Wednesday, 11 March 2026


Berawal dari Konservasi, Ai Awang Tekuni Bisnis Kopi

03 Oct 2024, 13:31 WIBEditor : Yulianto

Ai Awang, dari konservasi terjun ke bisnis kopi

TABLOIDSINARTANI.COM, Tangerang Selatan---Siapa pun bisa menekuni usaha pertanian. Meski selama ini lebih banyak verkecimpung pada dunia pendidikan, Ai Awang Hayati, sukses menjadi pengusaha kopi. Bahkan dirinya membawa kopi Sumedang melanglang buana ke mancanegara. Syaratnya, fokus pada usaha yang digeluti.

Bagi Ai Awang terjun ke dunia perkopian bukanlah sebuah kesengajaan. Pasalnya dirinya selama ini lebih banyak menekuni dunia pendidikan. Namun melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengajaknya ikut melakukan konservasi, membawa ia akhirnya menggeluti bisnia kopi. Bahkan membawanya terbang ke beberapa negara untuk mempromosikan kopi Sumedang.

“Sebelumnya saya bukan pelaku usaha pertanian, tapi pendidik. Karena ada LSM mengajak penghijauan di pegunungan Manglayang, Sumedang, saya kemudian berpikir untuk usaha kopi,” katanya kepada Tabloid Sinar Tani di sela-sela Perkebunan Indonesia Expo (BUNEX) 2024 yang berlangsung di ICE BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (12/9).

Ai Awang bercerita, saat kegiatan konservasi lahan di Gunung Manglayang, petani sedang panen kopi. Lalu, ia berpikir untuk mencoba usaha kopi dengan membeli sebanyak 1 kg kopi mentah dari petani. Kemudian di lokasi lembaga pendidikan yang dikelolanya tersebut, Ai Awang mencoba menjual kopi racikannya.

“Di lembaga pendidikan ada ruang kosong. Saya buat ruangan itu jadi tempat jualan. Kopi mentah yang saya beli dari petani lalu saya sangrai sendiri. Saya jual kopi yang siap minum, untuk anak-anak  yang kursus,” kata Ai Awang yang mengajar di lembaga kursus di Tanjung Sari, Sumedang, Jawa Barat.

Kopi hasil racikan Ai Awang tersebut ternyata banyak yang menyukai. Kelebihannya adalah kopi tersebut disaring sehingga ketika diseduh tanpa ada ampas. Bubuk kopi tersebut kemudian diberi merk Kopi Geulis. “Karena tanpa ampas, ternyata konsumen banyak yang ingin membeli Kopi Geulis,” ujarnya.

Selain Kopi Geulis, sebenarnya AI Awang yang mulai terjun ke dunia kopi tahun 2018 menjual beberapa merek kopi yakni Kopi Jujur dan Kopi Harmonis. Tapi dirinya mengakui, nama Kopi Geulis lebih ‘menjual’.  Sedangkan jenis Kopi Geulis ada yang Robusta, Arabika dan Liberica. “Jadi saya bisnis kopi ini tidak sengaja. Awalnya, ada program penghijauan memakai tanaman keras, salah satunya kopi,” ungkapnya.

Setelah mempelajari lebih jauh di hulu, Ai Awang  mengaku, kopi bukan sekadar tanaman konservasi seperti tanaman keras lain. Tapi ternyata ada manfaat lain yang lebih tinggi yakni nilai ekonomi bagi petani dan masyarakat sekitarnya. “Program konservasi saya lakukan juga sendiri, kebetulan banyak rekan di Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup yang menyediakan bibit kopi,” ujarnya.

Untuk ketersediaan bahan baku kopi, Ai Awang mengaku dirinya tidak memilik kebun sendiri. Karenanya, ia bermitra dengan petani, bukan hanya di Sumedang, tapi di sentra kopi lainnya di Jawa Barat. “Saya juga bekerjasama dengan komunitas petani kopi untuk pemberdayaan masyarakat,” katanya.

Jalan Ai Awang berbisnis kopi makin terbuka ketika dirinya berkesempatan mengikuti pameran. Mendapat binaan dari Ditjen Perkebunan. Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018