Sunday, 24 October 2021


Inpari Nutri Zinc, Bukan cuma Bikin Kenyang

11 Oct 2021, 13:44 WIBEditor : Gesha

Padi Inpari Nutri Zinc | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Besar --- Varietas Inpari Nutri Zinc, tak hanya menghasilkan beras yang bisa membuat kenyang, tetapi juga memiliki prospek bagus untuk dikembangkan selain memiliki nilai ekonomi, beras yang dihasilkan ini juga mengandung unsur Zinc tinggi. Sangat baik dikonsumsi dalam mencegah gizi buruk dan isu stunting.

"Selama ini penyebab petani enggan menanamnya, karena belum mengetahui beras fungsional ini sangat baik dikonsumsi untuk kesehatan. Kita harus bisa merubah mindset makan bukan hanya untuk kenyang tapi perlu untuk memenuhi nutrisi dan gizi," ujar Sulaiman Ginting manajer Harvest Plus saat koordinasi di Aula BPSBTPH Aceh (8/10).

Menurutnya, Harvest Plus berkomitmen mensukseskan MoU dengan Bappenas untuk fokus terhadap program pengembangan Inpari Nutri Zinc agar menyebar secara meluas. Hal ini penting katanya untuk mendukung program RPJM Nasional yang tertuang dalam Perpres no.18/2020. "Kegiatan riset dan uji multilokasi sudah selesai dilaksanakan. Target kita hingga tahun 2024 luasnya mencapai 200 ribu hektar di seluruh Indonesia," bebernya.

Sulaiman mengutarakan pihaknya memiliki keterbatasan untuk melakukan seleksi di seluruh wilayah di Indonesia. "Namun pada tahun ini kami sedang menjajaki peluang pengembangan (scalling up) untuk lahan 100 ribu hektar sesuai amanah RPJMN dari luasan tersebut kemungkinan salah satunya tersedia di Aceh," ungkapnya. 

Ia juga menyadari keberadaan Inpari Nutri Zinc di lapangan masih terjadi pro kontra. Alasannya karena bentuk bulir yang kecil, bobotnya sedikit dan bervariasi serta masalah rasa. Untuk itu lanjutnya pengusaha penggilangan padi perlu menciptakan peluang bisnis baru yang spesifik lagi sesuai keinginan pasar.

Selain itu juga dapat dilakukan melalui public education sehingga masyarakat tau dan mau mengkonsumsi beras sehat. "Sementara bagi para pebisnis ini menjadi hal yang menarik karena Inpari Zinc adalah beras spesial boleh dijual di atas harga eceran tertinggi (HET)," timpalnya. Karenanya, untuk menambah kegairahan petani menanam Inpari Zinc, sebenarnya Dinas Sosial berkewajiban untuk mendistribusikan beras biofortifikasi ini melalui programnya.

Sementara Kepala Balai Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh Habiburrahman S.TP., MSc menjelaskan bahwa pihaknya siap dalam melakukan pendampingan teknis budidaya dan penangkaran benih sumber. Pihaknya akan bersinergi melalui kegiatan benih sumber di beberapa kabupaten, termasuk dukungan BPTP Aceh melalui kegiatan UPBS-nya.

Di Kabupaten Aceh Jaya, ada 20 hektar penangkaran benih Inpari Zinc. Namun yang menjadi persoalannya sekarang di penggilingan padi karena bentuknya yang kecil losesnya lebih banyak dan tidak bisa bercampur dengan beras lain, sehingga costnya lebih mahal.

Ke depan kita akan melakukan fungsi koordinasi dengan instansi terkait. Pasalnya ini hanya masalah selera mata dan selera rasa saja. "Saya optimis melalui koordinasi dan kolaborasi yang baik Inpari Zinc akan diterima masyarakat Aceh secara meluas," imbuhnya.

Peneliti BPTP Aceh, Dr Basri A. Bakar MSi yang juga pakar komunikasi menyebutkan dari segi produktivitas Inpari Nutri Zinc tidak kalah dibanding dengan varietas lainnya. Walau secara bentuk dan rasa merupakan kendala, namun perlu mengantisipasi melalui isu dan manfaat yang terkandung dalam Inpari Zinc. "Suatu inovasi agar mudah diadopsi oleh petani salah satu yang diperhitungkan yaitu keuntungan relatif dari komoditi yang dihasilkan," timpalnya.

Ke depan tak pelak jika Inpari Nutri Zinc ini dilakukan modifikasi dengan melibatkan Dr Effendi pemulia dari akademisi USK Banda Aceh. "Pasalnya ini penting dilakukan untuk memenuhi target pasar dan nilai jual juga selera konsumen," tukasnya.

Pertemuan dihadiri Kepala BPSBTPH, Habiburrahman dan manajer Harvest Plus, tim ahli Teuku Iskandar, Kasi Benih Distanbun Aceh, peneliti BPTP Aceh dan pengawas Benih juga tim Harvest Plus wilayah Aceh serta pengusaha.

Dari pertemuan tersebut perlu adanya gerakan dalam bentuk demplot di kabupaten Pidie, Pidie Jaya dan Aceh Besar. Untuk itu perlu kerjasama antara penangkar dan pengusaha yang tertuang dalam MoU.

Sementara tim pengawas benih akan melakukan fungsi pembinaan dan pengawasan. Acara yang berlangsung sehari penuh tersebut dilanjutkan kunjungan ke salah satu penangkar benih milik Heri di Gampong Lamleubok, Indrapuri kabupaten Aceh Besar.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018