Wednesday, 22 January 2020


Kostraling, Penggilingan Padi Jadi Bagian Kostratani

14 Jan 2020, 14:58 WIBEditor : Yulianto

Buruh sedang menjemur gabah | Sumber Foto:Dok. SInta

Dengan Kostraling bukan hanya untuk mengamankan produksi dan menurunkan losses, tapi juga mengamankan stok nasional, bahkan juga bisa ekspor

TABLOIDSINARTANI.COM, Depok---Sebagai pelengkap Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani), Kementerian Pertanian mencanangkan Komando Startegi Pembangunan Penggilingan Padi (Kostraling). Dengan adanya Kostraling diharapkan bisa membantu menekan kehilangan hasil panen padi yang kini mencapai 12 persen.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, saat ini kehilangan hasil (losses) usai panen mencapai 12 persen. Diharapkan dengan adanya Kostraling bisa diturunkan menjadi 5 persen. "Untuk menurunkan losses, ujung-ujungnya di RMU (rice milling unit) yang baik," ujarnya di Depok, Senin (13/1).

Dengan adanya Kostraling bukan hanya untuk mengamankan produksi dan menurunkan losses, tapi juga mengamankan stok nasional, bahkan juga bisa ekspor. Kita ingin ekspor tahun ini sebanyak 100 ribu ton. Kita harus persiapkan dari hulu yakni budidayanya hingga hilirnya di penggilingannya," ujarnya.

Karena itu menghadapi musim panen yang sudah mulai ada di beberapa daerah pada Januari ini, Syahrul menghimbau agar perusahaan penggilingan padi membantu mengamankan harga gabah petani. Apalagi panen akan terus berlanjut, pada Februari sekitar 30-40 persen, Maret bertambah menjadi 50-60 persen dan April diperkirakan menjadi puncak panen.

Namun demikian menurut Syahrul, tidak semua penggilingan padi menjadi bagian dari Konstraling, tapi hanya wilayah utama. Sedangkan di wilayah andalan boleh ada atau tidak Kostraling tergantung kondisinya. Sementara untuk wilayah pengembangan tidak perlu ada Kostraling.  “Jadi yang benar-benar siap saja yang menjadi bagian Kostraling, karena ujung-ujungnya kita ingin ada ekspor beras,” ujarnya.

Karena itu untuk program Kostraling ini, pemerintah menyediakan anggaran sekitar Rp 3 triliun untuk intervensi ke penggilingan padi. Sehingga diharapkan nantinya, RMU di Indonesia juga sebaik di Korea atau China.

“Saya minta agar penggilingan padi didata yang baik. Tidak semua harus masuk Kostraling. Kalau pasca panen kita kalah, maka sulit kita bersaing di pasar ekspor,” tambahnya.

Jumlah Penggilingan Padi

Data Litbang Pertanian menyebutkan, komposisi penggilingan padi berdasarkan skala usaha. Jumlah penggilingan padi kecil mencapai 68.386 unit atau 62,96 persen dari total penggilingan beras di Indonesia sebanyak 108.612 unit. Tingkat rendemennya hanya 55,71 persen dan kualitas beras kepala 74,25 persen.

Jumlah penggilingan besar sebanyak 5.133 unit (4,73 persen). Tingkat rendemennya mencapai 61,48 persen dan kualitas beras kepala 82,45 persen. Adapun penggilingan padi skala sedang sebanyak 35.093 unit (33,31 persen), dengan rendemen 59,69persen dan kualitas beras kepala 75,73 persen.

Berdasarkan hasil sensus BPS, kehilangan hasil di penggilingan mencapai 2,89 persen. Mengapa masih tetap tinggi? Penyebabnya, penggilingan padi di Indonesia didominasi penggilingan kecil yang kapasitasnya di bawah 1.000-1.500 kg per jam.

Penggilingan padi kecil ini teknologinya sudah lama, rata-rata banyak yang satu fase. Artinya antara husker (pengupas/pemecah kulit) dan polisher (pengilap) jadi satu tanpa melalui separator.  Dengan demikian harus ada upaya merevitalisasi penggilingan padi.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018