Friday, 26 February 2021


Milenial Madiun Ini, Bangun Usaha Berbasis Limbah Pertanian

02 May 2020, 23:42 WIBEditor : Yulianto

Dwi Yulianto bersama anggota kelompok ternak | Sumber Foto:Dok. Dwi Yulianto

TABLOIDSINARTANI.COM, Madiun---Bukan rahasia lagi pandemi Covid-19 sudah sangat meluas di berbagai wilayah Indonesia. Mulai dari kota hingga desa semua melakukan kegiatan kewaspadaan terhadap virus mematikan itu.

Lalu bagaimana dengan aktivitas petani kita? Apakah mereka kemudian berhenti berkarya? Tentu tidak. Guna menyambung hidup dan demi ketersediaan pangan masyarakat, mereka terus berupaya tetap melakukan kegiatan agribisnis sesuai dengan potensi di wilayahnya.

Semangat petani ini sejalan dengan yang disampaikan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa sektor pertanian menjadi harapan, tulang punggung di tengah upaya Pemerintah dalam menanggulangi Covid 19. "Tanggung jawab penyediaan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia merupakan spirit bagi keluarga besar Kementerian Pertanian dan semua pelaku  pembangunan  pertanian," tegas SYL.

Seperti yang dilakukan Dwi Yulianto, petani muda dari Kecamata Wungu, Kabupaten Madiun. Sebagai Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mitra Handal, ketika membuat poktan tersebut, Dwi mempunyai visi dan sinergi mewujudkan sinergitas antara pertanian dan peternakan.

Sedangkan misinya, mengolah limbah pertanian untuk peternakan dan memanfaatkan pupuk kompos kandang untuk pertanian. Awal berdirinya Poktan Mitra Handal pada Maret 2019, yang fokus pada  produksi pakan ternak silase tebon jagung. Namun setelah kurang lebih 6-7 bulan berjalan baru meluaskan kegiatan dengan mengadakan ternak domba.

Seiring berjalannya waktu, team Dwi juga mengolah lahan pertanian. Bekerja sama dengan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan), Ngudi Waluyo di Madiun, Dwi bersama anggota kelompoknya mulai menggarap lahan untuk ditanami jagung, sebagian pakan ternak dan sebagian dipanen kering.

Untuk kebutuhan pemupukan jagung, 50 persen telah menggunakan pupuk kompos hasil buatan Poktan Mitra Handal sendiri. Untuk pemasaran pakan silase ternak, Dwi mengatakan, dipasarkan di wilayah karesidenan Madiun juga sampai ke Jember, Kediri, Lamongan, Sumenep, Nganjuk, Gresik, Bojonegoro.

“Saya juga menjual hingga ke Yogjakarta dan Purworejo, bahkan pernah sampai ke luar pulau yaitu Kalimantan,” ujarnya. Omset saat ini masih skala kecil kisaran Rp 15-20 juta/bulan, denga menghasilkan silase antara 5.000-8.000kg

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi  mengatakan di masa pandemi Covid19,  petani adalah pejuang untuk melawan Covid-19.  “Masalah pangan adalah masalah yang sangat utama, hidup matinya suatu bangsa. Pertanian tidak boleh berhenti apapun yang terjadi,” ujar Dedi.

Reporter : Harmoko/Yeni (BBPP KETINDAN)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018