Peluang ekspor tanaman hias terbuka
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Komoditas florikultura menjadi salah satu yang mempunyai daya tarik di pasar ekspor. Dengan potensi kekayaan alam yang ada di Tanah Air dengan berbagi varietas khas tanaman hias, peluang Indonesia mengisi pasar sangat terbuka lebar.
Ditengah pandemi Covid 19, ekspor komoditas pertanian menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi untuk perekonomian Indonesia. Sektor pertanian memiliki kekuatan yang sangat besar dan merupakan sektor yang paling siap untuk menunjang pertumbuhan ekonomi makro.
Sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong ekspor komoditas unggulan sebagai sumber devisa, diantara tanaman hortikultura yang dikembangkan secara komersial di Indonesia, tanaman florikultura memiliki potensi ekspor yang sangat tinggi.
Saat ini preferensi pasar internasional mulai berubah ke arah tanaman hias tropis. Hal ini memberi peluang bagi pengusaha di dalam negeri, mengingat potensi pengembangan tanaman hias tropis di Indonesia sangat tinggi, karena Indonesia memiliki kekayaan genetik florikultura yang terbesar di dunia.
Inovasi teknologi
Dalam pengembangan industri florikultura, diperlukan dukungan inovasi secara berkelanjutan yang berupa varietas unggul baru dan teknologi pendukungnya. Ini menjadi faktor kunci dalam pengembangan subsektor florikultura.
Kedepannya, Kementerian Pertanian perlu melakukan sebuah langkah yang lebih besar dalam menghadirkan berbagai aktivitas komoditi pertanian yang makin terarah, makin maju dengan berbagai hasil riset, kemudian makin modern.
Kenapa Jepang bisa lebih baik dan kenapa Taiwan risetnya lebih baik? Hal ini karena negara tersebut memiliki penelitian lebih berkualitas dan negara memfasilitasi, sehingga riset makin berkembang. Langkah ini tentunya merupakan bagian-bagian dari upaya-upaya untuk memandirikan masyarakat sehingga bisa tumbuh dengan baik di seluruh Indonesia.
Dalam lima tahun terakhir, kegiatan riset florikultura telah menghasilkan inovasi unggulan yang dapat dikembangkan pengguna untuk mendukung pembangunan agribisnis florikultura. Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balitbangtan yang menjadi Pusat Unggulan IPTEK dibidang Florikultura.
Hingga kini telah dihasilkan sekitar 268 varietas unggul baru tanaman hias. Terdiri atas varietas krisan, anggrek, lili, anthurium, mawar, gladiol, gerbera, tapeinochilus, zingiber, alpinia, anyelir, sedap malam, dan impatiens. Tanaman tersebut sebagian besar telah di adopsi stakeholder, baik domestik (petani, pengusaha termasuk pemerintah daerah) maupun luar negeri.
Untuk inovasi teknologi lainnya adalah teknologi perbanyakan benih tanaman hias secara invitro, massalisasi benih anggrek melalui teknologi embriogenesis somatik berbasis bioreaktor, teknologi night break, pemupukan, dan pengendalian hama/penyakit secara terpadu.
Produk unggulan Gliokompos dan Bio Nutri saat ini telah dipatenkan dan dilisensikan. Bahkan varietas Puspita Nusantara telah diekspor ke luar negeri seperti Jepang, Jeddah, dan Kuwait. Selain itu, produk unggulan Balithi ini mampu memberikan economic benefit dan social impact yang cukup besar.
Varietas unggul krisan Balithi, misalnya, mampu menggantikan sekitar 35 persen dari total varietas yang beredar di pasar dalam negeri. Perlu diketahui, inovasi teknologi pendukung pengembangan Bunga Krisan Balithi memberikan dampak kenaikan produksi 18-20 persen dari produksi krisan nasional.
Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, Balithi telah memberikan kontribusi pada industri florikultura Indonesia sebesar Rp 311,6 miliar, dengan nilai RoI (Return of Investment) 2,30.
Seperti bunga krisan, yang sudah menghasilkan devisa besar. Kementan sudah melakukan inovasi bunga krisan yang tadinya hanya bisa ditanam di dataran tinggi kini sudah bisa ditanam di dataran rendah.
Untuk tanaman anggrek yang memiliki nilai estetika tinggi dengan warna dan bentuk bungan indah dan menarik, telah teridentifikasi Indonesia sekurangnya memiliki 5.000 spesies anggrek dari 43.000 spesies, dan 35.000 varietas hibrida anggrek di seluruh penjuru dunia. Tanaman anggrek Indonesia menempati posisi penting dalam industri florikultura karena selain jenisnya yang beraneka ragam (bentuk, warna serta ukuran bunganya).
Anggrek juga merupakan tanaman yang mudah beradaptasi dengan lingkungannya dan memiliki periode fase hidup yang lebih panjang dibandingkan bunga potong lainnya. Keanekaragaman anggrek spesies di Indonesia ini menjadi potensi sebagai induk silangan yang memungkinkan munculnya temuan anggrek varietas baru.
Badan Pusat Statistik dalam laporan 2019 menyatakan bahwa produksi anggrek bunga potong pada 2018 sebanyak 24.717.840 tangkai. Aggrek menempati posisi kelima setelah bunga potong krisan, mawar, sedap malam dan gerbera sebagai komoditas ekspor.
Beberapa negara tujuan ekspor adalah Jepang, Singapura, Korea, Jerman, Belanda, Selandia Baru dan Amerika Serikat. Nilai ekspor pada 2018 sekitar 339.686 dollar AS. Hal ini menunjukan peningkatan dibanding nilai ekspor pada 2017 yang berkisar 292.963 dollar AS.
Diharapkan pengembangan bunga hasil rekayasa genetika yang ada di Balithi harus disosialisasikan dengan baik ke masyarakat Indonesia maupun ke negara negara lain. Setiap perwakilan Indonesia di negara lain seperti Duta Besar (Dubes) dan atase pertanian harus ikut menjadi pelopor dalam mempopulerkan bunga hasil penelitian tersebut.
Dengan demikian, meski ditengah pandemi Covid-19, sektor pertanian sukses meningkatkan hasil produksi sehingga sektor pertanian menjadi satu-satunya sektor yang bertumbuh positif saat ini. Karenanya, jangan sampai pertanian memiliki nilai bagus, tapi sayangnya produk produk hasil pertanian banyak yang tidak bisa di pasarkan di masyarakat.