Tuesday, 11 August 2020


Manisnya Peluang Usaha Pangan Olahan Ubi Jalar

06 Jul 2020, 15:41 WIBEditor : Yulianto

Brownies ubi jalar | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Untuk mengantisipasi resiko terjadinya krisis pangan yang muncul akibat pandemi Covid-19 dan potensi terjadinya kekeringan pada tahun 2020, pemerintah kembali mendorong gerakan diversifikasi pangan lokal.

Potensi pengembangan pangan lokal yang cukup menjanjikan adalah umbi-umbian, salah satunya ubi jalar. Ubi jalar memiliki prospek cerah karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan penghasil karbohidrat sebagai alternatif pengganti bahan makanan pokok beras.

Potensi produksi ubi jalar di Indonesia mencapai 2 juta ton/tahun dan menduduki 10 besar produk ubi jalar di dunia. Potensi ini sangat cocok untuk diversifikasi pangan lokal sebagai alternatif makanan pokok.

Widyaiswara BBPP Ketindan, Rivana Agustin mengatakan, manfaat ubi jalar adalah kaya vitamin A, mineral dan antioksidan serta dapat menangkal radikal bebas. Selain itu, ubi jalar juga dapat mencegah kanker dan serangan jantung karena kaya kandungan gizi antosianin, khusus ubi jalar ungu.

Sedangkan pada ubi jalar kuning atau orange mengandung kandungan betakaroten. “Dengankandungan itu, ubi jalar sangat berperan sebagai imunitas tubuh pada saat new normal sekarang ini,” kata Rivana Bertani on Cloud yang  disiarkan langsung melalui aplikasi Zoom, Live Streaming Facebook Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) serta Live Streaming Youtube Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan).

Menurut Rivana, sebagai makanan alternatif, ubi jalar ungu bisa diolahan menjadi brownis. Apalagi brownis sangat digemari masyarakat Indonesia, baik dari usia anak-anak hingga usia kakek/nenek serta berbagai kalangan.

Sementara itu Laila Nuzuliyah, widyaiswara BBPP Ketindan lainnya juga menilai peluang bisnis ubi jalar ungu sangat menjanjikan. Apalagi pengolahan ubi jalar ungu mudah diaplikasikan seluruh masyarakat Indonesia karena teknologinya sederhana. Bahan yang digunakan merupakan kearifan lokal pangan Indonesia. Yang utama ialah, dapat meningkatkan perekonomian keluarga dalam masa pandemi Covid-19,” katanya.

Salah satu peserta webinar, Ria Bustanul Arifin mengaku sangat tertarik dan ingin mendalami olahan ubi jalar untuk diaplikasikan dalam membuat brownies. Apalagi potensi brownis ubi jalar sangat tinggi, sehingga masyarakat dapat mengaplikasikannya guna meningkatkan kesejahteraan keluarga dan meyehatkan pastinya.

Seperti diketahui, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo  (SYL) seringkali mengatakan terutama dalam menghadapi wabah Covi-d19, bahwa pertanian tidak berhenti dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional serta meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia agar lebih baik. “Sektor pertanian memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan ekonomi nasional," ujar SYL

Hal ini sejalan arahan Menteri Pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, juga menegaskan bahwa pangan adalah masalah yang sangat utama. Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa.

Sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya. Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen.

Tuntutannya adalah petani harus berinovasi. Buat terobosan agar hadir produk-produk baru. Misalnya dengan membuat brownies dari pangan lokal. Ubi kita berlimpah dimana-mana,” tegasnya.

Kegiatan Bertani on Cloud ditutup Kepala BBPP Ketindan Malang, Sumardi Noor. Dalam arahannya Sumardi menyampaikan, pertanian merupakan sektor terbesar dan strategis yang sangat berperan pada masa pandemi Covid-19.

Bahkan menurut Sumardi, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengkampanyekan Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal pada Hari Krida Pertanian pada 28 Juni 2020. Slogannya, indah dan bahagia dengan pangan lokal dalam rangka upaya mendorong ketersedian dan konsumsi pangan yang seragam, berimbang dan aman agar ketahanan pangan tetap kokoh dan tangguh.

 

Reporter : Rivana A/Yeniarta (BBPP KETINDAN)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018