Senin, 26 Agustus 2019


THL-TBPP, Terus Berkarya di Tengah Banyak Kendala

09 Jan 2019, 14:26 WIBEditor : Yulianto

THL-TBPP terus berkarya meski tak bisa lagi menjadi PNS | Sumber Foto:Wahyuddin N

Keberhasilan pembangunan pertanian yang terasa di tingkat lapangan, tentu tak bisa dipisahkan dari kinerja penyuluh, termasuk THL TBPP

TABLOIDSINARTANI.COM, Hulu Sungai Tengah---Kebijakan pemerintah mengangkat CPNS jalur THL-TBPP layak diapresiasi. Namun aturan yang ada membatasi, hanya yang maksimal berusia 35 tahun masuk dalam kriteria, tentunya mengecewakan bagi penyuluh THL-TBPP yang tidak memenuhi kriteria umur tersebut.

Padahal kinerja mereka dapat dipertanggungjawabkan. Keberhasilan pembangunan pertanian yang terasa di tingkat lapangan, tentu tak bisa dipisahkan dari  kinerja penyuluh, termasuk THL TBPP. Upaya pengangkatan CPNS memang tak mudah, perlu pertimbangan dan payung hukum kebijakan mewujudkannya.

Namun hal itu mudah diwujudkan bila ada political will dan dorongan semua pihak yang peduli.  Apalagi kondisi semakin berkurangnya penyuluh akibat minimnya pengangkatan dan banyaknya yang pensiun, ditambah lagi meningkatnya program pembangunan pertanian di era revolusi industri 4.0, menyebabkan beban kerja penyuluh tak mudah. 

Jadi sangat beralasan apabila penyuluh yang ada lebih diperhatikan dan dikuatkan, agar keberhasilan pembangunan pertanian berlanjut dan meningkat. Wajar bila penyuluh THL-TBPP berharap mendapat perlakuan sama yang tidak dibatasi faktor usia.  Tak bisa dipungkiri status sebagai THL-TBPP menyebabkan perbedaan hak dengan ASN lain, sedangkan beban kerja yang diamanahkan sama.  Tak jarang kondisi ini menjadi kendala dan mempengaruhi kinerja.

Program pengembangan komoditas nasional seperti padi jagung dan kedelai, menunjukkan tingkat keberhasilan secara kolektif. Namun di sisi lain masih terdengar realisasi yang belum sesuai harapan.  Selain karena faktor mekanisme pengadaan yang rumit dan belum mengacu perencanaan. Faktor yang lain yang dominan adalah belum siapnya pelaku utama penerima program,, padahal telah didukung sekian bantuan. Proses penyiapan pelaku utama inilah yang menjadi tantangan utama penyuluh, termasuk THL-TBPP.

Helmawati, SP dan Marhani adalah THL-TBPP di BPP Kecamatan Batang Alai Utara (HST-Kalsel). Karena usianya lebih dari 35 tahun menjadikan mereka tak bisa mengikuti seleksi khusus CPNS THL-TBPP. 

Namun status sebagai THL-TBPP, tak menyurutkan kinerja mereka untuk terus berkarya. Program pengembangan jagung hibrida yang mereka dampingi belum menjadi pilihan menarik bagi banyak petani. Berbagai alasan diungkapkan petani, seperti, pasarnya sulit, harga murah, waktu panen lama, biaya produksi tinggi, dan lain sebagainya.

Tak Mudah Yakinkan Petani

Sebagai penyuluh, mereka memahami inilah realitas petani yang harus mereka kawal dan dampingi.  Dalam rangka meyakinkan petani, mereka turut serta membudidayakan jagung hibrida bersama petani maju.  Seringkali mereka mendapati nasehat, bahkan cibiran dari banyak petani yang memahami budidaya jagung hibrida merugikan. 

Namun Helmawati dan Marhani tak mempedulikannya. “Biarlah kami menanam jagung ini dulu. Kalau merugikan itu resiko, dan bapak-bapak silahkan lihat hasilnya nanti, ungkap mereka berdua.

Ketika masa panen tiba, dan keterbatasan alat panen dan pengering menyebabkan jagung dipanen secara manual dan dijual per tongkol.  Truk besar yang sengaja di datangkan ke desa membuat warga heboh, setelah negosiasi dengan pedagang pengumpul disepakati harga jagung Rp 2.200/tongkol.   

Jagung yang menggunung itu dimasukan ke dalam karung goni dan memenuhi bak truk, uang hasil penjualan diserahkan secara tunai dihadapan petani yang mencibir upaya mereka.  Dengan modal hanya Rp 500 ribu, sambil menyuluh dan merawat jagungnya, Marhani memperoleh pemasukan hingga Rp 2,5 juta.

Setelah menyaksikan sendiri dan mengetahui keuntungan budidaya jagung hibrida,  banyak petani yang meyesal tidak ikut menanam dan sangat berminat menanam pada musim berikutnya. 

Apa yang dilakukan Helmawati dan Marhani, kiranya layak dicontoh.  Selain kegiatan penyuluhan terlaksana, mereka juga mendapatkan pemasukan untuk tambahan honor dan BOP.  Bahkan Helmawati, SP terpilih mewakili THL-TBPP Kabupaten Hulu Sungai Tengah menghadiri pertemuan Koordinasi Penyuluh Nasional di Bogor, sebagai bentuk apresiasi kepada Penyuluh Pertanian berprestasi.

Semoga yang dilakukan para penyuluh dalam mendukung pembangunan pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani tak hanya mendatangkan materi, tapi juga mendatangkan pahala dan keberkahan. 

 

 

Reporter : Wahyuddin Noor (PP HST-Kalsel)
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018