Saturday, 15 August 2020


Penyuluh Pertanian, Jangan Takut untuk Menulis

04 Jul 2020, 08:20 WIBEditor : Yulianto

Menulis menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi penyuluh pertanian | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh---Aktivitas menulis seharusnya sudah menjadi bagian keseharian penyuluh pertanian. Tapi mengapa banyak penyuluh yang enggan untuk menulis?

Menulis adalah suatu kegiatan menuangkan gagasan, ide dan pikiran serta perasaan seseorang yang diungkapkan dalam bahasa tulisan. Dalam kajian ilmiah tentang menulis, ada beberapa pendapat tentang definisi menulis. Menurut Wikipedia, definisi menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.

Sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (WJS Purwadinata), mendefiniskan bahwa menulis adalah “melahirkan fikiran atau perasaan dengan tulisan”. Ada juga pendapat Hargrove dan Pottet dalam Abdurrahman (1998:239) mengatakan, menulis adalah penggambaran visual tentang pikiran, perasaan dan ide dengan menggunakan simbol-simbol sistem bahasa penulisannya untuk keperluan komunikasi atau mencatat. Masih banyak lagi pendapat para pakar tentang definisi menulis.

Menurut Karen Baikie seorang clinical psychologist dari University of New South Wales dan hasil studi peneliti dari Universitas Texas, James Pennebaker, terungkap, diantara manfaat menulis adalah bagian dari terapi kejiwaan. Dengan menulis peristiwa-peristiwa traumatik, penuh tekanan serta peristiwa yang penuh emosi bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental.

Terlepas dari banyaknya pendapat atau pernyataan ahli tentang menulis,  secara umum menulis adalah sebuah aktifitas yang bisa dilakukan kapan dan dimana saja, menggunakan alat tulis apa saja (secarik kertas, buku, komputer, laptop, ponsel), oleh siapa saja (dosen, guru, mahasiswa, pelajar, karyawan, petani, buruh, dll) bukan monopoli penulis, wartawan atau para pakar.

Sehingga ada yang kemudian bermanfaat bagi orang lain seperti menulis artikel di media, menulis buku, menulis jurnal, menulis laporan dan sebagainya. Namun ada juga menulis yang tidak bermanfaat bahkan bersifat merusak seperti menulis yang menimbulkan keresahan pembaca seperti yang sifatnya hoax atau mencoret di dinding bangunan umum, halte, toilet, dan fasilitas umum lainnya dan tentunya yang terakhir ini tidak termasuk dalam kategori menulis.

PPL dan Dunia Penulisan

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), adalah salah satu profesi yang memberi peluang sangat besar bagi pelakunya untuk menjadi seorang penulis. Kementerian Pertanian melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 35/Permentan/OT.140/2009 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian dan Angka Kreditnya menjelaskan bahwa menulis atau membuat karya tulis itu hukumnya “wajib” bagi semua penyuluh.

Permentan ini memberikan peluang kepada para penyuluh untuk memperoleh angka kredit dengan jumlah yang sangat besar bagi penyuluh pertanian yang mau menulis atau menghasilkan karya tulis. Tentunya ini menjadi peluang yang sangat berharga bagi para penyuluh agar karirnya cepat “menanjak”.

Salah satu contoh kecil misalnya, dalam Permentan itu disebutkan seorang penyuluh pertanian yang mampu menghasilkan tulisan ilmiah di bidang pertanian dan disebarluaskan melalui media masa dalam bentuk naskah akan memperoleh angka kredit sampai dua. Itu sama artinya dengan melakukan penyuluhan secara konvensional (tatap muka) lebih dari 59 kali. Hitungannya satu kali melakukan penyuluhan tatap muka hanya akan memperoleh angka kredit 0,034.

Apalagi bagi mereka yang sudah mencapai jabatan penyuluh pertanian madya dengan pangkat Pembina (IV/a), sangat tidak dimungkinkan untuk naik ke jenjang pangkat yang lebih tinggi jika tidak pernah membuat karya tulis.

Dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : PER/02/MENPAN/2/2008 Tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian Dan Angka Kreditnya, BAB V Rincian Kegiatan dan Unsur Yang Dinilai Dalam Memberikan Angka Kredit pasal 14 mengatakan Penyuluh Pertanian Madya yang akan naik pangkat menjadi Pembina Tingkat I golongan ruang IV/b sampai dengan Penyuluh Pertanian Utama pangkat Pembina Utama golongan ruang IV/e diwajibkan mengumpulkan paling kurang 12 (dua belas) angka kredit dari kegiatan penulisan karya tulis ilmiah.

Meskipun demikian besar motivasi atau ‘iming-iming’ dengan angka kredit yang begitu besar, masih saja terlihat keengganan penyuluh untuk menulis. Kementerian sebagai sebagai ‘induk semang’ bagi penyuluh pertanian, sejatinya telah lama menyediakan wahana menulis bagi para penyuluh pertanian.

Sebut saja Tabloid Sinar Tani yang sudah beberapa tahun hadir di negeri ini adalah sebuah relasi media berbasis pertanian nasional yang efektif untuk ‘mewadahi’ karya tulis penyuluh pertanian. Namun sampai saat ini, penyuluh pertanian yang mau menulis di media ini masih dapat dihitung dengan jari.

Begitu juga dengan media pertanian lainnya yang diterbitkan oleh Kementerian Pertanian seperti Majalah Ekstensia dan Media Online Cyber Extension yang membuka peluang seluas-luasnya bagi penulis untuk menyalurkan tulisannya, juga masih ‘sepi’ dari tulisan penyuluh.

Tiga Sebab

Dari analisa penulis berdasarkan pengamatan terhadap aktifitas penyuluh, setidaknya ada tiga penyebab keengganan penyuluh untuk menulis. Pertama, penyuluh merasa tidak mampu atau kurang percaya diri untuk menulis, karena tidak atau belum pernah mencobanya.

Kedua, banyak penyuluh yang belum sepenuhnya familiar dengan teknologi informasi, sehingga merasa kesulitan untuk mengakses media yang bisa menjadi wahana mengirimkan tulisannya. Ketiga, minimnya minat baca dikalangan penyuluh, sehingga mengalami kesulitan untuk memperoleh referensi sewaktu akan mencoba menulis.

Adapun alasan kesibukan melaksanakan tugas sehingga tidak sempat untuk menulis, itu hanya alasan klise sebagai “pembenar” keengganan menulis. Sebab, banyak pekerja lain yang punya kesibukan lebih dari penyuluh, tetapi masih menyempatkan untuk menulis.

Namun, yang terpenting dari semua hal di atas, bahwa seandainya saja para penyuluh mau menyimak apa yang pernah diungkapkan Bahtiar Gayo, seorang wartawan senior Harian Waspada yang mengatakan bahwa “menulis itu seperti minum kopi, semakin dinikmati semakin membuat kecanduan”, tentu penyuluh tidak hanya akan terbiasa menulis, tapi juga akan bisa merasakan nikmatnya menulis.

 

Reporter : Abdul Aziz/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018