Thursday, 23 September 2021


Kenyang dan Sehat dengan Pisang

28 Jul 2021, 16:25 WIBEditor : Yulianto

Webinar Pisang | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pisang menjadi sumber karbohidrat yang bisa menggantikan nasi. Mengonsumsi pisang bukan hanya bikin kenyang, tapi juga jauh lebih sehat.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian pun mendorong peningkatan konsumsi pisang. Jika saat ini hanya 7,2 kg/kapita/tahun, maka pada tahun 2024 diharapkan meningkat menjadi 9,5 kg/kapita/tahun.  

“Bisa tidak? Jawabnya bisa. Pengalaman Thailand dan Jepang justru peningkatan konsumsi pisang lebih besar dari Indonesia. Bahkan di kota besar mungkin konsumsi beras sudah mencapao 85 kg/kapita/tahun,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pangan, Agung Hendriadi.

Untuk itu kata Agung, pemerintah mendorong UMKM mengembangkan karbohidrat non beras, termasuk pisang. Jadi bukan hanya untuk icip-icip atau camilan.  “Tujuan kita meningkatkan kualitas pangan yang bergizi, seimbang dan aman,” ujarnya saat webinar Eksplorasi Pangan Lokal: Pisang, Kenyang Ngga Harus Nasi yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (28/7).

BACA JUGA:

Sumber-Karbohidrat-Prospek-Pisang-Merangsang

Turun-Terus-Konsumsi-Pisang-Digenjot

Agung mengatakan, ada tiga strategi pemerintah mendorong diversifikasi pangan lokal. Pertama, peningkatan produksi. Kedua, promosi yang bersifat formal dan informal. Formal melalui peraturan gubernur, bupati/kota, sedangkan informasl melalui media sosial.

Ketiga, memperbaiki akses masyarakat terhadap pangan lokal. Misalnya, melalui penguatan UMKM pangan lokal, pembiayaan melalui KUR dan branding. “Pemerintah juga membantu dengan membuka pasar melalui market place, baik fisikal maupun digital,” ujarnya.

Multimanfaat Pisang

Menurut Agung, pisang mempunyai banyak keunggulan. Dari sisi kesehatan, pertama, pisang tinggi antioksidan sehingga menurunkan risiko kanker. Kedua, tinggi kalium, baik untuk kesehatan jantung. Ketiga, tinggi serat sehingga baik untuk kesehatan pencernaan.

Dari sisi ekonomi lanjut Agung, pisang berpotensi sebagai pangan pokok pengganti beras danpotensial untuk menjadi substitusi tepung terigu. “Pisang juga banyak dikembangkan menjadi aneka panganolahan yang digemari masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu Guru Besar IPB University, Prof. Sobir mengatakan, dengan kandungan kalsium cukup tinggi, pisang sangat cocok untuk memperkuat tulang. Sedangkan kandungan kalium tinggi untuk menjaga tekanan darah dan meningkatan kecerdasan dan supply darah ke otak menjadi lancar.

“Jadi selain kenyang, mengonsumsi pisang lebih berenergi dan sehat, karena  proteinnya juga tinggi. Dari sisi nutrisi pisang menjadi sesuatu yang baik menggatikan beras. Pisang bisa menggantikan beras dalam proporsi tertentu,” tuturnya.

Karena itu Sobir menyarankan perlu strategi diversifikasi pangan. Dengan jumlah penduduk milenial yang jauh lebih besar, sasaran promosi harus pada kaum muda hingga umur 30 tahun. Selain potensinya besar, lebih terbuka dalam berpikir dan selera mereka juga makin berkembang.

Selain itu sasaran promosi pada kalangan berpendidikan tinggi dan menengah ke atas. Pasalnya, mereka akan jauh lebih mengerti manfaat diversifikasi pangan. “Pisang juga harus kita tawarkan secara fancy. Makan pisang adalah suatu yang keren. Jadi kita harus bisa membuat branding pisang lebih baik,” sarannya.

Bahkan Sobir mengusulkan, kampanye One Day No Rice harus diubah menjadi One Day With Banana. Jika bisnis pisang berkembang, maka ada tiga manfaat yang bisa didapatkan yakni, konsumsi beras berkurang, lebih sehat dan ekonomi terkait pisang akan terangkat. “Perlu dikampanyekan juga sebelum tidur makan pisang,” tambahnya.

Sementara itu, Ari Widodo, pelaku usaha dan pemilik Tepung Pisang Gedhang mengatakan, keistimewaan pisang adalah gluten free, sehingga banyak disukai masyarakat Eropa dan AS. Dengan demikian, bagi yang alergi tepung terigu, bisa mengganti dengan tepung pisang.

“Pasar tepung pisang sangat potensial menjadi sumber devisa negara. Untuk mencegah ketergantungan tepung terigu bisa diganti dengan pisang. Kalau Eropa mengekspor tepung terigu ke Indonesia, kita juga bisa mengekspor tepung pisang,” tuturnya. Karena itu Ari berharap ada perhatian pemerintah terhadap pengembangan tepung pisang.

Nanik Tri Ismadi, Kepala Pusar Penelitian Sukosari PTPN XI mengatakan, pihaknya saat ini sudah mempunyai teknologi pasca panen pisang. Misalnya untuk membuat beras pisang, tiwul pisang,  cookies pisang, tepung pisang, kripik pisang, anggur pisang dan sale pisang.

“Kita saat ini sudah mengolah membuat beras pisang yang bisa dimakan sesuai lidahnya orang Indonesia. Selain untuk memenuhi kebutuhan gizi, juga mengeyangkan. Beras pisang kandungan protein dan seratnya dua kali lipat dari nasi,” katanya.

Dengan potensi kandungan gizi yang sangat besar itu, pisang menjadi komoditas yang layak menjadi perhatian utama pemerintah sebagai sumber diversifikasi pangan. Apalagi pisang merupakan tanaman yang bisa tumbuah dimana saja.

Bagi pembaca Tabloid Sinar Tani jika ingin mendapatkan materi FGD dan melihat siaran ulang bisa diunduh di link bawah ini.  Untuk yang sudah mengikuti FGD, kami juga mengucapkan banyak terima kasih. Link SERTIFIKAT jug abisa diunduh di link ini.

LINK : MATERI DAN SERTFIKAT FGD EKSPLORASI PANGAN LOKAL: Pisang, Kenyang ngga harus Nasi 

LINK SIARAN SINTA TV : FGD EKSPLORASI PANGAN LOKAL: Pisang, Kenyang ngga harus Nasi

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018