Sunday, 09 August 2020


Teknologi Resapan Biopori: Untuk Konservasi Tanah dan Air, serta Perbaikan Lingkungan Hidup (2)

25 Jul 2020, 08:16 WIBEditor : Ahmad Soim

Penentuan Lubang Biopori | Sumber Foto:Kamir R. Brata

Kamir R. Brata Innovator dan Motivator Teknologi  Resapan Biopori (e-mail: kamirbrata@gmail.com; HP: 087872381085)

 

TABLOIDSINARTANI.COM

Keunggulan LRB dan SPB

Salah satu sistem peresapan yang telah banyak dikenal untuk kawasan pemukiman adalah sumur resapan.  Sumur resapan dapat menampung air cukup banyak.  Banyaknya air yang tertampung dapat melunakkan tanah di sekitar dinding sumur; sehingga sebagian atau seluruh dinding sumur perlu diperkuat.  Bahan penguat dinding sumur itu sendiri sudah mengurangi dan menutup pori yang dapat dilewati air untuk meresap ke dalam tanah.  

Derasnya air yang terkumpul masuk ke dalam sumur juga dapat merusak tanah, sehingga sebagian volume sumur perlu diisi dengan bahan yang tidak mudah hancur seperti pasir, kerikil, dan ijuk. Bahan-bahan pengisi tersebut tidak dapat digunakan oleh organisme tanah sebagai sumber makanan, sehingga tidak akan terjadi aktivitas pembentukan biopori yang berperan mempercepat peresapan air ke dalam tanah. 

BACA JUGA:  Teknologi Resapan Biopori untuk Konservasi Tanah dan Air serta Perbaikan Lingkungan Hidup (1)

LRB memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan sumur resapan karena pembuatannya cukup mudah dilakukan, juga mempunyai beberapa manfaat, antara lain sebagai berikut: 

1. Pembuatan LRB dapat diterapkan di lahan sempit, serta tidak memerlukan tempat yang luas karena hanya berdiameter 10 cm dengan kedalaman kurang dari 100 cm.

2. LRB perlu diisi sampah organik, sehingga dapat bermanfaat untuk menampung dan mengomposkan sampah organik di dalam tanah.

3. Meningkatkan populasi dan aktivitas keaneka-ragaman hayati lebih dalam ke dalam tanah. 

4. Adanya sampah organik dalam lubang LRB dapat menghindari tertutupnya lubang oleh bahan tanah yang terangkut air, serta mencegah terjadinya penyumbatan pori oleh pertumbuhan lumut.

SPB dapat menggantikan saluran pembuangan air (SPA) yang biasa dibuat pada bangunan teras di lahan pertanian, dengan mengisikan sampah organik/sisa tanaman ke dalam SPA yang memancing biodiversitas tanah membantu mempercepat proses pengomposan dan pembentukan biopori yang dapat memperlancar peresapan air ke dalam tanah. 

Dengan demikian SPB dapat mempermudah pemanfaatan sisa tanaman melalui proses pengomposan setempat (in situ). Campuran kompos dan sedimen yang terkumpul di saluran dengan mudah dapat diangkat dikembalikan ke lahan pada saat pemeliharaan saluran bersamaan dengan penyiapan lahan untuk musim tanaman berikutnya. Pada tanah-tanah berdrainase buruk, SPB dapat dikombinasikan dengan LRB. 

 

3. Multi Manfaat LRB Untuk Perbaikan Lingkungan Hidup

Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, karena relatif mudah dilakukan serta dapat memelihara berlangsungnya proses-proses fisik, kimia, dan biologis yang melibatkan aktivitas keanekaragaman hayati dalam tanah (biodiversitas tanah). 

Penerapan LRB dapat mengakibatkan perbaikan lingkungan hidup melalui fungsinya untuk: (a) memanfaatkan sampah organik menjadi kompos yang dapat menyuburkan tanah dan tanaman penghijauan, (b) memperbaiki kondisi fisik dan kesuburan tanah pada ruang terbuka hijau, (c) mengurangi emisi gas-gas rumah kaca CO2 dan metan, (d) meningkatkan laju peresapan air dan cadangan air tanah,  mencegah terjadinya keretakan tanah yang menyebabkan longsor dan kerusakan bangunan, dan (e) mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria. 

 

a. Memanfaatkan Sampah Organik Menjadi Kompos 

Sampah rumah tangga terdiri dari 60-70% sampah organik.  Sampah organik merupakan sumber makanan (energi dan unsur hara) yang sangat dibutuhkan oleh biodiversitas tanah.  Bila sampah organik setiap rumah tangga dimanfaatkan untuk memperbaiki ekosistem tanahnya masing-masing, maka sampah non-organiknya dapat dengan mudah dimanfaatkan para pemulung untuk didaur-ulang dan dimanfaatkan kembali. 

Dengan demikian dapat memudahkan anggota masyarakat melakukan penanganan sampah dengan mengurangi volume (Reduce), memanfaatkan kembali sebagai bahan kompos (Reuse) di kaplingnya masing-masing, dan mendaur ulang sampah non-organik (Recycle) sebagai bahan baku industri; yang dikenal dengan sitem 3R di kavlingnya masing-masing.

Lubang resapan biopori (LRB) dibuat dengan menggali lubang vertikal ke dalam tanah. Diameter lubang yang dianjurkan 10 cm sampai kedalaman 100 cm atau tidak melebihi kedalaman permukaan air tanah (water table).  Pemilihan dimensi yang dianjurkan bertujuan untuk efisiensi penggunaan ruang horizontal yang makin terbatas dan mengurangi beban pengomposan.Tabel 1 menunjukkan bahwa LRB berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm hanya menggunakan permukaan horizontal 0,008 m2 menghasilkan permukaan vertikal seluas dinding lubang 0,31 m2, berarti memperluas permukaan tanah 40 kali yang dapat kontak langsung dengan bahan kompos. 

Volume sampah yang masuk tertampung dalam lubang maksimum 7,9 liter dapat mudah dijangkau biodiversitas tanah melalui dinding lubang, akan menimbulkan beban pengomposan yang rendah yaitu 25 liter/m2 atau setara dengan mengomposkan sampah setebal 2,5 cm. Perluasan permukaan tanah akan menurun dan beban pengomposan akan meningkat dengan peningkatan diameter lubang.  

Sebagai contoh bila diameter lubang 100 cm mendekati diameter sumur, beban pengomposan meningkat menjadi 250 liter/m2 atau setara dengan mengomposkan sampah setebal 25 cm Peningkatan beban pengomposan mengakibatkan penurunan laju pengomposan karena terlalu sedikitnya kontak langsung tanah sekeliling dinding lubang dengan bahan kompos.  Hal ini mengakibatkan berkurangnya akses biodiversitas tanah untuk menjangkau bahan kompos, serta terhambatnya proses penyesuaian keseimbangan kelembaban dan suhu tanah dan bahan kompos.

LRB dapat membantu mempermudah pemasukan sampah organik ke dalam tanah meskipun pada permukaan yang tertutup lapisan kedap. Kumpulan sampah organik yang tidak terlalu banyak dalam lubang silindris akan menjadi habitat yang baik bagi fauna tanah terutama cacing tanah yang memerlukan perlindungan dari panas matahari dan kejaran pemangsanya. Di dalam LRB mereka memperoleh makanan, kelembaban dan oksigen yang cukup.  

Fauna tanah dapat memproses sampah tersebut dengan mengunyah (memperkecil ukuran) dan mencampurkan dengan mikroba tanah yang secara sinergi dapat mempercepat proses pengomposan secara alami.  Mudahnya pemanfaatan sampah organik untuk menyuburkan tanahnya masing-masing, diharapkan terjadi perubahan kebiasaan untuk memisahkan sampah organik dan non-organik. Sampah organik segera dimasukkan ke dalam LRB, sedangkan sampah non-organik yang sudah terpisahkan dapat disumbangkan kepada pemulung. 

Bila setiap rumah tangga dapat memanfaatkan sampah organiknya masing-masing, sekitar 60-70 persen volume sampah domestik rumah tangga tidak perlu diangkut.  Sisanya sekitar 30-40 persen berupa sampah tidak lapuk akan dimanfaatkan para pemulung untuk bahan industri daur ulang. Dengan demikian LRB akan menjadi alternatif teknologi pengelolaan sampah domestik yang paling dekat dengan sumber sampahnya; sehingga dapat mengurangi ongkos dan alat pengangkutan serta kebutuhan lahan untuk TPS dan TPA.

 

b. Memperbaiki Kondisi Fisik dan Kesuburan Tanah Ruang Terbuka Hijau.

Sampah organik yang dimanfaatkan untuk mengisi LRB dapat menarik biodiversitas tanah masuk ke dalam lubang untuk memperoleh tempat perlindungan dari kejaran pemangsanya. Dengan kondisi suhu, kelembaban dan sumber makanan yang cukup dari sampah organik di dalam lubang, biodiversitas tanah dapat berkembang biak. Aktivitas fauna tanah seperti cacing tanah bekerja membentuk biopori dan menghasilkan kotoran cacing (casting) yang dapat memperbaiki struktur dan kesuburan tanah lebih dalam, sehingga dapat memperdalam zone perakaran tanaman dan pohon penghijauan.

Perbaikan struktur dan kesuburan tanah dapat mempercepat perkembangan akar di dalam tanah yang  dapat meningkatkan pembentukan biopori. Peningkatan pembentukan biopori dapat memperluas ruangan yang dapat dihuni oleh biodiversitas tanah. Peningkatan biopori dapat memperlancar laju peresapan air dan udara ke dalam tanah, sehingga proses pengomposan terjadi secara aerobik (cukup oksigen). 

Kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah pada ruang terbuka hijau bagi berbagai jenis tanaman, seperti pepohonan, tanaman hias, tanaman obat, sayuran, dan jenis tanaman lainnya. Akar tanaman dapat menembus tanah lebih dalam sehingga pohon tinggi tidak mudah tumbang; serta dapat menghindari kerusakan oleh pertumbuhan perakaran pohon menembus pondasi atau mengangkat permukaan.

 

c. Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca CO2 dan Metan

Sampah organik merupakan sumber karbon yang dihasilkan melalui fotosintesis. Bila dibuang di atas permukaan tanah seperti yang dilakukan dalam penanganan sampah melalui pengumpulan sampah di tempat pengumpulan sementara (TPS) dan dalam tumpukan besar di tempat pemrosesan akhir (TPA), akan meningkatkan emisi gas-gas rumah kaca seperti CO2 dan metan.  

Peningkatan emisi gas-gas rumah kaca ke atmosfir dianggap merupakan penyebab utama pemanasan global (global warming) yang telah memicu terjadinya perubahan iklim global (global climate change).  Dampak negatif  perubahan iklim global ini telah dirasakan dengan makin sering terjadinya anomali iklim seperti gejala El Nino, La Nina, peningkatan intensitas hujan, serta perubahan cuaca yang sulit diprakirakan.

Pembuatan LRB pada setiap jenis penggunaan tanah dapat mempermudah pemanfaatan sampah organik dengan memasukkannya ke dalam tanah. Dengan demikian setiap pengguna lahan dapat memfungsikan tanahnya masing-masing sebagai penyimpan karbon (carbon sink) untuk mengurangi emisi karbon ke atmosfir.  

Karbon yang tersimpan di dalam tanah dalam bentuk humus dan biomasa dalam tubuh beraneka ragam biota tanah tidak mudah diemisikan. Perbaikan struktur dan kesuburan tanah dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman sebagai pengguna/penyerap karbon dari atmosfir.  Supaya karbon yang tersimpan dalam biomasa tanaman dapat berdaur dengan sempurna melalui rantai makanan (food chains) dan jejaring makanan (food webs) diperlukan keterlibatan aneka ragam biota termasuk biota yang hidup di dalam tanah.  Pengurangan emisi karbon dari dalam tanah dan penyerapan CO2 oleh tanaman dari atmosfir akan dapat mengurangi efek rumah kaca yang dapat menyebabkan pemanasan global.

 

d. Meningkatkan Laju Peresapan Air dan Cadangan Air Tanah

Berkurangnya ruang terbuka hijau menyebabkan berkurangnya permukaan yang dapat meresapkan air ke dalam tanah di kawasan pemukiman.  Peningkatan jumlah air hujan yang dibuang karena berkurangnya laju peresapan air ke dalam tanah; akan menyebabkan banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.  

Peresapan air hujan yang efektif perlu dilakukan untuk mengurangi aliran permukaan serta untuk memelihara kelembaban tanah, dan menambah cadangan air tanah.  Dengan demikian dapat mencegah terjadinya keretakan tanah yang memicu terjadinya longsor, serta dapat mencegah keamblesan tanah (subsidence) karena kosongnya pori tanah akibat penyedotan air tanah yang berlebihan.  Peresapan air hujan yang efektif juga dapat mencegah terjadinya banjir yang dapat mengangkut bahan organik, unsur hara, pupuk, dan lapisan tanah yang subur melalui erosi.  

Peresapan air ke dalam tanah dapat diperlancar oleh perluasan bidang resapan (dinding lubang), rendahnya beban resapan dan adanya biopori yang dapat diciptakan oleh fauna tanah dan akar tanaman. Beban resapan adalah perbandingan antara volume air dengan luas dinding lubang yang dapat meresapkan air.  Beban resapan LRB dengan diameter lubang 10 cm sedalam 1 m adalah 25 liter air/m2 permukaan resapan. 

Beban resapan meningkat dengan bertambahnya diameter lubang (Tabel 1).  Pemanfaatan sampah organik ke dalam lubang sangat berguna untuk melindungi permukaan dinding dari penyumbatan pori oleh lumut dan pengendapan sedimen halus. Lubang yang terisi sampah organik merupakan habitat bagi berkembang-biaknya biodiversitas tanah karena tersedianya cukup sumber makanan, kelembapan dan oksigen bagi biodiversitas tanah.  Peningkatan populasi dan aktivitas makro-organisme tanah dapat terus bekerja membentuk biopori yang menjadi saluran untuk kelancaran peresapan air dan pertukaran udara (aerasi) di dalam tanah. 

Pada tanah yang telah rusak di mana lapisan atas tanah (top soil) tipis atau sudah hilang oleh erosi, LRB dapat membantu mempercepat laju peresapan air ke dalam lapisan bawah tanah (sub soil) yang relatif padat, serta memudahkan pemasukan bahan organik ke dalam tanah.  Dengan peresapan air yang lancar dan perbaikan kondisi subsoil oleh aktivitas biota tanah serta penambahan bahan organik, maka akar tanaman akan berkembang lebih dalam untuk memanfaatkan air dan unsur hara dari daerah perakaran yang lebih luas, berarti dapat mengurangi kegagalan penanaman akibat kekeringan atau kelebihan air. 

Peresapan air hujan yang efektif ke dalam tanah selain dapat menghindari terjadinya banjir yang sangat merugikan, mengakibatkan hilangnya harta benda bahkan nyawa manusia, serta menimbulkan kerusakan sarana dan prasarana yang dapat mengganggu kegiatan perekonomian. Peresapan air hujan juga dapat meningkatkan cadangan air tanah sebagai sumber air yang dibutuhkan oleh semua kehidupan baik yang hidup di dalam tanah maupun yang hidup di atas permukaan tanah. 

Cadangan air tanah yang cukup sangat penting untuk menjaga kelembaban tanah pada musim kemarau. Menjaga kelembaban tanah penting untuk menghidari terjadinya keamblesan tanah dan retaknya massa tanah yang dapat mengakibatkan kerusakan bangunan dan longsor. Di kawasan dekat pantai pengurangan cadangan air tawar dapat mengakibatkan intrusi air asin yang dispersif dan korosif, memicu keamblesan tanah yang menyebabkan banjir rob pada saat pasang air laut dan kerusakan konstruksi yang diperkuat bahan metal. 

Peresapan air ke dalam tanah merupakan upaya konservasi air yang efektif untuk menghindari kehilangan air melalui penguapan, berarti dapat memelihara kuantitas cadangan air tanah.  Air yang meresap ke dalam tanah dapat melarutkan mineral yang menyehatkan, menjadi sumber mata air bagi sungai, danau dan badan air lainnya; serta tidak mengangkut sedimen dan bahan organik yang mencemari kualitas air serta dapat mencemari dan mengurangi daya tampung badan-badan air.  

e. Mengatasi Masalah Akibat Genangan

Berkurangnya atau rusaknya biopori di dalam tanah dapat mengakibatkan berkurangnya laju peresapan air. Pada tanah terbuka yang terkena sinar matahari, permukaan tanah akan ditumbuhi lumut yang dapat menyumbat pori, sehingga air tidak dapat meresap ke dalam tanah. Air yang tidak meresap kedalam tanah akan menjadi genangan di atas permukaan tanah, biasanya terjadi pada cekungan atau saluran yang secara terus menerus mendapat tambahan air.  Pada keadaan tergenang ketersediaan oksigen sangat kurang, apalagi bila pada genangan terkumpul bahan organik.  Pada keadaan kurang oksigen (anaerobik) biopori tidak akan terbentuk karena fauna tanah yang mampu membentuk biopori perlu oksigen yang cukup.  

Genangan air yang terus menerus merupakan habitat yang baik bagi berkembang-biaknya berbagai jenis nyamuk, termasuk nyamuk yang menjadi pembawa penyakit menular seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan sejenisnya; serta seringkali menyebabkan bau busuk yang mencemari udara. Bila permukaan air bebas berada dalam tanah, genangan air dapat dicegah dengan meresapkannya ke dalam tanah.  LRB dapat dibuat untuk meresapkan genangan air akibat penyumbatan permukaan dan berkurangnya biopori di dalam tanah. 

(Bersambung)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018