Monday, 08 August 2022


Lewat Sirup Jahe, Parti Angkat Pontensi Desa Trayu

01 Aug 2022, 15:28 WIBEditor : Herman

Sirup Jahe Sido Makmur Dari Desa Trayu | Sumber Foto:Djoko W

TABLOIDSINARTANI, Ungaran --- Melimpahnya jahe emprit di desa Trayu menjadi berkah tersendiri bagi Maria Suparti. Pasalnya, bahan baku sirup jahe ini adalah modal utama dalam keberlangsungan usaha pembuatan sirup jahe yang dijalankannya.

Desa Trayu merupakan salah satu desa di lereng selatan gunung Ungaran, termasuk dalam kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Desa ini membawahi empat dusun yaitu Dusun Trayu, Wonosari, Gelaran dan Kalitumpang.  

Topografi wilayah desa yang berupa perbukitan dataran tinggi dengan suhu rata-rata mencapai 21° C dan tanah pegunungan yang subur,  membuat desa Trayu sangat cocok untuk dibudidayakan sayuran, kopi, aren dan empon-empon.

Untuk empon-empon, petani Trayu merasa cocok dengan membudidayakan tanaman jahe emprit (Zingiber officinale var. amarum). Tidak kurang dari separo penduduk Trayu menanam jahe yang juga dikenal dengan jahe putih kecil atau jahe sunti ini.

Ukurannya tidak terlalu besar, kira-kira punya panjang sekitar 6-30 cm dengan diameter 3-4 cm. Meski ukurannya tidak sebesar jahe merah atau jahe pada umumnya, namun jahe putih ini punya cita rasa pedas melebihi jahe yang lain.

Berdasar pengalaman Suparti membuat sirup jahe sejak tahun 2000, jahe emprit dan gula aren adalah bahan baku yang paling cocok untuk sirup jahe. Dan keduanya banyak dihasilkan di desa Trayu.

Berdiri Sendiri

Ide membuat sirup jahe datang dari seorang bidan desa yang bertugas didesa Trayu. Tepatnya pada tahun 2000, bidan desa melatih ibu-ibu PKK membuat sirup jahe. Tujuan adalah untuk menjaga kesehatan warga, agar terhindar dari penyakit flu.  Serta menambah nilai jual produksi jahe dan gula aren di desa tersebut. .

Dengan ilmu yang didapat dari pelatihan, Parti dan ibu-ibu PKK di Desa trayu membentuk kelompok belajar Putri Gunung dengan kegiatan pokok memproduksi sirup jahe.

Tiga tahun berselang, Parti mengundurkan diri dari kelompok Putri Gunung karena perbedaan visi antar anggota yang membuat usaha sirup jahe mengalami stagnan.

Sadar prospek menjanjikan dari sirup jahe, Parti bersama suaminya Andreas Budi Utomo memutuskan untuk berusaha secara mandiri memproduksi sirup jahe dengan merek “Sido Makmur”.

Lewat Bazar dan Pesanan

Biasanya Parti memproduksi sirup jahe sesuai pesanan, hanya sekali atau 2 kali setiap minggu. Setiap kali produksi ia membutuhkan 40 kg jahe emprit dan 40 kg gula aren untuk menghasilkan 32 botol sirup @ 500 ml.

Namun [ada saat covid 19 merajalela di tahun 2020 – 2021, permintaan sirup jahe Sido Makmur meledak, meningkat drastis. UMKM yang berada jauh di pelosok, yakni di RT 01/RW 01 dusun Trayu, desa Trayu dapat menjual rata-rata 800 botol sirup jahe setiap hari.

Ketika mengikuti bazar di Pasar Tani di halaman Distanbun Provinsi Jawa Tengah 22 Juli lalu, sirup jahe asli Sido Makmur termasuk barang yang laris manis dibeli pengunjung.

Seorang pembeli, mengatakan bahwa sirup jahe Sido Makmur memiliki rasa yang enak, manis dan hangatnya terasa bahkan ketika ditambah air agar tidak terlalu manis dan pedas.

Harga sirup jahe Sido Makmur yang bervariasi mulai dari RP 23.000 kemasan botol kaca 460 ml dan Rp 25.000 untuk kemasan jerigen plastic 500 dianggap pasntas oleh para pembeli pada bazaar tersebut.

Selain jahe emprit dan gula aren sebagai bahan baku utama, Parti juga menambahkan serai, pandan dan rempat-rempah lain agar citarasa sirup jahe Sido Makmur semakin mantab.

Dibantu 4 orang karyawan, Parti melayani pesanan yang datang dari banyak tempat.  Sama seperti sebelum pandemi. Penjualan produk sudah merambah ke kota-kota di Jawa Tengah bahkan ada permintaan dari Kalimantan.

Karena produk sirup jahe dirasa mempunyai prospek yang cukup bagus, Parti telah mengurus semua prosedur perijinan seputar peredaran produknya seperti PIRT dan label halal. “Sekarang mengurus IPRT gratis, label halal juga gratis,” katanya.

Namun Parti mengalami kegagalan ketika mendaftar hak paten untuk merek dagangnya pada tahun 2015. Sebab merek yang sama telah diajukan oleh pengusaha asal Semarang pada tahun 2013.

 

Sebagai pengusaha kelas UMKM, Parti sangat mengharapkan uluran tangan pemerintah untuk kelangsungan usahanya. Baik berupa pembinaan, bimbingan maupun perlindungan. 

Reporter : Djoko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018