Wednesday, 26 February 2020


Gerpari, Solusi Pemenuhan Kebutuhan Pakan Ikan Sendiri

07 Feb 2020, 13:31 WIBEditor : Indarto

Pakan mandiri berbahan baku lokal produk pembudidaya ikan | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB KKP

Dengan Gerpari , pembudidaya mampu memenuhi kebutuhan pakan sendiri secara efisien dan berkualitas dengan harga yang terjangkau.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta— Pakan ikan menjadi kebutuhan penting dalam proses budidaya.  Melalui Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari) diharapkan setiap pembudidaya ikan mampu memenuhi kebutuhan pakan sendiri. Bahkan, dengan Gerpari yang ke depannya akan dikembangkan melalui kelompok pembuat pakan mandiri (Pokanri), bisa menjadi pilihan usaha masyarakat yang menjanjikan.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengatakan, dengan Gerpari , pembudidaya mampu memenuhi kebutuhan pakan sendiri secara efisien dan berkualitas dengan harga yang terjangkau.  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB)  juga komitmen mengembangkan kapasitas produksi pakan mandiri berbahan baku lokal yang dikembangkan sejumlah pembudidaya dan Pokanri.

“ Selain akan terus kita kembangkan produksinya,  pakan mandiri yang dihasilkan oleh pembudidaya saat ini telah memiliki kualitas yang tidak kalah jauh dengan pakan komersial,” kata  Slamet Soebjakto, di Jakarta, Jumat (7/2).

Slamet mengungkapkan, inovasi  formula pakan juga sudah banyak berkembang dengan penambahan silase, enzym dan penggunaan bahan baku lokal seperti Palm Karnel Milk (PKM) kelapa sawit, tanaman indigofera  atau maggot yang dikenal dengan Black Soldier Fly (BSF) berhasil meningkatkan efisiensi dan kualitas pakan. “Kami terus berupaya mendorong kelompok pembuat pakan ikan untuk menggunakan bahan baku lokal. Disamping itu, kelembagaan kelompoknya juga akan kami perkuat,” ujarnya.

Menurut Slamet, melalui program Gerpari,  pemerintah melalui KKP juga berperan dalam mengendalikan harga jual pakan mandiri serta menyediakan bantuan akses permodalan. Pastinya, harga pakan mandiri berbahan baku lukal ini di bawah harga pakan pabrikan. Rata-rata harga pakan mandiri berbahan baku lokal sebesar Rp 6.000-Rp 7.000/kg.

Gerpari  yang dikembangkan KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) sejak empat tahun silam, saat ini sudah dirasakan manfaatnya bagi pembudidaya ikan skala kecil. Gerpari saat ini tak sekadar memberi jaminan ketersediaan pakan ikan. Pakan mandiri berbahan baku lokal yang dikembangkan masyarakat ini sebagai bentuk lapangan kerja bagi mereka.

Lantaran, perkembangannya di masyarakat sudah cukup meluas, untuk mengendalikan sistem

mutu pembuatan pakan ikan,  pemerintah telah menerapkan sertifikasi Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik (CPPIB) ke setiap kelompok pembuat pakan mandiri. “Sertifikasi ini dilakukan sebagai upaya pencegahan terjadinya penyimpangan mutu pakan yang dapat merugikan konsumen,” ujar Slamet.

Data DJPB KKP menyebutkan, sampai tahun 2019 sebanyak 57 unit pembuatan pakan ikan mandiri telah mendapatkan sertifikat CPPIB. Dari jumlah tersebut,  sebanyak 25 unit produsen pakan ikan mandiri skala industri, 26 unit produsen pakan ikan mandiri skala kelompok dan 6 unit produsen pakan ikan mandiri di Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup DJPB KKP.

Menurut Slamet,  pada tahun 2020 KKP akan melanjutkan strategi pengembangan pakan ikan mandiri dengan memberikan dukungan kepada pembuat pakan ikan mandiri skala kecil berupa mesin dan bahan baku pakan. KKP juga akan dilakukan pembangunan pabrik pakan mandiri di sentra budidaya dan unit percontohan pakan alami.

Guna mempercepat pengembangan pakan mandiri di masyarakat, lanjut Slamet, KKP menggandeng  Asosiasi Pakan Mandiri. Kerjasama tersebut dilakukan  untuk memberikan pendampingan teknis dan formulasi pakan ikan kepada kelompok Gerpari pemula. Pendampingan juga  dilakukan bagi penerima bantuan mesin pemerintah serta melakukan pengembangan dan inovasi mesin pakan aplikatif yang mudah dari segi operasional dan perawatan.

Data DJPB KKP juga menyebutkan, sampai November 2019, total produksi pakan mandiri sudah mencapai 32.557 ton. KKP menargetkan ke depan kontribusi pakan mandiri terhadap kebutuhan pakan nasional akan lebih besar lagi. Dari total produksi pakan mandiri berbahan baku lokal tersebut,  kontribusinya terhadap kebutuhan pakan nasional  baru sekitar 17 persen.

Gandeng FAO

Guna mendorong produksi pakan mandiri di masyarakat, dan meningkatkan ketersediaan bahan baku alternatif yang berkualitas dan kontinyu, KKP telah membuka  kerjasama dengan FAO. Kerjasama dengan lembaga pangan dan pertanian dunia diharapkan  ke depannya mampu menghasilkan pakan mandiri bermutu tinggi.

“Kerjasama dengan FAO ini juga sangat penting  supaya pembuat pakan mampu menghasilkan pakan mandiri bermutu tinggi dengan  bahan baku yang mudah untuk didapatkan,” jelas Slamet.

Seperti diketahui,  KKP telah bertemu dengan perwakilan Organisasi PBB untuk Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) sebagai upaya mendorong inovasi penggunaan pakan alternatif untuk budidaya ikan menggunakan maggot atau yang dikenal dengan Black Soldier Fly (lalat tentara). Dalam proyek kerjasama "Supporting Local Feed Self-Sufficiency for Inland Aquaculture in Indonesia" pada tahun 2019, FAO juga telah berhasil memformulasi pakan ikan dengan menggunakan bahan baku PKM dengan hasil yang menggembirakan.

Menurut Slamet, dengan kerjasama tersebut  pihaknya akan menindaklanjuti dengan melakukan sosialisasi penggunaan pakan alternatif maggot serta formulasi pakan ikan berbahan baku PKM  ke pelaku pakan mandiri di daerah lain. Selain itu, rekomendasi dari FAO seperti pentingnya proses pengeringan dan penggilingan pakan diharapkan untuk diperhatikan kepada pelaku pembuatan pakan ikan mandiri.

“Tentunya kerjasama dan dukungan FAO kepada Indonesia dalam memajukan sub sektor akuakultur juga kami harapkan dapat terus terjalin dengan baik,” ujar Slamet.

Slamet Soebjakto juga mengatakan, untuk mendorong kelompok pembuat pakan mandiri (Pokanri), pihaknya  ke depannya akan mengembangkan kelompok khusus penyedia bahan baku pakan mandiri.   Penyedia bahan baku ini sangat penting ntuk menjaga kontinuitas usaha pabrik pakan mandiri yang dikembangkan sejumlah Pokanri.

“Karena itu, ke depannya harus ada kelompok khusus pemasok atau penyedia bahan baku pakan. Pokanri ini nantinya,  bisa membeli bahan baku pakan mandiri dari kelompok khusus penyedia bahan baku pakan tersebut.Apabila sudah ada kelompok pemasok bahan baku pakan, maka Pokanri bisa konsentrasi untuk membuat pakan mandiri yang diperlukan kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan),” papar Slamet.

 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018