Sabtu, 01 Oktober 2022


Optimalkan Potensi Hortikultura, Petani Kota Batu Adopsi Smart Farming  

13 Sep 2022, 12:24 WIBEditor : Yulianto

Petani hortikultura Kota Batu dididorong adopsi smart farming untuk tingkatakn produksi | Sumber Foto:BBPP Ketindan

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Umumnya petani di Indonesia masih tradisional dalam berbudidaya. Begitu juga petani hortikultura di Kota Batu. Dengan potensi yang cukup besar, petani di Kota Apel tersebut didorong mengadopsi smart farming.

 Kota Batu merupakan pemekaran dari Kabupaten Malang di Provinsi Jawa Timur. Dengan luas areal 19.908 hektar, topografi Kota Batu tersusun dari gugusan perbukitan yang dikelilingi oleh Gunung Panderman (2020 meter dpl), Gunung Welirang (3.156 meter dpl), Gunung Arjuno (3.339 meter dpl).

Jenis tanahnya terdapat empat macam meliputi Andosol, Kambisol, Aluvial dan Latosol. Andosol dan Kambisol sendiri dikenal sebagai jenis tanah yang subur dan cocok untuk budidaya pertanian.

Kota Batu terletak di dataran tinggi sehingga memiliki suhu udara yang rendah dan kelembaban yang tinggi. Kondisi iklim ini cocok untuk pengembangan pertanian khususnya hortikultura. Apalagi didukung dengan sumber air berlimpah baik dari Sungai Brantas maupun sumber air tanah. Tak heran jika, Kota Batu tumbuh pesat menjadi sentra hortikultura di Jawa Timur.

Dalam rangka peningkatan produktivitas hortikultura di Kota Batu, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan bekerja sama dengan Korea Agency of Education, Promotion, and Information Service in Food, Agriculture, Forestry, and Fisheries (EPIS) melaksanakan preliminary feasibility study terkait Enhancing Millenial Farmers Income by Adopting K-Smart in Indonesia.

Project Action Officer (PAO)  Mr. Han Hyuk Joo menyatakan, kegiatan ini dalam rangka pengumpulan data dasar untuk menentukan strategi peningkatan pendapatan petani muda melalui penggunaan teknologi Smart Farming khususnya pada komoditas tomat, paprika, dan strawberry.

Selain koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu terkait penggalian data, rombongan juga melaksanakan survey lapangan ke petani tomat dan paprika. Di lahan Masudi, petani tomat dan paprika di Desa Sumber Brantas. Kemudian dilanjutkan ke Sulih Hari, petani strawberry di Desa Pandanrejo.

Rombongan menggali informasi tentang operasional greenhouse dan pemanfaatan smart farming yang telah dilakukan seputar teknis budidaya dalam greenhouse maupun aspek pemasaran.

Menurut Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu, Harijadi Agung Setijana, petani hortikultura di Kota Batu telah berusaha mengadopsi teknologi smart farming dengan penggunaan green house yang masih sederhana karena masih terkendala modal investasi awal yang cukup tinggi.

Selama ini menurutnya, petani di Kota Batu sebagian besar masih menerapakan teknik budidaya secara konvensional di lahan terbuka. Diharapkan dengan adanya program ini, bisa membantu pengembangan sumberdaya manusia di Kota Batu, khususnya meningkatkan produksi dan produktivitas. “Selain itu membantu membuka peluang pemasaran yang lebih luas,  khususnya untuk komoditas hortikultura,” kata Harijadi.

Hal ini selaras dengan pernyataan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), kemampuan sumber daya manusia (SDM) bagi pelaku utama terhadap teknologi masih harus didorong agar menerima dan melaksanakan rekomendasi sehingga bisa memicu peningkatan teknologi pertanian.

“Pengembangan SDM secara massif adalah mengadopsi teknologi yang dapat memacu dan memicu peningkatan produktivitas petani di Indonesia," tegas SYL. Mentan juga mengingatkan petani tidak perlu takut dan alergi mengadopsi teknologi pertanian.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian,  Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Dedi Nursyamsi juag mengatakan, pengembangan SDM Pertanian diarahkan  pada peningkatan pengetahuan,  keterampilan dan sikap untuk membentuk kepribadian yang mandiri bagi SDM pertanian, khususnya  petani. 

“Jika ingin pertanian maju, majukan dahulu kualitas SDM. Karena SDM yang berkualitas bisa menghadirkan inovasi dan terobosan-terobosan teknologi yang dibutuhkan pertanian," tegas Dedi Nursyamsi.

Reporter : Dewi Melani/ Yeniarta
Sumber : BBPP Ketindan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018