Thursday, 22 October 2026


Terbitkan Inpres No. 4/2026, Pemerintah Targetkan Serapan Bulog 4 Juta Ton Beras

13 Apr 2026, 17:09 WIBEditor : Yulianto

Bulog tahun ini mendapat target serapan sebanyak 4 juta ton setara beras

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Pemerintah kembali menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 4 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah Tahun 2026-2029. Inpres yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto tanggal 2 April 2026 tersebut menargetkan pengadaan gabah Bulog sebanyak 4 juta ton setara beras.

Sementara itu ketentuan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen masih berlaku sesuai kebijakan pemerintah tahun lalu masih sebesar Rp 6.500/kg dengan segala kualitas (any quality). Namun Inpres terbaru menambahkan catatan, gabah yang dibeli sesuai usia panen.  

Selanjutnya, penyaluran CBP dapat dipergunakan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), pasar umum, bantuan pangan, dan tanggap darurat bencana. Di samping itu dapat pula disalurkan ke program ASN, mendukung program pemenuhan gizi nasional, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih hingga kerja sama internasional serta bantuan pangan luar negeri.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, ada perbedaan Inpres tahun 2025 dengan tahun ini. Perbedaan pertama adalah targetnya. Tahun lalu, pemerintah menargetkan penyerapan gabah Bulog sebanyak 3 juta ton setara beras. Sedangkan tahun ini sesuai Inpres No. 4 Tahun 2026 targetnya sebanyak 4 jut ton.

“Alhamdulillah sampai April penyerapan kita sudah mencapai 1,9 juta ton setara beras atau hampir 48 persen dari target. Berarti tinggal 50 persen lah, mudah-mudahan bisa tercapai seperti tahun lalu,” kata Rizal. Bahkan ia optimis sampai akhir Juli pengadaan gabah Bulog bisa menembus 4 juta ton setara beras.

Perbedaan lainnya ungkap Rizal, untuk jenis gabah memang masih tetap menggunakan ketentuan any quality  atau penyerapan dalam semua kondisi. Namun dalam Inpres terbaru pemerintah menetapkan ketentuan tambahan yakni gabah any quality yang dalam masa usia panen.

Dengan ketentuan tersebut, Rizal berharap gabah yang Bulog serap adalah sudah dalam masa usia panen. Sebab, ia mengakui, pengalaman tahun lalu ada sebagian petani yang tanamannya belum usai panen justru sudah dipanen. “Mungkin petaninya melihat tetangganya sudah panen dan dapat uang, jadi mereka buru-buru panen padahal belum usai panen,” tuturnya.

Terkait prediksi BMKG adanya El Nino atau kemarau panjang, Rizal mengatakan, pihaknya sudah merencanakan beberapa alternatif dan langkah dalam menghadapi El Nino. Bahkan ia justru melihat adanya kemarau panjang yang datang bersamaan waktu panen akan menguntungkan dalam pemgadaan gabah Bulog.

“Diperkirakan El Nino nanti terjadi pada bulan-bulan puncak panen. Kalau puncak panen panas, petani tambah senang karena gabahnya makin kering dan kualitasnya akan lebih baik,” katanya usai Rapat  Percepatan Realisasi Pendanaan Penyerapan Gabah/Beras Petani di gedung Bulog, Senin (13/4).

Karena itu Rizal mendorong pimpinan wilayah Bulog di daerah agar memaksimalkan penyerapan gabah pada awal panen sampai Juli. Kebijakan ini untuk mengantisipasi kemarau panjang yang diprediksi sampai November. “Kami sampaikan kepada seluruh jajaran yang ada di daerah, baik Bulog wilayah maupun cabang untuk memaksimalkan penyerapan saat panen sampai Juli,” ujarnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018