
Unit Produksi Pupuk Organik Cair Elang Biru
TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA -- Penggunaan pupuk anorganik di petani ternyata sudah sangat mengkhawatirkan. Bahkan dampaknya kini banyak lahan yang kesuburannya makin menurun. Salah satu cara ‘menyehatkan’ kembali lahan pertanian adalah dengan menggunakan pupuk organik.
Hasil Sensus Pertanian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013, petani yang menggunakan pupuk anorganik mencapai 86,41%, sedangkan yang menggunakan pupuk berimbang (organik dan anorganik) hanya 13,5%. Sementara yang hanya organik 0,07%. Ini menunjukkan petani di kita lebih tertarik menggunakan pupuk anorganik.
Mantan Menteri Pertanian, Bungaran Saragih menilai, penggunaan pupuk anorganik hanya bermanfaat jangka pendek. Apalagi bahan baku pupuk tersebut berasal dari sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui. “Pengembangan pupuk organik sangat strategis dan mendesak baik dalam jangka pendek, menengah dan panjang,” kata Bungaran saat Forum Diskusi ‘Penggunaan Pupuk Organik, Hayati dan Pembenah Tanah untuk Meningkatkan Produktivitas-Padi Berkelanjutan’ di Jakarta, Rabu (27/2).
Bungaran mengakui, ada beberapa keunggulan penggunaan pupuk organik. Di antaranya, memperbaiki (menggemburkan) kondisi lahan pertanian, meningkatkan efisiensi pemupukan, menghasilkan produk organik yang berkembang pesat saat ini, serta meningkatkan kualitas fisik dan kimia lahan pertanian untuk landasan peningkatan produktivitas berkelanjutan.
“Tetapi perlu disampaikan dan dipertegas bahwa arah pemupukan organik, hayati dan pembenah tanah pada pokoknya adalah upaya mencapai keberlanjutan dalam peningkatan produktivitas dan mampu meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan bagi petani dan keluarganya,” tutur Bungaran.
Sementara itu Direktur Teknik dan Pengembangan PT Petrokimia Gresik, Arif Fauzan mengatakan, jika melihat ke belakang, maka sebenarnya petani di Indonesia jauh sebelum Revolusi Hijau telah mengenal penggunaan pupuk organik. Tetapi ketika pemerintah mencanangkan Revolusi Hijau, penggunaan pupuk organik berangsur-angsur terlupakan. Petani kemudian menggunakan pupuk kimia karena lebih praktis, harganya murah (subsidi) dan mudah didapat.
Namun persoalannya, bukan hanya masalah kesuburan tanah, penggunaan pupuk anorganik terutama N (Nitrogen) yang berlebihan juga menyebabkan perubahan iklim. Pada dasarnya N yang diserap tanah hanya 50%, sisanya menguap ke udara.
Arif menjelaskan, penggunaan pupuk anorganik yang berlebih tentu mempengaruhi kesuburan fisik, kesuburan biologi dan kesuburan kimia. Padahal idealnya kadar bahan organik di dalam tanah harus lebih dari 5%, populasi mikrobanya di dalamnya lebih dari 105 cfu/g bk, serta tersedianya unsur hara makro dan mikro. Dengan demikian akan didapat kesuburan tanah yang ideal.
“Sudah terbukti bahwa penggunaan pupuk anorganik terus-menerus dan berlebihan, kesuburan tanah menjadi berkurang karena C-Organik di dalam tanah rendah,” katanya. Karena itu, lanjut Arif. Beberapa produsen pupuk mulai membuat pupuk organik.
“Untuk meningkatkan kembali C-Organik di dalam tanah, pada tahun 2008, kami sebagai produsen pupuk mengeluarkan pupuk organik. Ke depan menyelamatkan manusia, lingkungan dan yang paling utama adalah mendapatkan profit yang jauh lebih baik,” tambahnya.



