Sunday, 11 April 2021


Balada Peuyeum Cianjur

26 Feb 2021, 19:14 WIBEditor : Yulianto

Mang Niam, pedagang peuyeum Cianjur | Sumber Foto:Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Mang Nian tidak yakin orang Karawang bisa bikin tape singkong sebagus yang dibikin orang Cianjur. Itu berdasarkan pengakuan pedagang tape singkong yang biasa berkeliling sekitar Kompleks Perumahan Kementerian Pertanian di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

"Ini diambil diambil dari pemasok orang Cianjur, Pak. Peuyeumnya bagus, empuk, putin dan manis," ujarnya promosi. Menurut dia, yang dijual di pingir jalan sekitar Karawang, Cikampek sampai Subang juga peuyeum asal Cianjur.

Rupanya Cianjur tidak hanya terkenal tauco dan manisan yang memenuhi toko oleh-oleh di lokasi sekitar Kota Cianjur. Tetapi juga ekspornya merambah ke luar kota dengan menawarkan kualitas yang bersaing.

Peuyeum yang dijajakan Mang Niam memang terbilang bagus, dipotong seragam, bersih, putih tanpa bercak dan rasanya enak. Lembut, dan kalau digoreng dengan api kecil, warnanya kuning merata, menghasilnya sensasi rasa manis yang melekat di lidah. 

"Singkongnya bagus, dan terutama barangkali cara membuatnya istimewa oleh orang yang berpengalaman membuat tape, Pak Haji. Saya sendiri belum bisa membuat peuyeum sebagus ini," akunya jujur.

Mang Nian itu langganan yang selalu memanggil saya Pak Haji. Panggilan netral tanpa harus menyebut nama. Bagi sebagian orang memanggil nama sama orang lebih tua adalah pantangan (aneh ya, buat apa punya nama?).

Mang Nian yang sampai sekarang menikmati betul menjadi penjaja peuyeum itu, keluarganya tinggal di Karawang di sekitar Pantai Wisata. "Tak jauh dari lokasi kecelakaan pesawat," katanya seakan mengerti bahwa saya tak begitu paham dengan lokasi yang dia ceritakan.

Umurnya tak jauh dari 50 tahun, tapi anaknya sudah kawin dan punya cucu. Dari dua anaknya, satu orang sudah berkeluarga dan memberinya cucu. Sedangkan yang terkecil baru saja terkena musibah kecelakaan motor.

"Habis 75 juta rupiah, Pak. Kami sekeluarga bergotongroyong membayar biaya perawatan. Masih untung anak saya tidak cacat berat. Tapi sampai sekarang dia masih susah diajak bicara, katanya, masih dengan suara tegar.

Penghasilannya yang pas-pasan dan tidak pasti itu dihadapkan pada tanggungjawab yang sangat besar. Ia tidak hanya harus memenuhi kebutuhan sandang pangan keluarga, tetapi masih harus menanggung biaya kesehatan yang biayanya berkali-kali lipat penghasilannya sebulan.

Penghasilan Mang Nian yang sekitar Rp 100-150 ribu per hari itu memang tidak besar, tapi dia sangat bersyukur. Dari sisa membayar uang sewa kontrakan sebesar Rp 1,5 juta yang berpatungan dengan 6 orang kawannya itu, ia bisa membawa pulang uang untuk menghidupi keluarga tiga hari sekali.

Tanaman singkong yang sudah jadi bahan pangan sejak jaman dulu itu, mempunyai rantai industri yang panjang, baik melalui pengolahan dan pemasaran moderen maupun tradisional. Jutaan tenaga kerja di Indonesia terlibat dalam kegiatan ekonomi terkait tanaman tahan banting ini.

Terkadang sampai melupakan pemupukan, karea singkong bisa tumbuh di tanah marginal sekalipun. Padahal tanaman ini termasuk yang mengangkut hara dalam jumlah besar, karena semua bagian tanamannya diangkat dari dalam tanah.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018