Friday, 07 May 2021


Untung Ganda Beternak Ayam Pedaging di Kebun Sawit

15 Apr 2021, 07:56 WIBEditor : Ahmad Soim

Peternakan ayam pedaging di Aceh | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Blang Pidie -- Mulanya hanya sekedar hobi. Lalu ada mitra mengajak untuk berbisnis peternakan Ayam pedaging, maka ia bergabung.

Kerjasama bisnis ternak ayam pedaging ini dimulainya tahun 2019. Awal mula hanya ada 3 peternak. Sekarang sudah berkembang meningkat jumlahnya menjadi 8 peternak yang  menjalin kerjasama dengan Usaha Ternak Indo Jaya Agrinusa di desa Krueng Bate, kecamatan Kuala Bate, Blang Pidie. 

Masyarakat di Aceh Barat Daya (Abdya) dan Aceh secara umum gemar mengkonsumsi ayam pedaging. Hal itu terlihat pada saat Meugang di Aceh kemarin, sebagian masyarakat lebih memilih ayam ketimbang daging kerbau/sapi.

Berbisnis Ayam pedaging merupakan peluang usaha baru yang sangat menjanjikan, apalagi mitra bisnis tersebut sudah ada di Aceh sejak 2007 (setelah tsunami). Sarmadi mempelajari sampai akhirnya memahami sehingga ia bergabung menjadi mitra bisnis. Manajemen bisnis yang diterapkan, menurutnya sangat dinamis dan terus berkembang seiring berjalannya waktu

Mulai Januari 2019 hingga Maret 2021 ini, dari 3.200 ekor terus berkembang hingga sekarang telah meningkat menjadi 15.000 ekor. Awalnya dari 3.200 ekor setelah dua kali panen dikembangkan lagi menjadi 4.300 ekor. Untuk panen yang ke enam maka dia berinisiatif memperluas kandangnya  panjang 100 meter dan lebarnya 7 meter, hingga dapat menampung 5.500 ekor. Untuk mengelola kandang seluas itu, pihaknya hanya melibatkan tiga tenaga kerja.

Kandang ayam tersebut terletak dalam kebun sawit seluas 5 hektar (integrasi antara peternakan dan perkebunan) sehingga hasil kotoran ternak ayam dapat dijadikan sebagai pupuk untuk tanaman sawit.

Untuk sawit biasa digunakan pupuk SP36 sebanyak 200 kg per 6 bulan sekali. Namun setelah ditambahkan pupuk organik kotoran ayam setiap periode panen 47 hari (umur ayam 32 hari, masa cuci dan istirahat kandang 15 hari), terjadi efisiesi penggunaan SP36, hanya 200 kg/tahun.

Untuk tanaman Padi hanya diberikan ZA, SP36 dan KCl dengan adanya kotoran ayam, maka pupuk kimia yang diberikan dikurangi sehingga lebih hemat pupuk.

Selain itu, kotoran ayam juga bisa dikembangkan lagi untuk pupuk organik bagi tanaman Padi. Dirinya juga selain memiliki kebun sawit  yang ditanam sejak tahun 2010, juga ada menanam Padi Inpari dan Sigupai yang merupakan varietas padi lokal setempat. Hasilnya selain tandan sawitnya semakin banyak berbuah juga Padi yang ditanampun meningkat produktivitasnya.

Hasil Sawit setiap 17 hari sekali panen sebelumnya hanya 4 ton, tapi sekarang naik menjadi 6,5 ton. Begitu juga hasil Padinya, sebelum diberikan pupuk organik (kotoran ayam) sebelumnya hanya 4 - 4,5 ton/ha, namun setelah dimanfaatkan kotoran Ayam meningkat menjadi 6 - 6,5 ton/ha. Untuk Sigupai dari 4 ton naik menjadi 4,5 hingga 5 ton/ha.

Modal awal yang dikeluarkan untuk membangun kandang berkisar Rp 180 juta kombinasi bangunan beton dan kayu. Tadinya bangunan kandangnya hanya 54 m x 7 m, pengembangan kandang tersebut diperoleh dari hasil panen ayam tersebut. 

"Sehingga sekarang ini investasi yang dimilikinya berkisar Rp 315 juta. Rata rata untuk biaya tambahan bangunan dan peralatan per 100 meter menghabiskan biaya Rp 45 juta", ungkapnya.

Selain itu pihaknya tidak perlu mengeluarkan modal lagi, termasuk anak ayam DOC berumur tiga hari, pakan dan obat-obatan ditanggung mitra semuanya. Sebelumnya DOC dibawa dari Medan, namun setelah ada industri ternak di daerah Seulimum, Kabupaten Aceh Besar tahun 2020, sehingga pasokan bibit tidak lagi tergantung dari Medan.

Umur panen Ayam pedaging hanya 32 - 34 hari dari sejak DOC dipelihara. Harga per kilogramnya ditampung mitra Rp 18.600 sesuai dengan perjanjian kontrak. Terlepas harga ayam di pasar naik ataupun turun.Rata rata berat per ekor 2,2 kilogram, pakan diberikan sesuai dengan laju pertumbuhan berat ayam.

Karena merasa beruntung, maka akhir 2020 lalu ia mengembangkan lagi ternak ayam di desa Blang Petek, kecamatan Padang Tiji, Pidie. Jumlah kandang dua unit, dengan luas kandangnya masing-masing 70  x 9 meter terletak pada lahan seluas tujuh hektar. Kandang tersebut disewa selama dua tahun, per tahunnya Rp 30 juta, dan menyerap tiga tenaga kerja yang sudah terlatih dan berpengalaman. Semua tenaga kerja yang dilibatkan adalah para milenial dengan pembayaran gaji berdasarkan persentase hasil yang diperoleh, berkisar 25 persen.

BACA JUGA:

Dalam pemeliharaan biasanya akan terjadi kematian (mortalitas) pada ayam sekitar 2 -;3 persen, jadi keberhasilannya bisa mencapai 97 persen. "Tingginya persentase keberhasilan, karena kita memeliharanya  secara intensif", elaknya.

Dari 5.000 ekor ayam tersebut jika diperoleh berat rata - rata 2,2 kilogram per ekor maka akan menghasilkan 11 ton dikalikan dengan harga kontrak Rp 18.600/kg. "Namun jika harga pasar lebih tinggi dari harga kontrak, mitra akan memberikan bonus pasar berkisar 50 persen kepada peternak", ujarnya bangga.

Mampu Beli Mobil

Dari semangatnya itu patut diancungkan jempol. Karena hasil usahanya telah mampu membeli satu unit mobil pickup untuk mendukung operqsional di lapangan.

Kalau dihitung secara detail, maka keuntungan yang akan kita peroleh dari peternakan ayam tersebut bisa mencapai keuntungan bersih Rp 30 sampai 32 juta per panen, setelah dipotong biaya lainnya.

Disamping itu, kebun tersebut diintegrasikan dengan Sapi dan Kambing, jadi hasil kotorannya  dapat dijadikan kompos. Selain untuk digunakan sendiri, pupuk yang dihasilkan bisa dijual sebagai pupuk organik.

Lokasi di Pidie, satu unit kandang diisi sebanyak 5.000 ekor, untuk dua unit kandang berisikan 10.000 ekor ayam. Tugas kita hanya pembesaran saja, soal pasar dan harga sudah dijamin oleh mitra. "Sementara ini hasil panen Ayam hanya untuk lokal Aceh saja, itupun masih kurang", tantangnya.

"Harapannya kedepan, industri peternakan ayam ini semakin maju dan berkembang, sehingga kebutuhan untuk Ayam pedaging tidak perlu lagi di pasok dari luar Aceh", sambungnya.

Untuk itu dia mengajak para milenial yang ingin beternak dan berbisnis dengan mitra kerja, ini merupakan peluang yang sangat cocok untuk bekerjasama. Dengan syarat kita harus memiliki lahan minimal 500 meter dari penduduk dan dengan membangun kandang sesuai persyaratan yang ditetapkan oleh mitra. 

"Kita tidak bisa membuat kandang atas keinginan sendiri semua persyaratan tersebut sesuai standar dan hasil survei dari mitra", timpalnya.

Selain harus mendapatkan izin, juga tersedia listrik 10 Amper, dan harus kita penuhi sendiri.

Mudah-mudahan kesempatan ini dapat menyerap lapangan kerja milenial, sehingga waktu yang selama ini hanya dimanfaatkan untuk bermain HP/Game dapat beralih untuk masa depan yang lebih baik. 

Dengan demikian akan meningkatkan produktiviatas sumbernya manusianya. Pekerjaannya santai, namun memberikan hasil dan keuntungan berlipat ganda. "Waktu umur ayam DOC hanya memberikan pakan sebanyak 1 - 2 sak (100 kg) pakan untuk jumlah 5.000 ekor ayam. Pada saat umur ayam 20 hari hingga panen, pakan yang diberikan 15 - 20 sak per hari", jelasnya.

"Untuk mendapatkan hasil yang maksimal kita harus bekerja serius, dengan memperhatikan waktu pemberian pakan dan juga menjaga kebersihan kandang. Sehingga ayam merasa hidupnya nyaman. Sehingga mampu tumbuh dan berkembang sesuai harapan", pungkasnya.

Sarmadi yang saat ini bertugas sebagai teknisi kegiatan kawasan rumah pangan lestari Dinas Pangan Aceh, menghimbau agar masyarakat juga bisa beternak ayam di pekarangannya masing-masing. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga melalui telur atau daging ayam dapat terpenuhi sendiri.

Selain itu katanya lagi, "dengan memelihara ayam petelur maupun pedaging hasil kotoran ayam tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sehingga kita bisa mengkonsumsi sayur sayuran sehat bebas pestisida dan kimia", bebernya.

Sarmadi Zakaria putra kelahiran Krueng Batee, Abdya 54 tahun lalu, yang menamatkan pendidikan SD, SMP dan SMA di Jakarta. Kini ia memiliki seorang cucu, buah hati dari anak semata wayangnya yang bernama, Ratna Juwita (kini sedang melanjutkan program pascasarjana S2), juga turut membantu bisnis Ayahnya beternak ayam di Kabupaten Pidie. 

Disamping itu, istrinya Mehran yang bertugas sebagai penyuluh di BPTP Aceh juga ikut mendukung usaha suami tercinta. 

Jelang pensiun, pria alumni Fakultas Pertanian, Universitas Abulyatama Aceh tahun 2004 dan suka mengotakngatik alat alat elektronik itu berharap, semoga kedepan, anak dan mantunya dapat melanjutkan bisnisnya dan merangkul para milenial untuk lebih maju, mandiri dan modern.

--+

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018