
Bunga potong yang diproduksi di Garut
TABLOIDSINARTANI.COM, Garut ---- Selain jahe dan aneka rimpang, Kabupaten Garut juga terkenal dengan potensi bunga potong seperti mawar dan sedap malam. Di tahun 2019 ini, petani bunga potong optimis bisa memperluas pasar.
Terdapat kurang lebih 16 petani yang mengusahakan komoditas bunga potong ini. Bunga sedap malam di kabupaten ini lebih wangi dibanding sedap malam wilayah lain. Mawarnya pun lebih tahan lama 1 - 2 minggu.
"Sedap malam kita punya 'mah wangi, kalau di kota lain 'mah kan sedap malamnya gak begitu wangi," ucap salah satu petani bunga potong dari Garut, Hendri.
PLT Kasie Buah dan Flori Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ummu Kulsum mengatakan Garut mempunyai potensi alam yang besar terutama dari sisi agrobisnisnya untuk dikelola dalam rangka mewujudkan Kabupaten Garut yang maju, berdaya dan bertakwa.
Harga jual komoditas sedap malam di tingkat petani sekitar Rp 150 ribu per ikat, per ikat terdiri dari 100 tangkai. Mawar dihargai Rp 50 ribu per ikat dengan 20 tangkai per ikatnya.
Bunga potong dari Garut biasanya lebih banyak memasok ke Pasar Rawabelong Jakarta, Bandung dan sekitar Garut.
"Permintaan bunga potong masih lumayan tinggi di pasaran, yakni sebagai penambah estetika dengan kebutuhan per tahun 21,8 % atau sekitar 1,2 juta per bulan," ujar Kepala Subdit Florikultura, Sumardi Noor.
Pengembangan florikultura di Garut kebanyakan berada di Kecamatan Samarang, Cikandang dan Bayongbong. Saat ini petani tanaman hias belum tergabung dalam kelompok tani namun sudah terbentuk Asosiasi Bunga Potong Garut.
Krisan
Tak hanya bunga mawar dan sedap malam, 4 orang petani bunga potong dari Garut juga tengah mencoba budidaya bunga krisan. Potensi krisan yang diperoleh mencapai lebih dari 1000 ikat per bulan.
Melihat peluang pasar yang besar, kegiatan usaha bunga potong masih terbuka lebar terutama di wilayah yang memiliki agroklimat sesuai budidaya bunga potong.
Dalam budidaya, benih bermutu merupakan hal penting yang perlu diupayakan keberadaanya untuk mendukung hasil panen yang baik.
Untuk mendapatkan benih krisan bermutu, langkah pertama menseleksi tanaman krisan yang akan dijadikan tanaman induk.
“Tanaman krisan berusia 1 tahun apabila dijadikan tanaman induk kurang baik. Dengan mendapatkan induk yang berkualitas akan menghasilkan bibit yang berkualitas pula," ujar Peneliti Madya Balai Penelitian Tanaman Hias, Kurnia Yuniarto.
Ciri induk krisan yang berkualitas yakni pertumbuhan bunganya cepat, memiliki produktivitas bunga yang cukup tinggi dan dalam kondisi sehat.
Pengembangan kawasan florikultura di Garut ini merupakan swadaya masyarakat. Oleh karena itu sangat tinggi harapan para petani tanaman hias di Kabupaten Garut untuk mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah.
"Saya harap ke depan ada dukungan dari Direktorat Jenderal Hortikultura agar agribisnis florikultura di Garut lebih cepat berkembang dan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat," ungkap Ketua Asosiasi Bunga Potong di Garut, Pipin.
Apalagi Kabupaten Garut merupakan salah satu destinasi wisata di Jawa Barat, pengembangan florikultura merupakan peluang besar yang harus diraih.