Monday, 21 September 2020


Pelaku Usaha Didorong Tingkatkan Ekspor Perikanan ke AS

22 Jul 2020, 12:44 WIBEditor : Indarto

Komoditas udang | Sumber Foto:Biro Humas dan KLN

Persyaratan impor Amerika Serikat semakin ketat, baik dari unsur keamanan pangan (food safety) maupun dari unsur keberlanjutan (sustainability).

 

 


TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Ekspor produk perikanan menjadi salah satu harapan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Selain menciptakan devisa negara, peningkatan ekspor produk perikanan juga berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Tak berlebihan apabila pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong peningkatan ekspor produk perikanan ke Amerika Serikat (AS).

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, ekspor merupakan salah satu pendongkrak pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena ekspor memiliki keterkaitan langsung, terutama kepada nelayan, pembudidaya, pengolah, dan pemasar hasil perikanan.

" Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tetap bersatu dan bersama dalam menguatkan daya saing produk kelautan dan perikanan di pasar global. Kegiatan ekspor juga memiliki tantangan yang relatif besar dengan semakin ketatnya persyaratan dari negara tujuan dan adanya persaingan antar negara-negara eksportir produk perikanan," kata Edhy Prabowo, dalam sebuah webinar, di Jakarta, Rabu (22/7).

Menteri Edhy mengingatkan,  persyaratan impor Amerika Serikat semakin ketat, baik dari unsur keamanan pangan (food safety) maupun dari unsur keberlanjutan (sustainability). Sebagaimana tertuang dalam Food Safety Modernization Act, Seafood Import Monitoring Program, serta rencana pemberlakukan ketentuan impor baru yaitu terkait Marine Mammal Protection Act (MMPA), pemberlakuannya sangat ketat.

" Hal ini akan menjadi tantangan sekaligus peluang bagi eksportir produk perikanan.  Mengingat, Indonesia memiliki kebijakan yang sejalan dengan pemerintah Amerika Serikat dalam hal keamanan produk pangan dan keberlanjutan pengelolaan sumberdaya alam," jelasnya.

Data KKP menyebutkan, pada tahun 2019, Indonesia menempati urutan ke-11 eksportir produk perikanan di dunia dengan nilai sebesar 4,9 miliar dollar AS atau sekitar 3 persen pangsa pasar global. Sementara Amerika Serikat (AS) yang merupakan importir terbesar produk perikanan dunia, Indonesia menempati urutan ke-5 dengan nilai ekspor sebesar 1,9 miliar atau sekitar 8,2 persen pangsa pasar impor produk perikanan AS.

Menteri Edhy mengatakan, pihaknya memastikan akan terus berupaya mengembangkan sistem sertifikasi hasil tangkapan ikan, sistem ketertelusuran ikan, implementasi Seafood Import Monitoring Program (SIMP), implementasi logbook, serta  menjaga sumberdaya laut. Pemerintah di ataranya melalui konservasi sumberdaya perikanan, seperti mengurangi resiko kematian mamalia laut dalam kegiatan penangkapan ikan.

Dalam kesempatan tersebut, KKP mengapresiasi bantuan teknis yang selama ini diberikan pemerintah AS melalui USAID maupun organisasi lainnya dalam pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan dan pelestarian ekosistem laut." Kita diberkahi sumber daya alam, khususnya sektor kelautan dan perikanan dengan 6,4 juta km2 luas perairan dan 108 ribu km garis pantai," ujarnya.

Menteri Edhy mengatakan, dari kondisi geografis tersebut, Indonesia memiliki potensi lestari perikanan tangkap sebesar 12,54 juta ton/tahun. Potensi budidaya air tawar 2,83 juta Ha, budidaya air payau 2,96 juta Ha, dan budidaya laut 12,12 juta Ha.

Keunggulan sumberdaya tersebut, lanjut Edhy,  diharapkan dapat dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mendukung terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, berkepribadian dan berlandaskan gotong royong.

Berdasarkan data BPS Semester I tahun 2020, nilai ekspor Indonesia mencapai 2,4 miliar dollar AS atau meningkat 6,9 persen dibanding periode yang sama tahun 2019. Sedangkan suprlus neraca perdagangan semester I 2020 sebesar 2,2 miliar dollar AS, atau meningkat 8,3 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.

Pada periode yang sama, AS merupakan negara tujuan utama ekspor perikanan dengan nilai 977,8 juta dollar AS, atau 40,6 persen terhadap total ekspor perikanan. Angka tersebut meningkat  sebesar 16,2 persen dibanding periode yang sama tahun 2019.  Komoditas utama ekspor perikanan ke AS meliputi, udang, rajungan, tuna-cakalang,  tilapia, dan rumput laut. 

 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018