
Banyak orang minum obat dokter sambil tambah herbal biar cepat sembuh. Padahal, kalau asal campur tanpa pengawasan ahli, efeknya bisa berbahaya dan bikin tubuh malah drop.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Banyak orang minum obat dokter sambil tambah herbal biar cepat sembuh. Padahal, kalau asal campur tanpa pengawasan ahli, efeknya bisa berbahaya dan bikin tubuh malah drop.
Banyak orang sekarang suka mengombinasikan obat dokter dengan herbal. Alasannya sederhana, biar cepat sembuh dan lebih alami. Tapi hati-hati, cara ini ternyata bisa berisiko kalau dilakukan tanpa pengawasan tenaga ahli.
Peringatan ini disampaikan oleh DR. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si (Herbal) dalam Workshop Herba Medika: The New Era of Downstream yang digelar oleh Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Rempah, Obat, dan Aromatik (BRMP TROA), Selasa (11/11).
“Di sinilah pentingnya berkonsultasi dengan ahli,” tegas dr. Inggrid di depan peserta. Ia bilang, banyak pasien yang sudah rutin minum obat dokter, tapi tetap menambah herbal karena merasa efeknya belum cukup.
Contohnya pada penderita diabetes melitus, biasanya mereka sudah mengonsumsi obat medis seperti metformin atau pioglitazon, lalu menambah herbal seperti sambiloto, kayu manis, brotowali, atau kelabet untuk membantu menurunkan gula darah.
“Padahal, kalau dikombinasikan tanpa pengawasan, bisa bikin gula darah turun terlalu drastis,” jelasnya.
Menurut dr. Inggrid, tubuh penderita diabetes sudah punya gangguan pada pankreas dan resistensi insulin. Jadi, saat dua jenis pengobatan diminum bersamaan, tubuh bisa kewalahan. “Efeknya bisa hipoglikemia atau gula darah drop parah, bahkan sampai koma,” ungkapnya.
Ia menekankan, pengobatan herbal seharusnya bukan pengganti obat dokter, tapi bisa jadi pendamping kalau dosis dan interaksinya diawasi oleh tenaga kesehatan yang paham fitoterapi. “Herbal tetap bisa membantu, tapi harus digunakan dengan pengetahuan yang benar,” tambahnya.
Selain penyakit metabolik seperti diabetes, dr. Inggrid juga menyinggung penggunaan herbal untuk masalah psikosomatik seperti cemas dan sulit tidur. Ia menyebut, tanaman lokal dikombinasikan dengan chamomile untuk efek menenangkan.
Dalam presentasinya, ia juga memperkenalkan sejumlah tanaman yang sudah masuk dalam formularium fitofarmaka nasional, daftar obat herbal yang sudah lolos uji klinis dan disetujui oleh Kementerian Kesehatan. “Ini bukti kalau herbal bukan cuma tradisi, tapi bisa jadi bagian dari sistem kesehatan nasional asal penggunaannya tepat,” ujarnya.
Workshop yang digelar BRMP TROA ini jadi ajang penting untuk memperkuat hilirisasi tanaman obat Indonesia, sekaligus mempertemukan para peneliti, akademisi, dan pelaku industri herbal.
Harapannya, ke depan makin banyak masyarakat yang sadar bahwa herbal dan obat medis bisa saling melengkapi, asal tidak dikonsumsi sembarangan. Karena, seperti kata dr. Inggrid, “Yang alami belum tentu aman kalau caranya salah.”