Wednesday, 21 October 2026


Pakan Babi Makin Mahal? PPL TTU Bongkar Cara Racik Pakan Lokal Hemat dan Bergizi

14 Sep 2026, 11:40 WIBEditor : Gesha

Harga pakan babi terus naik? PPL TTU mengajak petani meracik pakan dari bahan lokal yang lebih hemat, bergizi, dan mudah dibuat sendiri.

TABLOIDSINARTANI.COM, Timor Tengah Utara – Harga pakan babi terus naik? PPL TTU mengajak petani meracik pakan dari bahan lokal yang lebih hemat, bergizi, dan mudah dibuat sendiri.

Harga pakan pabrikan yang terus menekan biaya produksi bikin peternak babi harus putar otak. 

Jangan buru-buru menyerah. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, membongkar cara membuat pakan babi sendiri dengan memanfaatkan bahan lokal yang lebih murah dan mudah ditemukan.

Pelatihan tersebut digelar di Desa Oenbit, Kecamatan Insana, Jumat (11/9/2026). 

Anggota Kelompok Tani Dewasa (KTD) Besnaen Tafenok mendapat penyuluhan sekaligus praktik langsung meracik pakan babi dari bahan yang tersedia di sekitar mereka.

PPL Dinas Pertanian Kabupaten TTU Susana K. Tahun, SP, mengatakan kemampuan membuat pakan secara mandiri menjadi bekal penting bagi peternak. 

Dengan begitu, peternak nggak harus sepenuhnya bergantung pada pakan komersial.

“Praktik pembuatan pakan ternak babi ini bertujuan membekali peternak dengan kemampuan membuat pakan yang tepat guna, hemat, dan bergizi sesuai kebutuhan ternak,” kata Susana di Kefamenanu, Senin (14/9).

Susana menjelaskan, pakan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan pertumbuhan, kesehatan, dan produktivitas babi. Karena itu, pakan murah bukan berarti asal murah.

Komposisinya tetap harus memperhatikan kebutuhan nutrisi ternak, mulai dari protein, karbohidrat, lemak, vitamin hingga mineral.

Kebutuhan tersebut juga berbeda-beda. Babi untuk pembibitan, penggemukan, induk bunting maupun induk menyusui membutuhkan komposisi pakan yang disesuaikan dengan kondisi tubuh dan fase produksinya.

Nah, di sinilah peternak perlu cermat. Bahan lokal bisa menjadi solusi menekan biaya, tetapi harus dipilih dan diolah dengan benar.

Beberapa bahan yang bisa dimanfaatkan antara lain jagung, dedak, ampas tahu, ubi, daun singkong, daun lamtoro serta limbah dapur yang masih layak dan aman diberikan kepada ternak.

“Peternak dapat memanfaatkan bahan pakan lokal sehingga biaya yang dikeluarkan lebih rendah dibandingkan jika terus membeli pakan pabrikan,” ujarnya.

Selain menghemat biaya, pemanfaatan bahan lokal juga membantu mengurangi limbah pertanian dan mengoptimalkan sumber daya yang ada di desa.

Begini Cara Mengolah

Untuk peternak yang ingin mencoba, prinsip dasarnya sebenarnya sederhana.

Bahan sumber energi seperti jagung atau ubi bisa dipadukan dengan bahan sumber protein seperti ampas tahu.

Dedak kemudian digunakan sebagai salah satu bahan penyusun campuran.

Pertama, pilih bahan yang aman. Jagung dan ubi harus bebas dari jamur. Dedak juga jangan berbau tengik atau apek. 

Limbah dapur harus dipilah dan tidak boleh mengandung bahan busuk, benda asing, plastik, atau sisa makanan yang berpotensi membahayakan ternak.

Kedua, bersihkan dan olah bahan. Jagung dapat digiling terlebih dahulu agar lebih mudah dikonsumsi. Ubi dan daun-daunan sebaiknya dicuci, kemudian dicacah. 

Daun singkong perlu mendapat perlakuan yang tepat sebelum diberikan dalam jumlah berarti karena mengandung senyawa yang dapat merugikan ternak jika tidak diolah dengan baik.

Untuk bahan berkadar air tinggi seperti ampas tahu, peternak juga perlu memperhatikan penyimpanan. Bahan tersebut sebaiknya segera digunakan atau diolah agar tidak cepat rusak.

Ketiga, lakukan pencampuran secara merata. Bahan kering seperti dedak dan jagung giling dicampur terlebih dahulu. 

Setelah itu, bahan lain dimasukkan sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai seluruh komponen tersebar merata.

Jangan langsung membuat dalam jumlah besar kalau belum punya pengalaman. 

Peternak bisa mencoba skala kecil lebih dulu dan melihat respons ternak, pertambahan bobot badan serta kondisi kotorannya.

Keempat, fermentasi jika diperlukan. Fermentasi bisa digunakan untuk membantu mengolah bahan tertentu agar lebih mudah dimanfaatkan ternak. 

Bahan harus dicampur dengan starter sesuai petunjuk produk yang digunakan, kemudian ditempatkan dalam wadah bersih dan tertutup.

Yang perlu diingat, fermentasi bukan sekadar mencampur bahan lalu menyimpannya. 

Kondisi bahan, kadar air, kebersihan wadah dan lama fermentasi harus diperhatikan. 

Jika hasil fermentasi berjamur, berbau busuk menyengat, atau menunjukkan tanda kerusakan, jangan diberikan kepada ternak.

Kelima, simpan dengan benar. Pakan yang sudah jadi harus ditempatkan di tempat kering, bersih, tidak lembab dan terlindung dari tikus maupun serangga. 

Pakan yang mengandung bahan basah sebaiknya tidak disimpan terlalu lama.

Cara ini penting karena pakan yang rusak bukan cuma membuat biaya terbuang, tetapi juga bisa mengganggu kesehatan babi.

Pertumbuhan Tetap Dikejar

Menurut Susana, keterampilan yang diberikan kepada peternak bukan hanya soal mencampur bahan. 

Mereka juga belajar teknik pengolahan, fermentasi hingga penyimpanan pakan.

Tujuannya agar peternak mampu menghasilkan pakan yang lebih ekonomis sekaligus tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi ternak.

“Dengan pakan yang berkualitas dan biaya yang lebih murah, konversi pakan atau FCR dapat menjadi lebih baik, babi tumbuh lebih cepat, dan keuntungan peternak meningkat,” katanya.

FCR atau feed conversion ratio pada dasarnya menggambarkan seberapa efisien pakan yang diberikan diubah menjadi pertambahan bobot badan. 

Semakin efisien penggunaan pakan, semakin baik pula peluang peternak menekan biaya produksi.

Namun, peternak tetap perlu berhati-hati. Jangan hanya mengejar harga pakan paling murah. 

Bila kandungan nutrisi tidak mencukupi atau bahan yang digunakan rusak, pertumbuhan ternak justru bisa terganggu dan biaya pengobatan dapat meningkat.

Pelatihan di Oenbit ini dihadiri Pemerintah Desa Oenbit, siswa-siswi praktik dari SMK St. Pius X Insana, 20 anggota kelompok tani, serta masyarakat setempat.

Susana berharap keterampilan yang diperoleh peternak tidak berhenti setelah pelatihan. 

Pengetahuan tersebut diharapkan bisa diterapkan secara berkelanjutan sehingga peternak mampu memanfaatkan potensi bahan pakan di wilayahnya.

Bagi peternak babi, langkah ini bisa menjadi jalan keluar saat harga pakan komersial terasa makin berat. 

Bahan yang selama ini dianggap sederhana seperti jagung, dedak, ubi, ampas tahu hingga daun tertentu ternyata bisa punya nilai ekonomi lebih tinggi ketika diolah dengan tepat.

Kuncinya satu, bukan sekadar pakan murah, tetapi pakan lokal yang aman, bergizi, dan sesuai kebutuhan ternak.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018