Saturday, 23 October 2021


Hilirkan Teknologi, BPTP Jabar Gunakan Cara Khusus

09 Oct 2021, 15:58 WIBEditor : Gesha

Peneliti BPTP Jabar menggunakan logical framework dalam diseminasi teknologi | Sumber Foto:BPTP Jabar

TABLOIDSINARTANI.COM, Cianjur -- Inovasi teknologi yang sudah dihasilkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sudah seharusnya sampai ke penyuluh dan petani. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jabar sendiri memiliki cara khusus untuk menghilirkan teknologi tersebut. 

"BPTP adalah kepanjangan tangan dari Balitbangtan yang menghasilkan beragam teknologi dan menghilirkannya dengan berbagai macam pendekatan, " ungkap Kepala BPTP Jabar, Dr. Yiyi Sulaeman, S.P., M.Sc saat Bimbingan Teknis bagi Petani dan Penyuluh di Kabupaten Cianjur, Sabtu (09/10). 

Salah satunya adalah dengan bimbingan teknis (Bimtek) dengan tiga tujuan, mulai dari meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dari penyuluh dan petani. 

"Paling tidak, mereka tahu ada teknologi ini itu dari Balitbangtan. Kemudian meningkatkan kemampuan minimal dari gak bisa menjadi bisa. Lalu terjadi perubahan attitude dan pandangan dari sebuah teknologi, dari belum setuju menjadi setuju dan akan mengikuti (rekomendasi) dari Balitbangtan, " jelas Yiyi. 

Lebih lanjut Yiyi menjelaskan, BPTP Jabar dalam diseminasi/hilirisasi teknologi menggunakan logical framework. "Kita adopsi dari ilmu pemasaran AIDATE yaitu Awareness, Interest, Desire, Action, Tell dan Engagement, " urainya. 

Sehingga, hilirisasi teknologi ini tidak hanya meningkatkan kesadaran (awareness) akan teknologi, meningkatkan ketertarikan (interest) akan teknologi serta hasrat (desire) untuk menerapkan (action) teknologi. 

"Tetapi dari bimtek ini, peserta (petani dan penyuluh) bisa menceritakan (telling) kepada yang lainnya serta komunitas bisa terlibat (engagement) dalam penerapan teknologi, " jelasnya. 

Karena itu, setiap peneliti di BPTP Jabar diarahkan pada logical framework ini dalam model diseminasi teknologi pertanian bagi penyuluh dan petani. 

Yiyi menambahkan, mengelola pertanian di Jawa Barat memang penuh tantangan karenanya perlu cara pandang yang berbeda dalam penerapan teknologi yang direkomendasikan serta pelibatan stakholder untuk mengurus pertanian bersama. 

"Di Jabar, 60 persen sawah adalah tadah hujan dengan model lahan berlereng. Kalau tidak ada pendekatan konsep, susah karena mudah erosi dan longsor. Pemupukan pun agak sulit karena pupuk menjadi mudah tercuci air. Di sisi lain sudah ada model pertanian berkelanjutan yang yang harus diimplementasikan insan pertanian, " jelasnya. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018