Thursday, 30 June 2022


Inovasi Pangan Olahan Sawit

25 May 2022, 12:24 WIBEditor : Yulianto

Webinar Inovasi Olahan dari Sawit | Sumber Foto:Sinat Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Produk sawit bukan hanya soal minyak goreng atau biodisel, banyak produk olahan yang berasal dari komoditas tersebut. Sayangnya, banyak masyarakat yang tak mengetahui produk berbahan baku sawit tersebut.

Padahal selama ini telah digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Dari pagi hingga malam. Dari bangun hingga akan tidur kembali. Sebut saja, produk sabun dan deterjen, margarine dan produk makanan lainnya.

Kepala Pusat Penelitian Surfactant dan Bioenergy Research Center IPB University, Mieka Syahbana Rusli mengatakan, sebenarnya banyak produk hilir sawit. Dari minyak sawit akan menghasilkan olein yang bisa diolah menjadi minyak goreng, margarine, shortening dan coffee whitener.  Sedangkan dari stearin bisa menghasilkan margarine, sabun dan deterjen. Dari biodisel menghasilkan vitamin A dan E, serta surfaktan.

“Jadi selain minyak goreng, banyak produk olahan lain yang bisa menjadi bahan baku produk pangan. Faktualnya, produk pangan di pasar mengandung bahan baku dari minyak sawit, baik dari olein, stearin dan lemak jenuhnya,” tutur Mieka.

IPB sendiri saat ini telah membuat inovasi seperti krimer nabati sebagai krimer turunan untuk membuat bumbu rendang sebagai pengganti santan. Ada juga high grade specialty fats dari sawit yang secara khusus didesain menggantikan cocoa butter.

Inovasi lainnya adalah pengembangan gula merah berbasis nira sawit yang bisa dibuat pekebun saat meremajakan tanamannya. Produk lainnya adalah membuat permen (hard candy) berbasis nira sawit yang dipadukan dengan sari jahe.

“Inovasi sudah banyak, tapi sosialisasi memang perlu digencarkan lagi. Kami dari IPB siap mentransfer teknologi agar inovasi lebih dikenal secara menyeluruh. Jadi mainstream sawit tidak hanya minyak goreng dan biodisel,” tuturnya.

Minyak Sawit Merah

Sementara itu, Ade Tri Sunar, Sub Koordinator Sarana Pengolahan, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan mengatakan, salah satu potensi yang bisa dikembangkan adalah virgin palm oil (minyak sawit merah). Produk tersebut bisa diusahakan skala kecil dan mampu memberikan nilai tambah bagi petani atau pekebun.

“Selama ini petani atau pekebun tidak pernah mengelola produk sawit sendiri. Biasanya setelah panen, mereka langsung menjual dalam bentuk tandan buah segar,” katanya.

Ade Tri melihat, petani/pekebun belum menggarap VPO dengan maksimal. Bahkan pemanfaatan buah sawit menjadi virgin palm oil  (VPO) belum banyak dikenal dibandingkan virgin coconut oil (VCO) dari kelapa.  Padahal, produk VPO ini hampir sama, karena mengandung zat yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.

“Jadi sebenarnya pengembangan produk tersebut akan memberikan nilai tambah bagi petani. Apalagi sekarang pemasaran dengan online sudah cukup mudah,” tuturnya. Meski memang belum banyak, saat ini sudah ada produk VPO yang telah dipasarkan dengan harga Rp 170 ribu-200 ribu/liter.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Perkelapasawitan Indonesia (Maksi), Darmono Taniwiryono juga mengakui, selama keberadaan sawit di Indonesia belum banyak yang memanfaatkan secara maksimal produk minyak sawit murni (merah). “Banyak masyarakat yang tidak tahu jika minyak sawit itu aslinya kental dan merah di suhu kamar. Inilah virgin palm oil,” katanya.

Padahal di Afrika dan Brasil, produk tersebut sudah menjadi bagian dari pengolahan makanan. Minyak sawit merah inilah yang dikonsumsi bangsa-bangsa Afrika sejak lama dan merupakan budaya turunan dari negara asal sawit tersebut.

 “Saat ini masyarakat Amerika Latin, utamanya Brasil sudah banyak mengonsumsi VPO ini. Kini di AS juga mulai mengonsumsi,” tambahnya. Karena itu Darmono menilai, tidak benar anggapan bahwa minyak sawit itu menyebabkann kanker dan menyebabkan kolesterol.

Apalagi dari hasil kajian Darmono, justru VPO mengandung betakaroten paling tinggi dibandingkan dengan yang lain. Betakaroten mencapai 1.690 mg/kg. Begitu juga kandungan Vitamin E yang mencapai 19,58 mg/100 gram.  

Manfaat betakaroten dan vitamin E sebagai antioksidan yang dapat mencegah radikal bebas dan memelihara imunitas terhadap serangan berbagai penyakit virus, termasuk Covid-19,” tegasnya.

Bahkan dibandingkan lemak sawit, lemak hewani (sapi) dan air susu ibu, ternyata lemak jenuh sawit sebagai makronutrien hampir sama dengan produk makanan tersebut. Karena itu Darmono berharap dengan adanya pengembangan fortifikasi VPO ke berbagai makanan dapat membantu mencegah stunting yang kini menjadi masalah di Indonesia.

Dukungan BPDPKS

Kepala Divisi Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi BPDPKS, Helmi Muhansyah mengatakan, pihaknya membuka kesempatan bermitra dalam berbagai program pengembangan sawit di Indonesia. Bagi yang berminat bisa mengajukan proposal permohonan ke BPDPKS.

“Kami akan melakukan verifikasi. Jika disetujui, kami akan mencairkan pendanaannya,” kata Helmi saat Webinar Sosialisasi Inovasi Pangan Olahan dari Kelapa Sawit yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani Bersama BPDPKS, Rabu (25/5).

Bagi Sobat Sinar Tani yang ingin mendapatkan materi Webinar dan E Sertifikat, dapat melihat kembali siaran ulangnya bisa diunduh di link bawah ini.

Link Materi : Klik Disini !!!

Link E Sertifikat : Klik Disini !!!



Yuk Ikuti Platform Media SOsial Kami di Klik Disini !!!

Reporter : julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018