
Habanero lokal pertama racikan IPB resmi hadir! Kepedasannya hingga 5 kali cabai rawit, tahan penyakit, dan siap menembus pasar ekspor.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Habanero lokal pertama racikan IPB resmi hadir! Kepedasannya hingga 5 kali cabai rawit, tahan penyakit, dan siap menembus pasar ekspor.
Tim peneliti IPB University berhasil menghasilkan empat varietas cabai habanero lokal pertama yang resmi memperoleh Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dan terdaftar di Kementerian Pertanian. Tak hanya menjadi tonggak inovasi pemuliaan tanaman, cabai ini juga memiliki tingkat kepedasan yang diklaim mencapai lima kali lebih tinggi dibanding cabai rawit.
Empat varietas tersebut adalah Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB. Seluruhnya merupakan hasil riset yang dipimpin Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University, Prof. Muhamad Syukur, bersama tim peneliti melalui proses pemuliaan yang berlangsung sekitar enam tahun.
"Pada dasarnya cabai habanero di Indonesia itu belum ada. Baru ada Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan yang terdaftar. Jadi, yang mendapat perlindungan varietas pertama kali untuk jenis habanero adalah rakitan kami dari IPB University," ujar Prof. Muhamad Syukur dalam keterangan resmi.

Keunggulan utama varietas baru ini terletak pada tingkat kepedasannya. Berdasarkan hasil pengujian menggunakan Scoville Heat Units (SHU), varietas Tabia Sala 1 IPB memiliki tingkat kepedasan mencapai 1 juta hingga 1,3 juta SHU.
Sementara Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB memiliki tingkat kepedasan berkisar 350 ribu hingga 500 ribu SHU.
Sebagai perbandingan, cabai rawit yang umum dikonsumsi masyarakat Indonesia umumnya memiliki tingkat kepedasan sekitar 50 ribu hingga 100 ribu SHU, sehingga Tabia Sala 1 IPB memiliki sensasi pedas berkali-kali lipat lebih tinggi.
Secara ilmiah, habanero termasuk spesies Capsicum chinense, kelompok cabai yang dikenal menghasilkan kandungan capsaicin sangat tinggi. Berbagai varietas habanero di dunia umumnya memiliki tingkat kepedasan pada kisaran 100 ribu hingga 350 ribu SHU, sementara kelompok cabai terpedas dunia seperti Carolina Reaper juga berasal dari spesies yang sama.
Tidak hanya menawarkan rasa pedas ekstrem, varietas hasil pemuliaan IPB juga dirancang agar sesuai dengan kondisi agroklimat Indonesia.
Prof. Syukur menjelaskan, salah satu tantangan budidaya habanero impor adalah kerentanannya terhadap penyakit keriting kuning. Karena itu, varietas lokal ini dikembangkan agar memiliki ketahanan lebih baik terhadap penyakit tersebut sekaligus mampu beradaptasi dengan iklim tropis yang lembap.
Keunggulan tersebut dinilai penting mengingat cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis nasional yang permintaannya terus meningkat setiap tahun.
Pengembangan habanero lokal dilakukan melalui kerja sama IPB University dengan Pemerintah Provinsi Bali. Kini benih keempat varietas tersebut telah diproduksi dan didiseminasikan secara massal oleh Benih Dramaga, sehingga dapat diakses petani di berbagai daerah.
Prospek ekonominya pun cukup besar. Selain untuk memenuhi kebutuhan industri saus pedas, makanan olahan, bumbu instan hingga produk sambal premium, habanero juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri farmasi, kosmetik, hingga produk penghangat tubuh (hot pack).
Di negara asalnya, Meksiko, habanero bahkan menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi dan telah memperoleh Denominasi Asal (Denomination of Origin) karena memiliki pasar ekspor yang kuat.
Prof. Syukur menilai varietas lokal ini memiliki peluang besar memasok kebutuhan industri domestik maupun pasar ekspor.
Menurutnya, cabai dengan tingkat kepedasan sangat tinggi memberikan efisiensi bagi industri karena penggunaan bahan bakunya lebih sedikit untuk menghasilkan sensasi pedas yang sama dibanding cabai biasa.
Selain pasar dalam negeri, habanero lokal Indonesia juga berpotensi memasuki pasar internasional, termasuk Korea Selatan, yang memanfaatkan ekstrak capsaicin sebagai bahan pembuatan hot pack untuk musim dingin.
Dengan hadirnya empat varietas habanero lokal tersebut, Indonesia tidak hanya memperkaya plasma nutfah cabai nasional, tetapi juga membuka peluang lahirnya komoditas hortikultura bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar global.