
Peluncuran #1 Nusantara Melon Fest di Kuningan
TABLOIDSINARTANI.COM, Kuningan---Kabupaten Kuningan, Jawa Barat pada Okotber mendatang akan mempunyai hajatan besar Festival Melon Nusantara. Berbeda dengan yang lain, hajatan ini merupakan sebuah inisiasi dari generasi muda kabupaten yang dikenal sebagai tempat pelaksanaan Perundingan Linggajati.
Founder eQuaNik Agri Nusantara, Pipin Aripin mengatakan, kegiatan #1 Nusantara Melon Fest 2025 lahir karena keresahan generasi muda yang melihat potensi sumberdaya alam Kuningan yang cukup besar, tapi belum terlola dengan maksimal. Karena itu, festival ini hadir untuk menumbuhkan semangat memperkuat entitas Kabupaten Kuningan.
”Kami mengharapkan kegiatan ini dapat menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih peduli terhadap sektor pertanian dan melihat peluang besar yang ada dalam industri hortikultura,” katanya saat memberikan pengantar Peluncuran Perdana #1 Nusantara Melon Fest 2025 di Kuningan, Rabu (28/5).
Pipin berharap dengan semangat inovasi dan kolaborasi, festival ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan sistem pangan yang lebih kuat, berkelanjutan, serta mampu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara luas. Kegiatan ini juga menjadi agenda menguatkan identitas untuk nusantara dan langkah nyata menegaskan peran daerah untuk mewujudkan ketahanan pangan.
”Ingin untuk membuktikan diri generasi muda Kuningan semangat melakukan perubahan. Kami mengajak berbagai pihak untuk berkolaborasi untuk menebar kebaikan. Kita tidak harus hebat dulu baru memulai usaha, tapi dengan memulai usaha kita bisa menjadi hebat. Kami hadir tidak mencari manfaat, tapi menebar manfaat untuk bangsa,” tutur alumni sarjana teknik yang terjun ke dunia pertanian ini.
Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Pangan Nasional. Andriko Noto Susanto memberikan apresiasi dengan rencana Festival Melon Nusantara. Apalagi kegiatan yang diusung generasi muda Kuningan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak.
”Ke depan memang cara bertani yang baru adalah dengn berkolaborasi,” ujarnya saat sambutan peluncuran #1 #1 Nusantara Melon Fest 2025.
Namun Andriko mengingatkan, di tengah persoalan pangan yang melanda dunia, bahkan Jepang juga mengalami persoalan ketersediaan pangan. Karena itu, targetnya bukan hanya ketahanan pangan, tapi kemandirian pangan.
Perbedaannya, jika ketahanan pangan, maka kebutuhan pangan masyarakat terjaga, tapi masih bisa berasal dari mana saja, termasuk impor. ”Sekarang ini kita masih impor jagung, kedelai, bahkan impor gandum dan terigu kita sangat besar,” ujarnya.
Karena itu, ke depan yang harus bangsa Indonesia capai adalah kemandirian pangan. Artinya, semua kebutuhan pangan masyarakat berasal dari dalam negeri dan tidak ada impor lagi. ”Sekarang ini kita harus jihad pangan,” tegasnya.
Dengan belanja pangan yang mencapai Rp 250 triliun, menurut Andriko, pasar pangan Indonesia kini menjadi incaran asing, sehingga saat ini banyak yang ingin berjualan pangan ke Indonesia. ”Badan Pangan Nasional kini terus mendorong dan memprioritaskan pangan lokal sebagai pangan nasional,” katanya.
Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Perkebunan dan Pertanian, Gunawan juga mengatakan, pemerintah telah menetapkan target swasembada pangan. Target tersebut menjadi titik tolak dari kemandirian pangan.
“Hortikultura menjadi bagian. Kami berupaya mendorong pengembangan industri hulu hingga hilir, dan upaya mpningkatkan daya saing produk dalam negeri,” katanya.
Dari pengalaman di Atase Luar Negeri, Gunawan bercerita, ternyata permintaan buah tropis di luar negeri sangat besar. Untuk itu, ia mendorong sinergi dan mengajak petani menerapkan Good Agriculture Practices (GAP) dalam berbudidaya agar buah-buah dalam negeri mendapat pengakuan internasional.
Untuk mendorong kegiatan pertanian yang lebih efisien, Gunawan mengatakan, pemerintah saat ini mendorong pembentukan kelembagaan petani melalui pendiring Koperasi Desa Merah Putih. Pemerintah menargetkan berdiri sebanyak 80 ribu koperasi. ”Saat ini dalam tahap penyelesaian notaris di Kementerian Hukum.” katanya.