
Pernah terbayangkan minum kopi dicampur santan? Ternyata kini tren minum coconut latte tengah naik daun.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pernah terbayangkan minum kopi dicampur santan? Ternyata kini tren minum coconut latte tengah naik daun.
Coconut latte, bukan sekadar tren musiman, tapi telah menjelma menjadi fenomena internasional. Di China, tren ini bukan main-main.
Masyarakat Negeri Tirai Bambu berbondong-bondong mengganti susu sapi dalam kopi dengan santan kelapa.
Rasanya yang eksotis, tekstur creamy nya yang lembut, serta aroma tropis yang khas membuat coconut latte menjadi menu wajib di gerai kopi.
Luckin Coffee, perusahaan kopi terbesar di China, pada April 2021 meluncurkan menu coconut latte. Respon pasarnya ternyata fantastis.
Lebih dari 100 juta cangkir terjual hanya dalam tahun pertama. Angka itu terus melonjak hingga awal 2025, penjualan menembus 1,2 miliar cangkir. Angka yang membuat peta pasar kelapa dunia ikut berubah drastis.
Tak hanya Luckin Coffee yang menjadi pelopor, jauh sebelumnya ada HeyTea. Di musim panas 2020, perusahaan tersebut meluncurkan Coconut latte with Cereals sebagai bagian dari edisi terbatas musim panas.
Tak lama setelahnya, muncul Nayuki dan Lelecha ikut nimbrung meramaikan pasar coconut latte. Platform informasi minuman Kamen mencatat pada tahun 2022, ada 37 dari 40 brand minuman terpopuler di Tiongkok sudah mempunyai varian berbasis kelapa.
Tak main-main, laporan gabungan Meituan dan Kamen, jumlah gerai minuman bertema kelapa meningkat drastis sebesar 66% dibanding tahun sebelumnya. Menurut Zhou Weiming, Wakil Presiden Senior Luckin Coffee, alasan pemilihan kelapa cukup sederhana namun strategis.
Kelapa, khususnya dalam bentuk santan, sudah dikenal luas masyarakat Tiongkok. “Kami merancang coconut latte dengan tujuan untuk mengurangi rasa pahit dari kopi, karena sebagian besar konsumen kami memang tidak menyukai rasa pahit yang terlalu kuat,” ujarnya.
Selain itu, Zhou mengungkapkan, adanya pergeseran preferensi dikalangan konsumen muda. Banyak dari mereka yang dahulu gemar minum teh susu boba saat masih kuliah, kini mulai beralih ke kopi dengan tekstur lebih lembut ketika telah memasuki dunia kerja.
“Coconut latte rasanya lebih nikmat dibandingkan kopi berbasis susu pada umumnya,” katanya. Bagi mereka yang memiliki intoleransi laktosa, coconut latte bukan sekadar tren, tapi alternatif nabati ini menghadirkan kenikmatan tanpa rasa bersalah, tanpa kehilangan kelembutan tekstur dan cita rasa.
Meski bukan yang pertama mempopulerkan, Luckin Coffee berhasil menjadikan coconut latte sebagai fenomena yang memicu gelombang baru di industri minuman kopi.
Lantas bagaimana trend ini mulai menginvasi Indonesia? Klik Selanjutnya...