Sunday, 24 October 2021


Modal Rp 500 ribu, Darnius dan Istri Bangun Usaha Olahan Ikan

11 Oct 2021, 14:26 WIBEditor : Gesha

Darnius dan sang istri | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh -- Dari hasil ikan yang berlimpah, ternyata bisa diolah untuk memperoleh nilai tambah. Saat harga ikan anjlok dan dijual murah namun jika kita pandai mengolah tentu akan meningkatkan pendapatan dan ekonomi keluarga.

Inilah yang dilakukan Drs Darnius (60) pensiunan Dinas Pendidikan Aceh yang juga merupakan alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USK, Banda Aceh tahun 1985. Dirinya bersama isterinya Ida Hafni membuka usaha skala rumah tangga dengan berbagai produk pengolahan ikan, seperti keumamah (khas Aceh), abon, nugget, ekado dan lain sebagainya.

Menurutnya, untuk memproduksi hasil olahan diperlukan peralatan pendukung seperti freezer yang tersedia 4 unit dengan kapasitas 200 kg olahan ikan/unit. "Hasil produknya tersebut dalam waktu seminggu akan habis terjual," ujar Darnius.

Ide membangun usaha ini berawal dari hasil penelitiannya saat kuliah pembuatan dendeng ikan. Hasil uji pada 3 jenis diperoleh ikan yang rasa dan teksturnya sama seperti daging.

"Waktu itu, kami sesama mahasiswa Fakultas Perikanan Universitas Abulyatama Aceh memproduksi lagi untuk dijual. Namun karena tidak melanjutkan program S2 maka sejak tahun 2000 kami bersama suami buka usaha ini untuk menambah pendapatan keluarga, " tuturnya. 

Dirinya masih ingat, modal awal mereka membuka usaha hanya Rp 500 ribu dan digunakan untuk membeli ikan, pisau dan ember sedangkan penjemuran memakai anyaman daun kelapa. Pemberian merek dagang Unit Pengolahan Ikan Belia Jaya filosofinya walaupun baru tumbuh tapi harapannya tetap berkembang. 

Pada tahun 2018 setelah maju dan berkembang dapat bantuan perlalatan, para - para dan 4 unit freezer dari dinas dan instansi terkait. Sebelumnya hanya menggunakan coldbox sederhana. Kemudian UMKM nya mendapat suntikan dana CSR dari Telkom dengan suku bunga ringan 0,3 persen.

"Alhamdulillah dari sebagian usaha ini kami bisa membangun rumah dan memiliki 2 unit mobil. Namun untuk operasional lapangan kami minta bantuan becak motor untuk berbagi rezeki," ujarnya.

Sementara bahan baku ikannya diperoleh selain dari Lampulo, Banda Aceh dan Meulaboh juga ada yang dipesan dari Idi, Aceh Timur. Tujuan membangun usaha ingin memanfaatkan waktu luang dan menciptakan lapangan kerja bagi warga sekitar.

"Kalau sedang murah harga ikan tongkol dibeli Rp 350.000 per keranjang (33 kg). Tapi jika tidak musim harga ikan mencapai Rp 800.000/keranjang dan ini tidak menguntungkan dalam bisnis," sebutnya.

Waktu libur kerja hari Sabtu dan Minggu dirinya harus meracik bumbu sendiri, kemudian proses selanjutnya dilakukan oleh 8 pekerja. Upah pekerja dibayar Rp 80 ribu hingga Rp 110 ribu per hari.

"Pada saat harga ikan mahal kami order sampai ke Aceh Timur dan Aceh Barat. Walau keuntungannya sedikit, tapi kami senang bisa berbagi dan berupaya memenuhi kebutuhan konsumen," ungkapnya.

Pernah juga ada permintaan dalam jumlah besar dari Malaysia namun karena mereka ingin merubah merek, maka dibatalkan. Pihaknya juga bersedia bekerjasama dengan berbagai pihak baik dalam hal pemasaran maupun pelatihan dan bimbingan teknis.

Selama ini sejumlah mahasiswa USK, Akademi Perikanan dan Kelautan (APK), Unaya, Serambi Mekkah dan Abdya termasuk beberapa UMKM di Aceh. "Setiap selesai magang para mahasiswa diuji terlebih dahulu sebelum diberikan nilai," bebernya.

Pemasaran

Dirinya menuturkan pemasaran selama ini hanya untuk wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, tapi kalau ada pesanan untuk luar Aceh dapat menghubungi WA. 0813-6004-0278

Sebelum masa pandemi, dirinya biasa menjual ikan kambing - kambing untuk dendeng 200 kg, abon dan ikan kayu 50 kg/minggu. Sedangkan untuk proses frozen fish membutuhkan 40 kg ikan per minggu.

Pemasarannya dilakukan melalui Pasar Tani yang digelar Distanbun Aceh 4 kali per bulan. "Kami pernah memperoleh omsetnya hingga mencapai Rp 5 juta per minggu. Namun sekarang sudah menurun saat pandemi," kenangnya.

Ia mengharapkan kepada pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh agar dapat menggelar ajang pasar tani kembali dengan menerapkan protokol kesehatan. "Hal ini penting karena ajang tersebut sangat bermanfaat dalam mendongkrak UMKM lebih bergairah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi," ungkitnya. 

Namun karena kegiatan pasar tani tutup dirinya memasarkan secara online melalui akun Instagram @theyummy.id. Pihaknya juga bersedia diundang sebagai narasumber untuk memberi pelatihan dan motivasi dan tidak memasang tarif apalagi untuk anak SMA.

Pihaknya tak menampik ketika ada even Gemar Makan Ikan di Aceh Tengah juga turut dilibatkan untuk ajang promosi bagi masyarakat. 

"Niatnya membangun usaha untuk bisa membantu orang lain dalam hal mencipta lapangan kerja. Dengan membantu orang lain ada kepuasan batin," tutupnya mengakhiri.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018