Sunday, 24 October 2021


Menu Sehat Pangan Lokal Djeng Dewi

05 Oct 2021, 19:12 WIBEditor : Yulianto

Dewi saat pameran produk pangan lokal di Kuningan City | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Masyarakat Indonesia banyak yang tidak bisa lepas dari konsumsi nasi. Padahal ada begitu banyak alternatif pengganti nasi sebagai sumber karbohidrat. Misalnya, nasi singkong dan nasi jagung.

Dibandingkan nasi putih biasa, nasi jagung mengandung lebih banyak nutrisi. Berkat kandungan gizi dalamnya, nasi jagung diklaim lebih sehat dan berkhasiat bagi kesehatan, bahkan dapat mengontrol kadar gula darah. Selain sebagai sumber energi, nasi jagung juga dapat mencegah pembentukan ginjal, menjaga kesehatan tulang dan membantu menjaga berat badan ideal.

Selain nasi jagung, sumber karbohidrat lainnya adalah singkong. Dalam 100 gram singkong, terkandung 160 kalori. Kalori tersebut paling besar didapatkan dari sukrosa. Kandungan nutrisi singkong terdapat karbohidrat 38,06 gram, protein 1,36 gram, lemak 0,28 gram dan serat 1,8 gram.

Adalah UMKM, Dewi wanita asal Ngawi ini mengolah jagung menjadi nasi jagung dan nasi singkong, serta bubuk tepung dari dua bahan dasar tersebut. Terbentuk 5 tahun yang lalu, produk pangan alternatif dengan merk dagang Djeng Dewi mudah ditemui di jejaring e commerce.

Dewi bercerita, produk olahan Djeng Dewi adalah tepung yang terbuat dari jagung dan singkong. Ide awalnya dari petani. Waktu itu singkong dan jagung harganya sangat murah. Bahkan kebanyakan jagung diolah sebagai makanan ternak. “Dari situlah muncul ide bagaimana kami bisa berinovasi dan mengedukasi untuk bisa dikonsumsi menjadi makanan sehat,” ujarnya.

Faktor lain yang mendorong Dewi membuat produk olahan dari singkong dan jagung adalah banyaknya kerabat yang memiliki sakit diabetes dan penyakit lainnya, sehingga kesulitan mengonsumi nasi. “Dari situ kami berinovasi. Apalagi bahan bakunya sangat mudah kami dapatkan di daerah kami sendiri, Ngrambe Ngawi,” tutur wanita berparas ayu ini saat ditemui Sinta di Kuningan City Mall

Dewi mengakui, masih mengolahan secara tradisional, belum pakai mesin. Untuk beras singkong, dirinya memproduksi sebanyak 600 kg. Sedangkan beras singkong hanya 10 kg karena prosesnya memakan waktu lama, perlu fermentasi sehingga  membutuhkan waktu yang lama.

Untuk pemasaran, Dewi mengaku masih banyak tantangannya. Namun ia berterima kasih kepada pemerintah yang membantu dengan ajang pameran pameran. Saat ini sudah dua kali berjalan, di Bekasi dan Kuningan City. “Kesulitan kami memang mengedukasi masyarakat untuk bisa mengonsumsi makanan sehat,” katanya.

Dewi berharap ke depan pemerintah dan semua aspek masyarakat kian paham pentingnya memanfaatkan pangan lokal, sehingga bisa dikembangkan sebagai pengganti nasi.

Pesan saya untuk generasi milenial, jangan lupa bahwa pangan lokal itu bisa diolah menjadi beragam makanan. Kita masih bisa kerenlah seperti dengan makan makanan lokal. Jangan ditinggalkan makanan asli bumi Pertiwi yang banyak tumbuh di Tanah kita tercinta ini,”  tuturnya.

dr. Karin Wiradarma, ahli gizi mengatakan, singkong memiliki indeks glikemik rendah, sehingga lebih aman buat penderita diabetes melitus. Dengan nilai kalori lebih besar, singkong bisa berperan sebagai pengganti nasi.

Kandungan karbohidratnya pun lebih tinggi, sehingga bisa memberikan pasokan energi yang lebih banyak, makan sehat tapi anti lemas plus tanpa takut gemuk, sehingga bisa mempertahankan kenyang lebih lama ketimbang nasi putih,” tuturnya.

Bonusnya lagi, kandungan vitamin C dalam singkong lebih tinggi. Jika dipasangkan dengan lauk pauk yang sehat. Apalagi dengan pengolahan yang tepat pula, efeknya bisa meningkatkan daya tahan tubuh.

Sementara nasi jagung merupakan makanan khas Indonesia timur yang terbuat dari jagung sebagai bahan dasarnya. Hanya saja, nasi berwarna kuning ini memanfaatkan jagung yang sudah tua atau disebut jagung pipil. Jagung sendiri merupakan salah satu sumber karbohidrat yang juga baik bagi tubuh dan kaya akan serat.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018