Saturday, 08 August 2026


Ini Alasan BPPSDMP Fokus Melatih Penyuluh demi Sukseskan PM-AAS

05 Aug 2026, 15:51 WIBEditor : Gesha

Keberhasilan PM-AAS ternyata tidak dimulai dari sawah, melainkan dari proses menyiapkan orang-orang yang akan mendampingi petani menerapkan teknologi modern.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Keberhasilan PM-AAS ternyata tidak dimulai dari sawah, melainkan dari proses menyiapkan orang-orang yang akan mendampingi petani menerapkan teknologi modern.

Transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan teknologi. 

Penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), digitalisasi, hingga berbagai inovasi budidaya tidak akan memberikan hasil maksimal apabila petani belum memahami cara menerapkannya secara tepat di lapangan. 

Berangkat dari kondisi tersebut, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian memusatkan perhatian pada penguatan penyuluhan dan pelatihan sebagai fondasi utama untuk menyukseskan implementasi Pertanian Modern melalui Advance Agriculture System (PM-AAS).

Strategi tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemerintah mewujudkan target penerapan PM-AAS pada lahan seluas 1 juta hektare. 

Dalam program ini, penyuluh pertanian tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai informasi, melainkan menjadi pendamping sekaligus penggerak perubahan pola budidaya petani agar mampu menerapkan teknologi secara utuh dari awal hingga akhir musim tanam.

Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi BPPSDMP, Saptorini, mengatakan arahan Menteri Pertanian menempatkan BPPSDMP sebagai ujung tombak dalam menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengawal implementasi PM-AAS di seluruh Indonesia. 

Karena itu, langkah pertama yang dilakukan adalah meningkatkan kapasitas penyuluh agar memiliki pemahaman yang sama mengenai konsep dan teknis pelaksanaan PM-AAS.

"Sebagaimana arahan Bapak Menteri Pertanian, BPPSDMP bersama seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) diberi tugas untuk melatih penyuluh melalui kegiatan Training of Trainers (ToT). Setelah mendapatkan pembekalan, penyuluh akan menjadi pendamping utama petani dalam menerapkan PM-AAS di lapangan," ujar Saptorini dalam Webinar Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS) yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT Pupuk Indonesia di Jakarta, Rabu (5/8).

Menurutnya, transformasi menuju pertanian modern tidak bisa dilakukan hanya dengan menyediakan teknologi. 

Yang jauh lebih penting adalah memastikan teknologi tersebut benar-benar dipahami, diterapkan, dan menjadi kebiasaan baru bagi petani. 

Di sinilah peran penyuluh menjadi sangat penting karena mereka merupakan pihak yang setiap hari berinteraksi langsung dengan petani di lapangan.

Oleh sebab itu, BPPSDMP memulai implementasi PM-AAS dengan memperkuat kompetensi penyuluh melalui pelatihan yang terstruktur. 

Dalam pelatihan tersebut, penyuluh tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga praktik penerapan budidaya modern yang nantinya akan diteruskan kepada petani melalui sekolah lapang, demonstrasi lapangan (demfarm), hingga pendampingan langsung di areal pertanaman.

"Setelah mengikuti ToT, penyuluh akan melatih petani di wilayah binaannya. Jadi transfer teknologi tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi langsung diterapkan bersama petani di lapangan," katanya.

Saptorini menjelaskan, penyuluh dalam program PM-AAS memiliki tugas yang jauh lebih luas dibandingkan pola pendampingan sebelumnya. 

Mereka mendampingi petani sejak tahap persiapan, mulai dari memastikan kesiapan lahan, benih, hingga sarana produksi. 

Selanjutnya, penyuluh mengawal proses tanam agar sesuai dengan standar budidaya PM-AAS, termasuk memastikan waktu tanam dilakukan secara serempak sehingga hasil produksi dapat lebih optimal.

Pendampingan tersebut tidak berhenti ketika benih selesai ditanam. 

Penyuluh juga bertugas memantau pertumbuhan tanaman, mengidentifikasi potensi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), memberikan rekomendasi apabila muncul kendala di lapangan, hingga mengevaluasi hasil panen. 

Dengan demikian, petani memperoleh pendampingan secara berkelanjutan selama satu musim tanam.

Menurut Saptorini, pola pendampingan seperti inilah yang menjadi salah satu pembeda PM-AAS dengan budidaya konvensional. 

Penyuluh tidak hanya datang memberikan penyuluhan, tetapi ikut mengawal penerapan teknologi agar benar-benar sesuai dengan rekomendasi.

Untuk mempermudah proses transfer pengetahuan tersebut, BPPSDMP juga telah menyusun Modul Pelatihan dan Pendampingan Budidaya Padi Metode PM-AAS. 

Modul yang diterbitkan melalui Pusat Pelatihan Pertanian itu disusun berdasarkan paket teknologi yang telah dikembangkan oleh para peneliti Kementerian Pertanian.

Modul tersebut menjadi pedoman nasional bagi seluruh penyuluh sehingga materi yang diberikan kepada petani memiliki standar yang sama. 

Mulai dari teknik pengolahan lahan, penggunaan benih unggul, sistem tanam, pemupukan berimbang, pengelolaan air, hingga pengendalian hama dan penyakit telah dirangkum dalam satu paket pembelajaran yang mudah dipahami.

"Modul ini menjadi acuan bersama sehingga penyuluh di berbagai daerah menyampaikan materi yang sama sesuai dengan standar teknologi PM-AAS," jelasnya.

Selain memperkuat materi pelatihan, BPPSDMP juga memastikan proses pendampingan terus berjalan melalui rapat koordinasi secara berkala. 

Mulai dari tingkat nasional, provinsi, hingga kabupaten, seluruh penyuluh dilibatkan untuk menyampaikan perkembangan implementasi PM-AAS di wilayah masing-masing.

Forum tersebut tidak hanya menjadi ajang pelaporan, tetapi juga tempat berbagi pengalaman serta mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi petani di lapangan. 

Dengan evaluasi yang dilakukan secara rutin, pemerintah dapat mengetahui sejauh mana teknologi telah diterapkan sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai kendala.

Dalam pelaksanaannya, pendampingan dilakukan menggunakan pendekatan hamparan.

Melalui metode ini, penyuluh mengawal kelompok petani dalam satu kawasan agar menerapkan teknologi budidaya yang sama.

Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif karena menghasilkan pertumbuhan tanaman yang lebih seragam sekaligus memudahkan pengendalian hama, penyakit, maupun pengelolaan air.

Tidak hanya penyuluh, BPPSDMP juga memperluas sasaran pelatihan kepada pelaku utama lainnya, seperti petani, kelompok tani, operator alsintan, operator drone, hingga Brigade Pangan.

Masing-masing mendapatkan materi sesuai kebutuhan sehingga seluruh pihak yang terlibat dalam PM-AAS memiliki kemampuan yang saling mendukung.

Materi pelatihan yang diberikan meliputi sistem tanam tabela dan pola tanam, pemupukan berimbang, pengelolaan air menggunakan metode Alternate Wetting and Drying (AWD), pengendalian gulma, pemanfaatan mekanisasi pertanian, hingga penggunaan teknologi digital. Seluruh materi dirancang agar mudah dipahami dan dapat langsung dipraktikkan oleh peserta.

Menurut Saptorini, keberhasilan PM-AAS tidak hanya bergantung pada tersedianya teknologi modern, tetapi juga pada kemampuan sumber daya manusia dalam memanfaatkan teknologi tersebut secara tepat.

Oleh karena itu, peningkatan kapasitas melalui pelatihan menjadi investasi jangka panjang untuk membangun pertanian Indonesia yang lebih maju.

BPPSDMP optimistis strategi tersebut mampu mempercepat adopsi PM-AAS di lapangan.

Dengan dukungan sekitar 37.558 penyuluh pertanian yang tersebar di seluruh Indonesia, proses pendampingan diharapkan berjalan lebih intensif sehingga setiap inovasi yang dikembangkan Kementerian Pertanian benar-benar dapat diterapkan oleh petani.

Di sisi lain, penguatan kapasitas penyuluh juga diharapkan mampu melahirkan petani yang lebih mandiri dalam mengambil keputusan budidaya. 

Penyuluh tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga membantu petani memahami alasan di balik setiap rekomendasi budidaya, sehingga perubahan yang terjadi tidak bersifat sementara, melainkan menjadi budaya baru dalam mengelola usaha tani.

Bagi BPPSDMP, inilah alasan mengapa penyuluhan dan pelatihan ditempatkan sebagai fondasi utama implementasi PM-AAS.

Ketika penyuluh memiliki kompetensi yang baik dan mampu mendampingi petani secara berkelanjutan, maka berbagai inovasi pertanian modern tidak lagi berhenti sebagai teknologi, tetapi benar-benar berubah menjadi praktik budidaya yang mampu meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta kesejahteraan petani Indonesia.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018