Saturday, 15 August 2020


Petani Milenial dari Bintan ini Panen Tomat 1/4 Ha, Untung Rp 100 Juta

07 Jul 2020, 11:08 WIBEditor : Ahmad Soim

Eco Purwadi | Sumber Foto:BPTP Kepri

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bintan – Seorang pemuda lulusan SMK mengembangkan budidaya tomat tumpangsari dengan sayuran lainnya. Dengan lahan 0,25 ha, pada panen perdana tomat, Eco Purwadi bisa mendapatkan keuntungan Rp 100 juta.

Eko Purwadi, pemuda kelahiran Takengon, Aceh Tengah 31 Juli 1997. Sejak tamat SMK sampai tahun 2015 sudah menggeluti usahatani bersama orangtuanya di Takengon Kabupaten Aceh Tengah. Pada tahun 2015 dia sempat pindah ke Jambi berganti profesi jadi karyawan swasta. Pada tahun 2016, dia bersama orangtuanya pindah ke Desa Lancang Kuning Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Riau (BPTP Kepri) menemukan Eco Purwadi sebagai petani milenial yang patut didorong kemampuan teknis budidaya maupun kelembagaan petaninya. Kepala BPTP Kepri Dr. Sugeng Widodo menuturkan, bermodal dari hasil penjualan rumah dan kebaikan pemilik lahan yang memberikan hak pengelolaan lahan seluas ± 1 Ha, pemuda berusia 27 tahun ini mulai merintis kembali jadi petani.

Eco Purwadi Bertani dengan tekad bisa memperbaiki taraf hidup keluarganya, Pada Agustus 2019, petani milenial ini melakukan usaha budidaya tomat. Berdasar dari pengalaman yang dia miliki sebelumnya di Takengon, serta infomasi yang dia dapat dari media sosial seperti youtube, diskusi dengan penyuluh di Kepri untuk menanam tomat tak sedikitpun luntur, meskipun dia tahu bahwa terdapat perbedaan yang nyata kondisi agroekosistem lahan antara Aceh dengan Kepulauan Riau khususnya Kabupaten Bintan. Perbedaan nyata adalah status kesuburan tanah di Aceh lebih bagus, juga perbedaan cuaca, iklim khususnya curah hujan, karena tipe iklim berbeda. Hal ini menjadi tantangan bagi petani milenial untuk menaklukan tantangan.

Pada musim tanam pertama, pemuda tamatan SMK ini menanam tomat dengan dengan luasan ± 0.25, populasi ± 3.500 batang, varietas Servo F1, jarak tanam 50 x 50 cm, tanpa mulsa. Dari musim tanam pertama, dia mendapatkan hasil sebanyak ± 12 ton, rata–rata perbatang 3.,4 Kg.

Eco menjual hasil panennya ke pengumpul dengan harga Rp. 9.000 - 10.000/kg. Dari musim tanam pertama, ia meraup keuntungan ± Rp 100 juta. Setelah dikurangi biaya sarana produksi selama musim tanam.

Selain tanggap terhadap teknologi digital, pemuda ini juga sudah membuat analisa usahatani yang dia geluti, sehingga memberikan gambaran arah bisnis kedepannya. Apakah usahatani yang dia kelola bisa untung atau rugi. Menurut pemuda ini biaya sarana produksi budidaya tomat Rp.2.500/batang.

Coba Bermulsa dan Tumpang Sari

Pada awal Januari 2020, Eco kembali menanam tomat, luasan ± 0.25 Ha, populasi ± 3.000 batang, varietas Servo F1, jarak tanam 50 x 60 cm, tanpa mulsa. Dari musim tanam kedua, dia mendapatkan hasil sebanyak ± 6 ton, rata–rata perbatang 2 Kg, harga Rp. 9.000 - 10.000/Kg. Dari musim tanam kedua meraup keuntungan ± Rp 50 juta. Penurunan produksi dikarenakan faktor cuaca sangat ekstrim serta terjadi serangan hama maupun penyakit.

Selain tanggap terhadap teknologi digital, untuk mengetahui kalkulasi bisnis usaha tani, pemuda ini senang membuat inovasi dengan tujuan menambah ilmu dan pengalaman.  Kedepanya dia sudah punya gambaran usahatani apa yang bisa memberi manfaat.

Pada musim tanam ketiga, Eco mencoba menerapkan teknologi penggunaan mulsa, tumpangsari dengan tanaman cabai rawit dan perbandingan antara teknik persemaian dengan penanaman bibit secara langsung ditanam.

Eco mengatakan penerapan beberapa teknologi budidaya itu dilakukan untuk melihat perbandingan produksi, tingkat pertumbuhan, serangan hama ataupun penyakit antara penggunaan media mulsa atau tanpa mulsa serta tanam langsung atau dilakukan persemaian. Sedangkan perlakuan tumpang sari dilakukan antara cabai rawit dengan tomat. Menurutnya, sekalipun cuaca sangat ekstrim, Eco mengatakan seandainya tomat tidak dapat memproduksi dengan maksimal, dia masih bisa dapat hasil dari tanaman cabai.

Selain budidaya tomat, di atas lahan ± 1 Ha, pemuda ini juga menanam cabai, pepaya dan pemamfaatan embung/DAM untuk budidaya ikan nila. Penyuluh BPTP Kepri Jonri S Sitompul dan penyuluh DKPPKH Provinsi Fikriah, saat mengunjungi lahan Eco menyarankan perlu adanya perbaikan teknologi budidaya, baik pemilihan varietas, persemaian bibit sehat, pola tanam, penggunaan sistem irigasi tetes (drip irrigation), metode pencegahan sebelum terserang hama dan penyakit, pengendalian OPT, pemupukan dan penggunaan pestisida tepat dosis dan tepat sasaran.

 Profesi yang Menjanjikan

Beberapa pejabat Kabupaten Bintan pun melakukan kunjungan ke tempat budidaya Eco Purwadi. Diantaranya  Wakil Bupati Kabupaten Bintan  Drs. H. Dalmasri Syam, M.M, Anggota DPRD Kabupaten Bintan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bintan Beserta Staff beserta petani.

Eco berharap sebagai petani millenial kedepannya bisa  membuka lahan tomat secara luas dengan menggunakan teknologi Green House dan menjadi contoh bagi petani muda dan petani lainnya khususnya petani di kabupaten Bintan, Serta adanya pendampingan teknologi dan pertemuan bisnis agar memotivasi generasi milenial lainnya melalui sharing informasi bisnis.

Profesi petani untuk kalangan anak muda sekarang, dianggap kurang menarik. Namun berbeda dengan Eco Purwandi (27), Petani millenial yang berdomisili di Desa Lancang Kuning Kecamatan Bintan Utara Kabupaten Bintan.

 Regenerasi

Sejalan dengan program Kementerian Pertanian (Kementan), BPTP Kepri terus melakukan terobosan meningkatkan produksi pertanian di berbagai komoditas melalui peningkatan minat generasi muda. Petani milenial adalah pilihan strategis untuk regenerasi dan meningkatkan produktivitas pertanian. Kementan membuat   gerakan 1 juta petani milenial,  sebagai program prioritas membangun manusia Indonesia di 2019 (Balitbangtan, 2019).

Petani milenial adalah mereka yang tergolong ke dalam usia milenial yaitu, 19 – 39 tahun. Atau, petani yang tidak berada dalam selang  umur tersebut tetapi berjiwa milenial, tanggap teknologi digital, tanggap alsintan dan mempunyai lahan," (BPPSDMP, 2019). Sedangkan teknologi yang didapatkan berasal berbagai sumber baik dari Balitbangtan, lembaga research, dan atau dengan petani maju yang didapatkan dari media informasi online, mainstream, youtube, dan media tercetak lainnya.

Kepala BPTP Kepri, Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP., mengatakan mulai tahun 2019 Balitbangtan dan Badan SDM Kementan RI bekerjasama dalam menumbuhkan petani milenial di masing-masing daerah.

BPTP Kepri telah menjalin kerjasama dengan Dinas Pertanian baik di tingkat provinsi maupun di kabupaten/kota yang ada di Provinsi Kepulauan Riau. Kegiatan yang dilakukan mulai dari sosialisasi di media radio, media sosial, dan media surat kabar online, kemudian dilanjutkan dengan mengidentifikasi dan pendataan petani milenial, dan setelah diketahui data dan informasi mengenai kondisi dan potensi petani milenial.

 BPTP Kepri  melakukan pembinaan baik teknis maupun kelembagaan petani milenial. Namun karena adanya kendala Covid-19 beberapa kegiatan dilakukan dengan menggunakan media teknologi komunikasi melalui online atau virtual.

 

Reporter : Jonri S. Sitompul dan Sugeng W.
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018