
Penggilingan Padi Tertua di Batang Kuis
TABLOIDSINARTANI.COM, Batang Kuis --- Batang Kuis yang dikenal sebagai sentra perkebunan sejak zaman Belanda ternyata memiliki kilang/penggilingan padi yang modern pada masanya. Di usianya yang hampir 80 tahun, penggilingan padi yang saat ini dijalankan oleh generasi ketiga dari Thong Leng Seng terus bertahan ditengah makin menipisnya lahan pertanian.
Sejak zaman penjajahan Belanda, Batang Kuis yang berada di bawah Kesultanan Serdang Melayu, menjadi salah satu basis pertanian utama. Sebagai daerah pertanian, sektor Perkebunan Belanda telah memetakan Batang Kuis masuk zona perkebunan tembakau yang pada saat itu mendatangkan tenaga kerja dari pulau Jawa.
Dengan majunya perkebunan tembakau yang dikenal dengan tembakau Deli tersebut, pemerintah Kesultanan Serdang memberikan hak penggunaan lahan pertanian untuk bercocok tanam tanaman pangan seperti padi, jagung dan lain-lain dengan pola sistem jaluran. Dimana pada masa dorman atau istirahat lahan tembakau setelah panen, petani bisa menanami lahan dengan berbagai tanaman pangan.

Ditengah semakin majunya perekonomian Batang Kuis, selain penduduk Jawa yang datang sebagai pekerja perkebunan. Ada penduduk Tionghoa/Hokkian sehingga ada istilah Cina kebun sayur di desa Tanjung Sari.
Dengan keahlian berniaga masyarakat turunan Tionghoa, maka berdirilah pusat perniagaan di kota Batang Kuis yang secara umum pengusahanya turunan Tionghoa. Diantara adalah Ong Kho Thai atau lebih dikenal dengan nama Thong Leng Seng yang membuka usaha penggilingan padi secara mekanisasi modern ditengah masih sederhanya penggilingan pada pada masa itu.
Dengan penggilingan yang modern membuat proses penggilingan padi yang lebih cepat. Bila biasanya bila menggunakan penggilingan tradisional memakan waktu 2 sampai 3 hari, dengan penggilingan modern di tempat Thong Leng Seng padi yang di antar pagi, pada sore keesokan harnya sudah bisa diambil hasilnya.

Melihat peluang bisnis penggilingan padinya yang terbuka lebar, Thong Leng Seng juga membuka panggung hiburan rakyat yang berdampingan dengan kilang padi sebagai daya tariknya.
Letaknya usaha yang persis ditengah kota Batang Kuis, juga menjadi daya tarik warga dari 11 desa yang ada di Batang Kuis menggilingkan padinya ke kilang milik Thong Leng Seng tersebut.
Seiring berjalannya waktu, penggilingan padi Thong Leng Seng terus berkembang dan masih bertahan hingga sekarang. Sepeninggalan sang pemilik, penggilingan padi tersebut diteruskan oleh keturunan pertama yaitu Ong Kim Leng.
Ditanganya penggilingan padi semakin dikenal, bukan hanya oleh masyarakat Batang Kuis. Banyak masyarakat dari daerah sekitar seperti Kecamatan Percut Sei Tuan dan Pantai Labu yang datang untuk mengilingkan padi mereka disana.

“Usaha libur pada hari Jumat mengikuti pesan leluhur bahwa Batang Kuis penduduknya banyak beragama Islam maka untuk menghormati umat islam kita libur pada hari tersebut,” ungkap Ong Kim Leng (Hakim) generasi ke III yang saat ini melanjutkan usaha penggilingan padi.
Walaupun sudah semakin berkembang dengan pengembangan usaha pembuatan tepung sekam sebagai pakan ternak yang terbuat dari sekam padi, namun Hakim tetap mempertahankan sejarah penggilingan padinya dengan tidak merubah bentuk bangunan sehingga terlihat tua dan sederhana.
Melihat dengan semakin menipisnya lahan pertanian membuat pria 35 tahun ini mencoba untuk mengembangkan usahanya diluar sektor pertanian. Ayah dari Lois Marco Onny ini akan mengembakan usahanya dengan membuat supermarket modern lengkap dengan sarana hiburan di tempat usaha bioskop milik keluarga yang sudah tutup 30 tahun yang lalu.