Sabtu, 19 Oktober 2019


Tatang Sukses Mekanisasi Budidaya Bawang Merah di Teras Sering Terindah di Dunia

26 Apr 2019, 10:38 WIBEditor : Ahmad Soim

Teras Sering Bawang Merah di Majalengka Jabar | Sumber Foto:Dok Ditjenhor

Karena keindahan teras sering kebun bawang merah Kelompoktani Tani Mandiri di Panyaweuyan, telah didaftarkan ke FAO sebagai teras sering terbaik dunia khusus kawasan bawang merah.

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Tatang dan 30 anggota petani bawang merah di Majalengka telah menerapkan mekanisasi dalam budidaya bawang merah dengan tetap menerapkan prinsip kelestarian lingkungan.

 

Karena keindahan  teras sering kebun bawang merah Kelompoktani Tani Mandiri di Panyaweuyan,  telah didaftarkan ke FAO sebagai teras sering terbaik dunia khusus kawasan bawang merah.

 

Tatang mengatakan olah tanah  untuk bawang merah dengan menggunakan cultivator  mampu memangkas 60% biaya tenaga kerja dan menekan ongkos produksi.

 

 Tatang (32 tahun)  tinggal di Ds. Sukasari Kidul Kec. Argapura, Kab. Majalengka – Jawa Barat, di lereng Gunung Argapura. Meski berpendidikan terakhir SMA, pola pikirnya melampaui rata-rata petani pada umumnya.  Tatang mampu menjadi penggerak bagi petani di daerahnya, dan bersama-sama petani lain mengembangkan sistem budidaya bawang di lahan miring dengan model konservasi terassering. Kini bukit Panyauweyan, Argapura terkenal di saentero tanah air bahkan luar negeri.

 

Kawasan bawang merah yang dia kelola seluas 50 hektar bersama sekitar 30 petani anggotanya, mampu menjadikan daerah tersebut sebagai percontohan pengembangan pertanian di lahan miring berwawasan lingkungan. Teras sering Panyaweuyan tersebut telah didaftarkan ke FAO sebagai terassering terbaik dunia khusus kawasan bawang merah.

 

Sebagai Ketua Kelompoktani “Tani Mandiri” yang memiliki 30 orang anggota, Tatang berusaha menjaga areal bawang merah seluas 50 hektar menjadi contoh bagi petani bawang merah dataran tinggi lainnya. 

 

Penangkar Benih

Tatang juga sebagai penangkar benih bawang merah. Kelompok yang dipimpinnya mampu menanam bawang merah 3 kali setahun dengan produtivitas yang dihasilkan mencapai 30 ton/ ha, jauh diatas produktivitas nasional. Dari jumlah tersebut jika diproses menjadi benih akan menghasilkan10 ton/ ha. Kelompoknya telah  memiliki gudang penyimpanan baik untuk menyimpan produk konsumsi maupun benih.

 

Selain menjaga warisan terassiring, Tatang dan anggota kelompoktaninya selalu berupaya meminimalkan penggunaan pestisida kimia.

 

Untuk meningkatkan pendapatan anggota kelompok,  lokasi kawasan yang menghampar dalam sau blok dijadikan lokasi wisata pertanian.

 

Tatang dan anggotanya telah menggunakan mekanisasi untuk olah tanah yakni dengan menggunakan kultivator. Menurutnya, mekanisasi mampu memangkas 60% biaya tenaga kerja mengolah tanah sehingga menekan ongkos produksi. Ongkos tenaga kerja manusia di daerahnya saat ini mencapai Rp 100.000 per HOK, itupun hanya sampai jam 12 siang.

 

Dengan keuletannya, Tatang juga mampu menjalin kemitraan pemasaran dengan berbagai perusahaan seperti PT. Tondang Raya Mada, PT. Cipta Karya Mandiri, PT. Sutmarindo dan PT. Muara Enim. Bawang merah verietas batu ijo dan Maja yang dikembangkannya mampu memasok pasar hingga Banyuwangi, Jawa Tengah, Bandung, Jakarta dan Temanggung.

 

Reporter : Dok Ditjenhor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018