Tuesday, 10 March 2026


Vaksinasi Massal Mulai Berdampak, PMK Tinggal 182 Kasus

20 Feb 2025, 10:39 WIBEditor : Herman

Vaksin PMK

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat program vaksinasi penyakit mulut dan kuku (PMK) untuk memastikan wabah ini tidak kembali merebak.

Sejak awal tahun 2025, sebanyak 1,4 juta dosis vaksin telah disalurkan ke berbagai provinsi sebagai bagian dari Bulan Vaksinasi PMK yang berlangsung sepanjang Februari.

"Distribusi ini merupakan langkah strategis untuk mengendalikan PMK agar tidak kembali meluas," ujar Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda, Selasa (18/2/2025).

Hasilnya mulai terlihat. Berdasarkan laporan dari berbagai daerah, kasus PMK terus menunjukkan tren penurunan. Bahkan, sejumlah wilayah sudah melaporkan nihil kasus.

Data Ditjen PKH mencatat, jumlah kasus yang sempat mencapai 2.412 per minggu pada awal Januari kini anjlok menjadi hanya 182 kasus pada pekan ketiga Februari.

Meski begitu, kewaspadaan tetap harus dijaga. "Kita tidak boleh lengah. Pengawasan terhadap pergerakan ternak harus tetap diperketat, dan vaksinasi akan terus kami tingkatkan," tegas Agung.

 

Sebagai salah satu wilayah endemis, Jawa Timur mulai menunjukkan pemulihan berkat vaksinasi yang masif. Di Lamongan, pemerintah daerah menggelar vaksinasi serentak untuk mencegah penyebaran virus. Kota Kediri pun sukses menekan angka kasus dengan vaksinasi yang digencarkan sejak tahun lalu, dan menargetkan cakupan penuh sebelum April 2025.

"Perkembangannya cukup baik, tetapi vaksinasi harus terus berjalan," ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Kediri, M. Ridwan.

Di Mojokerto, sebanyak 38 ribu dosis vaksin telah diberikan dengan harapan mencapai nol kasus saat Ramadan nanti. Sementara itu, di Trenggalek, vaksinasi menjadi kunci utama pengendalian PMK, memungkinkan pasar hewan kambing dan domba kembali dibuka.

Hal serupa juga terjadi di Lamongan, di mana pasar hewan di Tikung dan Babat resmi beroperasi kembali. Di Jombang, sepuluh pasar hewan sudah kembali dibuka setelah tren kasus terus melandai.

 

Kabar baik datang dari Aceh, di mana PMK telah berhasil dikendalikan. Pj. Gubernur Aceh, Achmad Marzuki, mengonfirmasi bahwa tidak ada laporan kasus baru selama tiga minggu terakhir. Keberhasilan ini tidak lepas dari vaksinasi masif dan pengawasan ketat terhadap pergerakan ternak.

Jawa Tengah juga mencatat tren penurunan kasus. Meski begitu, pemerintah daerah terus mengingatkan peternak untuk tidak lengah. Di Boyolali, vaksinasi terus diperkuat untuk memastikan perlindungan maksimal terhadap ternak.

Di Blora, pasar hewan telah kembali dibuka setelah sebelumnya ditutup akibat lonjakan kasus. Namun, di Sragen, meskipun kasus sudah menurun, pasar hewan setempat masih menunggu izin untuk beroperasi kembali.

"Peternak harus tetap disiplin menjalankan protokol pencegahan," kata Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah, Hariyanta Nugraha.

Sementara itu, Pasar Hewan Imogiri di Bantul, DI Yogyakarta, juga kembali beroperasi setelah sempat ditutup akibat lonjakan kasus. "Kami membuka pasar kembali karena kasus PMK sudah melandai," ujar Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Bantul, Imawan Eko Handriyanto.

Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Imron Suandy, menegaskan bahwa pengendalian PMK membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Selain mendistribusikan vaksin, Kementan juga mendorong partisipasi pemerintah daerah dan sektor swasta dalam pengadaan dan operasionalisasi vaksin.

"Pengendalian PMK adalah tanggung jawab bersama. Dengan kolaborasi yang kuat, kita bisa memastikan wabah ini tidak kembali meluas," tutupnya.

Reporter : Rafi
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018