Sunday, 28 February 2021


Pengendalian Internal Pembangunan Prasarana dan Sarana Pertanian Diminta Maksimal

24 Feb 2019, 16:00 WIBEditor : Ahmad Soim

SPI di Ditjen PSP | Sumber Foto:Yanti E

Dirjen PSP Sarwo Edhi dalam kesempatan ini menegaskan bahwa Lingkungan Pengendalian yang kondusif akan berkontribusi besar dalam mewujudkan pembangunan prasarana dan sarana pertanian dengan tingkat akuntabilitas yang optimal.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -Direktorat Jenderal Prasarana dan Pertanian melaksanakan Rapat Koordinasi Tim Satuan Pelaksana Sistem Pengendalian Internal (SPI) dalam rangka mengawal pencapaian target kinerja Pembangunan Prasarana dan Sarana Pertanian serta peningkatan maturitas SPIP dalam mendukung kinerja Kementerian Pertanian TA. 2019M (23/3).

Pengendalian internal secara komprehensif sangat penting untuk  Target Kinerja tercapai dengan tingkat akuntabilitas yang optimal. Hal ini menunjukkan tingkat maturitas penyelenggaraan Sistem Pengendalian Internal (SPI) di lingkup Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian berjalan dengan baik.

Pada Tahun 2018, Kementerian Pertanian mencapai tingkat maturitas SPIP pada kriteria “Terdefinisi” dengan nilai 3,036 yang artinya Kementerian Pertanian telah melaksanakan praktek pengendalian internal dan terdokumentasi dengan baik.

Sebagai salah satu bentuk kepemimpinan yang kondusif, yang menjadi salah satu sub unsur penilaian maturitas SPI, hadir dalam pertemuan tersebut, Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian, Justan Siahaan dan Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Sarwo Edhi Wibowo.

Inspektur Jenderal Justan Siahaan mengatakan untuk mewujudkan maturitas penyelenggaraan SPIP di lingkup Kementerian Pertanian dalam rangka mewujudkan visi Kementerian Pertanian menjadi Lumbung Pangan 2045, maka diperlukan 3 tahap yang harus menjadi perhatian seluruh unsur yang terlibat dalam mewujudkan visi tersebut.

BACA JUGA:

> OKUS akan Jadi Lumbung Jagug Sumatera Selatan

> Cara Unik Petani Tanah Laut Panen Padi 2 Ribu Ha di Tengah Serangan Ulat Grayak

> Temuan Pemda Brebes tentang Pestisida di Sentra Bawang Terluas di Asia Tenggara


Pertama, Open mind by seeing with the fresh eyes, membuka wawasan dengan melihat secara langsung apa yang terjadi di lapangan khususnya para Pimpinan agar penetapan kebijakan langsung tertuju pada sasaran. 

Kedua, Open heart by sensing from the field, pada saat berada di lapangan, maka kita akan merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat petani, sehingga kebijakan yang ditetapkan betul-betul focus dan tepat sasaran

Ketiga, Open Will by presencing bonding to the source, menghadirkan diri dalam setiap permasalahan yang terjadi untuk mengoptimalkan keputusan yang diambil

Tahapan ini lanjutnya akan melahirkan aksi yang padu antara pemikiran, hati dan langkah (letting come, enacting, prototyping the new by linking head, heart and hand) tertuju pada capaian sasaran.

Konsep ini jelasnya harus dimiliki oleh Auditor berorientasi revolusi industri 4.0 yang harus menjadi problem solver, Tim Satlak SPI, dan seluruh pegawai pertanian, bila ingin mencapai target dengan tingkat penyimpangan minimal. Terlebih Ditjen PSP, sebagai salah satu faktor pendukung utama, dalam mawujudkan target tersebut khususnya dalam penyediaan lahan dan fasilitasi prasarana dan sarana lainnya kepada petani

Dirjen PSP Sarwo Edhy dalam kesempatan ini menegaskan bahwa Lingkungan Pengendalian yang kondusif akan berkontribusi besar dalam mewujudkan pembangunan prasarana dan sarana pertanian dengan tingkat akuntabilitas yang optimal.
 
Dalam kesempatan tersebut, Dirjen PSP meminta kepada para Eselon II yang hadir, harus maksimal dalam mengupayakan pengendalian di Direktorat yang menjadi tanggungjawabnya, khususnya dalam hal penegakan integritas, kepemimpinan yang kondusif, proses penyampaian informasi dan publikasi setiap kebijakan, gagasan, prosedur,  pelaporan harus dilakukan secara maksimal agar tidak terjadi salah persepsi.

Tak kalah pentingnya lanjut Sarwo Edhy adalah  proses bisnis setiap kegiatan harus teridentifikasi resiko dan analisisnya, aktifitas pengendaliannya dan yang terpenting adalah terdokumentasi dengan baik, mengingat masalah administrasi seringkali menjadi faktor utama terjadinya penyimpangan. 

Reporter : Yanti Ernawati
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018