
Matius petani milenial dari Merauke
TABLOIDSINARTANI,COM, Merauke---Kementerian Pertanian terus mengajak kaum milenial terjun ke dunia pertanian melalui program Pertanian Modern. Salah satu contoh yang kini mulai merasakan menjadi petani itu menyenangkan adalah Matius, petani muda berusia 21 tahun asal Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Banyak generasi muda menganggap dunia pertanian adalah pekerjaan dengan masa depan suram. Tapi Matius, justru berhasil membuktikan hal sebaliknya. Petani adalah pekerjaan dengan masa depan cerah. Ia berhasil meraup pendapatan hingga Rp 20 juta perbulan dari tugasnya sebagai operator mekanisasi (alat mesin pertanian) dalam menggarap lahan pertanian di Distrik Kurik, Merauke.
Saat kunjungan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ke lokasi optimasi lahan rawa di Kurik, Merauke, beberapa waktu lalu, Matius berbagi cerita. Dihadapan Mentan Amran, ia bercerita dengan menggunakan teknologi modern mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp15-20 juta bulan. “Per hektar, bisa menghasilkan Rp 1,25 juta. Kalau 3 hektar, bisa dapat lebih dari Rp3,6 juta,” tuturnya.
Matius adalah bagian dari petani milenial Kurik yang mengelola lahan hasil optimasi lahan rawa (oplah). Kementerian Pertanian bersama pemerintah daerah telah mengoptimasi 40 ribu ha lahan rawa di Merauke pada tahun 2024, sekitar 10 ribu ha berada di Kecamatan Kurik.
Pendapatan Matius menunjukkan sektor pertanian yang berbasis teknologi modern menjadi jawaban sebuah jawaban meningkatkan kesejahteraan petani. Pemanfaatan teknologi dan penggunaan alsintan bukan hanya meningkatkan produktivitas tanaman, tapi juga mendongkrak pendapatan petani.
“Saya bersyukur pendapatan saya dalam 1 bulan bisa mencapai kurang lebih Rp 20 juta perbulan. Pendapatan sebesar itu bisa bertambah kalau kita rajin dan mau bekerja secara optimal,” ujar Matius saat mengikuti apel brigade pangan bersama Menteri Pertanian di Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Matius mengakui, saat ini tanah kelahirannya sudah berubah jauh lebih baik. Bahkan Merauke sudah menjadi pusat ekonomi, terutama dari sektor pangan yang sangat menjanjikan. Karena itu, ia berharap, ada banyak anak muda di seluruh Indonesia terjun langsung membangun pertanian. “Kalau sudah ada traktor beres semua, karena satu hari saya bisa olah tanam 3 ha. Dari 1 ha, saya dapat Rp 1 juta lebih. Kalau 3 ha dapat Rp 3,6 juta,” tuturnya.
Bagi Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman keberhasilan Matius sebagai bukti nyata pentingnya teknologi dalam mendukung produktivitas petani. “Saya bangga dan terharu mendengar keberhasilan Matius. Kita harus bangunkan lahan tidur di Merauke, bangunkan para pemuda di Merauke. Saat ini Merauke sudah menyala, semangat swasembada pangan sudah ada di sini,” katanya.
Kementerian Pertanian saat ini memang terus mendorong transformasi pertanian dari tradisional menjadi modern. Program optimalisasi lahan ataupun cetak sawah harus menggunakan pendekatan berbasis teknologi yang holistik dari hulu hingga hilir.
“Kita tidak bisa hanya menggunakan cangkul untuk mengolah lahan 40 ribu ha. Tapi dengan traktor, semuanya bisa selesai dalam 3 bulan. Dari hulu ke hilir, semuanya harus menggunakan teknologi,” tuturnya.
Teknologi yang digunakan, seperti rice transplanter untuk penanaman, combine harvester untuk panen, hingga dryer dan gudang modern untuk pascapanen. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani. ”Jadi pendekatannya tidak boleh parsial,” tegasnya.