
Mentan, Andi Amran Sulaiman melepas ekspor produk ternak
TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Minat pasar luar negeri terhadap produk peternakan Indonesia ternyata cukup tinggi. Terlihat saat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman melepas ekspor produk unggas dan turunannya ke tiga negara sebanyak 545 ton senilai Rp 18.2 miliarpada Selasa (3/3) dari gedung Kementerian Pertanian.
Langkah ini menegaskan posisi industri perunggasan nasional yang tidak hanya telah swasembada ayam dan telur, tetapi juga mulai memperluas ekspansi ke pasar global.
“Hari ini kita melepas ekspor produk unggas dan turunannya ke tiga negara yaitu Singapura Jepang dan Timor Leste,” kata Amran. Namun hingga kini Indonesia sudah mengekspor produk unggas ke-10 negara termasuk, Uni Emirat, Arab Saudi, Qatar, Papua Nugini, Myanmar dan beberapa negara lainnya.
Pelepasan produk unggas ini berasal dari empat perusahaan. Pada tahap pertama, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk mengirim 41,3 ton telur senilai sekitar Rp 1,2 miliar. Totalnya perusahaan tersebut mengekspor 517 ton telur konsumsi atau setara 8,13 juta butir ke Singapura senilai Rp 15,90 miliar.
Selain itu, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk mengekspor 6 ton olahan ayam ke Singapura senilai sekitar Rp 1 miliar. Sementara itu PT Taat Indah Bersinar mengirim 22 ton olahan ayam dan karkas ke Timor Leste senilai Rp 837 juta. PT Malindo Food Delight menembus pasar Jepang dengan 6 ton produk olahan seperti nugget dan karaage senilai Rp 271,3 juta.
Amran menegaskan, jika ada pengusaha akan mengekspor produk pertanian, maka pemerintah akan mendorong. Bahkan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan akan melakukan pengawalan.
“Kalau yang hubungannya ekspor kita akan dorong. Insya Allah Dirjen PKH akan kami tugaskan khusus untuk mengawal ekspor ayam unggas dan turunannya ke negara-negara lain,” ujarnya.
Dengan adanya ekspor produk ternak ini, Amran mengatakan, akan menambah devisa negara dan menciptakan lapangan kerja. Untuk itu, Amran juga meminta pelaku usaha juga bisa memberikan nilai tambah dari produk ternak yang diproduksi.
“Kita dorong ekspor ke negara-negara lain. Sekarang ada 10 negara tujuan dan langganan ekspor. Untuk hari ini ada tiga negara tujuan yang akan kita kirim berupa telur ayam dan produk unggas,” tuturnya seraya menambahkan, ekspor produk ternak dilakukan secara bertahap.
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menyampaikan, keberhasilan ekspor tidak terlepas dari penguatan sistem kesehatan hewan, jaminan keamanan pangan, serta pengawasan berbasis standar internasional.
“Setiap produk yang diekspor telah melalui proses sertifikasi veteriner dan pengawasan ketat sesuai persyaratan negara tujuan. Kami memastikan aspek traceability, biosekuriti, dan keamanan pangan terpenuhi agar ekspor berkelanjutan,” ujar Agung.
Ia menambahkan, pembukaan dan pemeliharaan akses pasar luar negeri dilakukan melalui diplomasi veteriner yang intensif. “Kami terus memperkuat komunikasi teknis dengan otoritas veteriner negara mitra. Kepercayaan pasar internasional harus dijaga dengan konsistensi mutu dan kepatuhan terhadap standar,” katanya.
Dengan produksi yang melimpah dan pasar ekspor yang terus tumbuh, pelaku usaha perunggasan nasional kini berada pada posisi yang lebih kuat. Kementan menegaskan akan terus mengawal keseimbangan antara surplus produksi, stabilitas harga di tingkat peternak, serta perluasan pasar global, sehingga industri unggas nasional semakin mandiri dan berdaya saing.