
rogram Percepatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN)
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mendukung pembangunan subsektor peternakan dan kesehatan hewan. Dengan Tema Ternak Sehat, Peternak Sejahtera dan Indonesia Maju, diharapkan menjadi momentum kebangkitan dunia peternakan dan kesehatan hewan Indonesia.
Melihat sejarahnya, Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan berawal dari larangan pemotongan sapi betina produktif (26 Agustus 1836). Selanjutnya tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Peternakan. Namun sejak Tahun 2023 berganti menjadi Hari Peternakan dan Kesehatan Hewan Nasional. Artinya tahun ini kegiatan memasuki tahun ke 189.
Puncak Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan akan berlangsung di Kabupaten Bogor pada 20-21 September 2025. Menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, pada acara Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan bukan hanya sekadar event tahunan. Tetapi bagian dari upaya Pemkab Bogor mendukung program nasional bidang peternakan dan kesehatan hewan.
"Kami menaruh perhatian besar terhadap sektor peternakan. Bahkan kita siapkan puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan), agar ada manfaat nyata bagi masyarakat. Ini sejalan dengan arahan Presiden melalui astacita, sehingga apa yang diperintahkan secara nasional bisa diwujudkan di daerah," katanya.
Jika melihat perjalanan yang sudah sangat panjang, lebih dari satu abad dunia peternakan di Indonesia, maka banyak hal yang sudah dilalui dan pasang surut. Banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan dalam dunia peternakan dan kesehatan hewan. Apalagi Pemerintah mempunyai target besar di sektor peternakan yakni swasembada daging sapi dan susu.
Untuk mencapai target tersebut tak semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, hingga kini kedua produk ternak tersebut masih banyak dipasok dari impor.
Misalnya, dengan kebutuhan daging dalam negeri sebanyak 770 ribu ton, tapi produksinya hanya 370 ribu ton, sehingga masih defisit sebanyak 400 ribu ton. Begitu juga susu, produksi dalam negeri hanya sekitar 1 juta ton, padahal kebutuhan mencapai 4,7 juta ton. Artinya, kebutuhan dalam negeri sebagian besar berasal dari impor hingga 3,7 juta ton.
Belum lagi permasalahan kesehatan hewan yang kerap muncul. Misalnya, wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang mewabah kembali tahun 2022 menyebabkan banyak ternak sapi, baik potong maupun perah mati. Kasus tersebut membuat peternak dalam negeri mengalami kerugian sangat besar dan terpaksa gulung tikar.
Dampak dari PMK yang paling parah adalah sapi perah dan sapi potong. Untuk sapi perah diperkirakan kemungkinan bisa terkena mencapai 30 persen dan menyebabkan produksi susu turun. Sapi potong 20 persen untuk sapi dewasa dan 50 persen sapi bakalan.
PR lain yang kini harus dapat diselesaikan adalah pemenuhan kebutuhan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Diperkirakan kebutuhan terhadap susu, telur, daging dan ayam dalam program ini sangat besar. Kebutuhan susu pada 2029 sekitar 8,5 juta ton dan daging sapi 880 ribu ton. Untuk telur dan ayam, produksi dalam negeri diperkirakan mencukupi atau surplus.
Untuk menggenjot produksi daging dan susu, pemerintah akan menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Program Percepatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN). Apa saja programnya, baca halaman selanjutnya.