar dari Pertamina. “Besok saya akan temui pihak Pertamina. Kita minta tambahan bahan bakar agar pengerukan bisa diperpanjang lebih dari dua kilometer,” imbuhnya.
Wagub juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lahan pertanian. Ia menyebut kontribusi Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional telah meningkat dari 16% di 2024 menjadi 17% pada awal 2025.
Namun capaian tersebut bisa menurun jika alih fungsi lahan dan kerusakan akibat bencana terus dibiarkan.
“Kalau ingin menyumbang 20–25%, maka lahan-lahan rusak, termasuk di Demak, harus dipulihkan,” ujar Gus Yasin.
Bupati Demak Eisti’anah menyampaikan apresiasinya atas realisasi bantuan tersebut. Menurutnya, sebagian besar wilayah Demak berada di dataran rendah, sehingga sangat rawan terdampak rob, banjir, dan sedimentasi.
“Banyak sawah tak bisa ditanami karena sedimentasi tinggi. Tapi kami bersyukur, karena tidak ada saling lempar tanggung jawab. Semua pihak bersatu, dari daerah, provinsi, pusat, hingga swasta,” ungkap Eisti’anah.
Senada dengan itu, Plh. Kepala KPw BI Jateng, Nita Rachmenia, menegaskan komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasokan pangan di wilayah Jateng, termasuk Demak.
Selain dukungan teknis dan benih, BI juga mendorong pengendalian hama ramah lingkungan melalui pembangunan rumah burung hantu (rubuha).
“Sinergi ini penting agar pasokan pangan tetap stabil dan petani bisa sejahtera,” ucap Nita.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng, De Francisco Da Silva Tavares, menekankan pentingnya keberlanjutan pertanian padi di Demak. Menurutnya, daerah ini merupakan salah satu penghasil padi terbesar di Jawa Tengah.
“Melindungi usaha tani padi yang terdampak bencana di Demak adalah langkah strategis. Kita tidak hanya bicara soal produksi, tapi juga kesejahteraan petani,” kata Frans.
Ia juga menambahkan bahwa sejak dulu Demak menjadi jalur penting perdagangan beras antar pulau. “Itu sebabnya di Demak tumbuh banyak unit prosesing padi berskala besar dengan teknologi yang sudah canggih,” pungkasnya.