
Dies Natalis Polbangtan Bogor menegaskan smart farming sebagai kunci lompatan pertanian modern demi swasembada pangan berkelanjutan Indonesia.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor – Dies Natalis Polbangtan Bogor menegaskan smart farming sebagai kunci lompatan pertanian modern demi swasembada pangan berkelanjutan Indonesia.
Transformasi pertanian berbasis teknologi atau smart farming dinilai menjadi kunci utama dalam membawa sektor pertanian Indonesia melompat lebih maju sekaligus mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan.
Pemanfaatan teknologi digital, mekanisasi, hingga pertanian presisi diyakini mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing pertanian nasional di tengah tantangan perubahan iklim, alih fungsi lahan, serta meningkatnya kebutuhan pangan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Dies Natalis ke-8 Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor yang mengusung tema "Smart Farming sebagai Strategi Swasembada Pangan Berkelanjutan".

Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting itu diikuti akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi, penyuluh, hingga pemerhati pertanian dari berbagai daerah di Indonesia.
Seminar nasional tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan, hasil penelitian, sekaligus memperkuat kolaborasi antarlembaga dalam mempercepat penerapan inovasi teknologi pertanian di lapangan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa transformasi menuju pertanian modern merupakan langkah strategis yang harus terus dipercepat agar Indonesia mampu memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan.
"Pertanian Indonesia harus bergerak menuju pertanian modern yang berbasis teknologi, efisien, dan mampu meningkatkan produktivitas. Generasi muda pertanian harus menjadi pelaku utama dalam transformasi ini agar target swasembada pangan dapat tercapai secara berkelanjutan," ujar Amran.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan agar sektor pertanian mampu menjawab tantangan masa depan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menambahkan bahwa keberhasilan penerapan smart farming tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang mengoperasikan dan mengembangkannya.
Ia mengatakan perguruan tinggi vokasi pertanian memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi muda yang kompeten, adaptif, dan inovatif sehingga siap menghadapi perubahan sektor pertanian yang semakin modern.
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menilai sinergi antara dunia pendidikan, penelitian, pemerintah, dan dunia usaha menjadi fondasi penting dalam mempercepat hilirisasi inovasi pertanian.
"Perguruan tinggi vokasi harus mampu menjadi pusat inovasi dan pengembangan teknologi pertanian terapan. Melalui seminar nasional ini, hasil-hasil penelitian dapat didiseminasikan dan dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan sektor pertanian," katanya.
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, mengatakan Dies Natalis ke-8 menjadi momentum bagi institusi pendidikan vokasi tersebut untuk semakin memperkuat kontribusinya dalam mendukung program swasembada pangan nasional melalui pengembangan teknologi dan inovasi.
Menurut Yoyon, tema smart farming dipilih sebagai bentuk komitmen Polbangtan Bogor dalam menyiapkan sumber daya manusia pertanian yang mampu menguasai teknologi sekaligus menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan secara nyata di lapangan.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber nasional, yakni Prof. Dr. Sofyan Sjaf, S.Pt., M.Si., drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet., serta Dr. Ir. Andri Prima Nugroho, S.TP., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng. Ketiganya memaparkan berbagai perkembangan teknologi pertanian modern, mulai dari penguatan kelembagaan petani, kesehatan hewan, pemanfaatan teknologi digital, hingga pertanian presisi yang mampu meningkatkan efisiensi usaha tani.
Selain seminar utama, puluhan hasil penelitian dipresentasikan melalui sesi paralel yang terbagi ke dalam lima bidang kajian, yakni Agroekoteknologi, Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, Peternakan dan Kesehatan Hewan, Teknik Pertanian dan Biosistem, serta Penyuluhan Pertanian dan Komunikasi Pembangunan.
Berbagai penelitian yang dipaparkan menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan teknologi digital di sektor pertanian.
Mulai dari penggunaan Internet of Things (IoT), drone multispektral, blockchain, Enterprise Resource Planning (ERP), sistem monitoring tanaman, hingga mekanisasi pertanian terbukti mampu meningkatkan efisiensi produksi, mempercepat pengambilan keputusan, dan mendukung pengelolaan usaha tani yang lebih presisi.
Tak hanya aspek teknologi, para peneliti juga menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan petani, pemberdayaan kelompok tani dan kelompok wanita tani, peningkatan kompetensi penyuluh, serta keterlibatan generasi muda dalam pembangunan pertanian.
Seluruh aspek tersebut dinilai saling melengkapi agar inovasi yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi benar-benar diterapkan oleh masyarakat.
Dari seluruh hasil diskusi dan presentasi, seminar menghasilkan kesimpulan bahwa penguatan inovasi, digitalisasi, mekanisasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan empat pilar utama dalam mewujudkan pertanian Indonesia yang lebih produktif, efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Melalui Dies Natalis ke-8 ini, Polbangtan Bogor berharap hasil-hasil penelitian yang lahir dari kalangan akademisi dapat menjadi referensi bagi penyusunan kebijakan sekaligus mempercepat implementasi teknologi di lapangan.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dunia usaha, dan petani, transformasi menuju pertanian modern diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya swasembada pangan Indonesia yang berkelanjutan.