
Banyak lahan baru jadi bengkokan tanah sia-sia? PERAGI punya formula agronomi agar sawah langsung subur, produktif, dan panen tahun pertama bisa dirasakan.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Banyak lahan baru jadi bengkokan tanah sia-sia? PERAGI punya formula agronomi agar sawah langsung subur, produktif, dan panen tahun pertama bisa dirasakan.
Pemerintah sedang menyalakan mesin penuh untuk mewujudkan swasembada pangan. Salah satu kunci utamanya? Cetak sawah baru yang benar-benar produktif, bukan cuma “bengkokan tanah” yang mubazir.
Strategi ini dibahas tuntas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kontribusi Agronomi untuk Pendayagunaan Lahan Cetak Sawah Menuju Swasembada Pangan Berkelanjutan” di Gedung Display BRMP Perkebunan, Bogor.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan sejak awal, Indonesia harus segera swasembada pangan dan tidak tergantung impor.
Pernyataan ini kemudian diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata oleh Menteri Pertanian Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, MP, yang menekankan bahwa pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, tapi instrumen strategis kedaulatan bangsa.
Wakil Menteri Pertanian Dr. Sudaryono menambahkan, semua pihak harus bahu-membahu agar ketahanan pangan terjaga, sekaligus memberikan martabat bagi petani.
Kunci dari semua ini adalah sawah, sebagai basis produksi padi dan penentu keberhasilan swasembada. Sayangnya, alih fungsi lahan, degradasi tanah, dan keterbatasan lahan subur menjadi tantangan nyata.
“Cetak sawah itu warisan generasi. Prosesnya nggak instan, jadi jangan gampang menyerah,” ujar Prof. Dr. Budi Mulyanto, Ketua Kehormatan HITI.
Pemerintah menargetkan 225.000 ha cetak sawah baru pada 2025. Dari survei mitra perguruan tinggi, tersedia sekitar 207.000 ha.
Namun, realisasi fisik baru mencapai 48.108 ha (21,38 persen) karena kendala teknis, administratif, dan sosial.
Plt. Dirjen Lahan dan Irigasi Pertanian, Dr. Ir. Hermanto, MP, menekankan percepatan lewat penambahan alat, tenaga, dan masukan agronomis ahli tanah.
Di sinilah agronomi berperan sebagai strategi utama. Agronomi, ilmu yang mempelajari interaksi tanah, tanaman, air, dan iklim, mampu mengubah lahan baru menjadi sawah produktif berkelanjutan.
Prof. Dr. Baba Barus, IPB University, menekankan pentingnya evaluasi lapangan yaitu ada cetak sawah yang berhasil, kurang berhasil, dan gagal.
Yang berhasil harus direplikasi, sedangkan yang kurang berhasil harus ditingkatkan produktivitasnya dengan teknologi tepat.
Sebagian besar lahan baru berada di kawasan suboptimal yaitu rawa lebak, pasang surut, atau lahan kering marginal.
Masalah seperti tanah asam, drainase buruk, dan retensi air rendah adalah hambatan klasik.
Solusinya? Teknologi agronomi adaptif, mulai dari ameliorasi tanah, pemupukan berimbang, varietas toleran, hingga pengelolaan air mikro. Tanpa langkah ini, lahan cetak sawah berisiko terbengkalai.
“Kalau agronomi tidak tepat, sawah baru bisa sia-sia,” kata Prof. Dr. Ir. Andi Muhammad Syakir, Ketua Umum PERAGI. Ini menegaskan bahwa strategi agronomi bukan opsional, tapi wajib agar cetak sawah benar-benar produktif.
Setiap lahan memiliki kendala spesifik yang berbeda-beda. Misalnya, lahan pasang surut rawan tergenang saat musim hujan, lahan rawa lebak memiliki tanah yang asam, dan lahan kering marginal sulit menyimpan air untuk tanaman.
Kondisi inilah yang menjadikan teknologi agronomi adaptif sebagai kunci keberhasilan cetak sawah baru.
Langkah-langkah praktis yang diterapkan antara lain: ameliorasi tanah untuk menurunkan keasaman dan meningkatkan kesuburan, pemupukan berimbang agar nutrisi tanaman optimal, penggunaan varietas toleran terhadap kondisi ekstrem, serta pengelolaan air mikro, seperti irigasi lokal atau saluran mikro yang efisien.
Ketika langkah-langkah ini dijalankan dengan benar, lahan baru tidak hanya siap untuk ditanami, tetapi juga mampu memberikan produktivitas tinggi dalam jangka panjang.
Namun, strategi agronomi yang sukses bukan hanya soal teori di atas kertas, melainkan implementasi nyata di lapangan.
Sebagai contoh, lahan rawa yang asam bisa diubah menjadi sawah produktif melalui kombinasi ameliorasi, pemupukan tepat, dan varietas toleran.
Lahan kering marginal dapat dioptimalkan dengan irigasi mikro dan teknologi pompanisasi, sehingga mampu menampung air sepanjang musim tanam.
Prof. Baba Barus menekankan pentingnya monitoring dan evaluasi berkelanjutan. Lahan yang belum berhasil harus segera diperbaiki sebelum ditinggalkan, dan teknologi terbaru diterapkan untuk meningkatkan produktivitas.
Dengan pendekatan ini, setiap hektare lahan baru benar-benar memberikan kontribusi nyata terhadap swasembada pangan berkelanjutan, bukan hanya sekadar tanah yang digarap tanpa hasil.