
Direktur Serealia, Ditjen Tanaman Pangan, Gunawan
TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Upaya menggapai swasembada pangan berkelanjutan kini menghadapai tantangan perubahan iklim yang diprediksi akan terjadi kemarau panjang (El Nino). Karena itu, Kementerian Pertanian saat ini mendorong percepatan tanam dan optimalisasi lahan. Salah satunya melalui Gerakan Tanam Serempak.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tahun ini memprediksi musim kemarau terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia, bahkan berlangsung lebih kering dan panjang dibanding biasanya. Puncak musim kemarau secara nasional akan terjadi pada bulan Agustus, dengan sifat curah hujan yang cenderung berada di bawah normal (lebih kering).
Sebagai langkah antisipasi untuk menjaga produksi padi, pemerintah mendorong Gerakan Tanam Serempak. Gerakan ini dalam upaya “menghidupkan” kembali ribuan hektare lahan yang sebelumnya tidak tergarap optimal. Secara nasional, gerakan tanam serentak ini dilaksanakan di 25 provinsi dengan target tanam sekitar 50 ribu hektare.
Ada beberapa program yang pemerintah dorong. Diantaranya, optimalisasi lahan (oplah), peningkatan indeks pertanian dan cetak sawah rakyat (CSR). Kegiatan mencakup lokasi Optimalisasi Lahan (Oplah) Tahun 2024 seluas 21.093 hektare, Oplah 2025 seluas 27.472 hektare, serta Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun 2025 seluas 1.700 hektare.
Direktur Serealia, Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Gunawan mengatakan, sebagai upaya antisipasi kondisi musim kering, pemerintah, khususnya Direktorat Serealia telah menyiapkan program bantuan benih untuk petani yang terdampak bencana alam, termasuk untuk wilayah yang terdampak kekeringan.
“Upaya mitigasi terhadap kemungkinan terjadinya kemarau panjang juga dilakukan Direktorat Alsintan Pra Panen dengan memberikan bantuan pompanisasi dan irigasi perpompaan di beberapa wilayah di Indonesia agar petani dapat menanam padi dengan ketersediaan air yang cukup,” tuturnya kepada Tabloid Sinar Tani.
Dikatakan, percepatan tanam dilakukan di wilayah-wilayah yang bisa dilaksanakan penanaman ketika masih ada hujan dan ketersediaan air yang cukup. Diantaranya, di wilayah Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, serta wilayah-wilayah lain yang masih ada hujan sampai dengan menjelang musim kemarau.
Seperti di wilayah Jawa Barat, saat ini masih terdapat curah hujan yang cukup untuk menanam padi, sehingga bisa dilakukan percepatan tanam padi selagi masih cukup air. “Untuk luas penanaman ditargetkan sesuai dengan target luas tambah tanam di masing-masing provinsi yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian di tahun 2026,” kata Gunawan.
Identifikasi Lahan
Gunawan menjelaskan, Program Percepatan Tanam dilakukan dengan mengidentifikasi lahan yang bisa diajukan untuk percepatan tanam oleh masing-masing Dinas Pertanian Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia. “Target lahan untuk percepatan tanam disesuaikan oleh masing-masing Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dengan menyesuaikan target tanam dari Kementerian Pertanian,” katanya.
Jika dibutuhkan bantuan benih untuk melaksanakan kegiatan tersebut, Gunawan mengatakan, Dinas Pertanian Kabupaten/Kota bisa mengajukan ke Direktorat Serealia melalui mekanisme pengajuan CPCL untuk bantuan pemerintah.
“Kami menyiapkan dukungan benih untuk kegiatan optimalisasi lahan (oplah), peningkatan Indeks Pertanaman dan cetak sawah rakyat (CSR),” katanya. Nanti lanjut Gunawan, masing-masing Dinas Kabupaten/Kota dapat mengusulkan bantuan benihnya. Jumlah bantuannya sudah ditetapkan oleh Biro Perencanaan Kementerian Pertanian di tahun 2026.
Untuk penyebaran benihnya di daerah dalam mendukung ketiga program pemerintah tersebut, Gunawan mengatakan, di beberapa wilayah sudah mulai ada benih insitu (benih yang terdapat di lokasi pengusulan bantuan benih padi) seperti di wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Meskipun diakui, sebagian besar benih masih terkonsentrasi di Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Ketersediaan benih menurut data di Direktorat Perbenihan adalah cukup untuk memenuhi kegiatan bantuan benih sekitar 2,7 juta hektar di seluruh Indonesia di tahun 2026 ini. Saat ini sudah ada benih yang tahan/toleran kekeringan. Diantaranya. varietas Inpago 4, Inpago 5, Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 11 Agritan, Inpago 12 Agritan, Inpago 13 Fortiz, Inpari 32, Inpari 38 Tadah Hujan Agritan.
Ada juga varietas Inpari 39 Tadah Hujan Agritan, Inpari 40 Agritan, Inpari 41 Tadah Hujan Agritan, Inpari 42 Agritan GSR, Inpari 43 Agritan GSR, Inpari 46 GSR Tadah Hujan, Cisaat, Situbagendit, Situpatenggang, Cakrabuana, dan varietas lokal sejenisnya. Karena itu, petani kini disarankan untuk menggunakan benih yang tahan kekeringan tersebut.
Dalam jangka panjang, program Direktorat Serealia dalam mendukung swasembada pangan berkelanjutan menurut Gunawan, sesuai dengan tugas dan fungsi Direktorat Serealia yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 02 Tahun 2025 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Pertanian pada pasal 116-118.
Direktorat Serealia akan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan produksi dan produktivitas padi, jagung, dan aneka serealia. Sebab, swasembada pangan berkelanjutan dapat dicapai dengan sinergi dan komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah, serta semua stakeholder yang terlibat di dalam prosesnya.
Program-program utama dalam rangka peningkatan produksi dan produktivitas padi dan jagung akan dilaksanakan melalui sinergi antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dengan eselon 1 terkait lainnya serta K/L dan Pemerintah Daerah terkait. “Sesungguhnya swasembada pangan adalah tugas seluruh pemangku kepentingan yang bergerak di bidang pangan, dan bukan hanya tugas Direktorat Serealia semata,” tuturnya