Monday, 28 September 2020


Inilah Stimulus Pemerintah untuk Sektor Pertanian

10 Aug 2020, 16:25 WIBEditor : Yulianto

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo saat memberikan arahan pada pelantikan Pengurus Peragi DKI Jakarta | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta----Pandemi Covid-19 telah berdampak buruk pada perekonomian dunia, tak terkecuali dengan Indonesia. Namun di tengah memburukanya ekonomi, ternyata pertanian menjadi penyangga ekonomi. Meski PDB pertanian tetap tumbuh positif 16,24 persen pada triwulan II 2020,  namun Kementerian Pertanian tetap menyiapkan beberapa stimulus untuk pertanian dalam menghadapi pandemi Covid-19.

 “PDB tahun 2020, pertumbuhan pertanian mencapai 16,24 persen, jauh di atas pertumbuhan nasional yang turun 4,19 persen pada periode yang sama,” kata Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat memberikan sambutan Webinar Peragi dan pelatikan Pengurus Peragi DKI Jakarta, Senin (10/8).

Bukan hanya pertumbuha PDB yang positif, pertanian juga menjadi penyokong pertumbuhan lapangan usaha di tengah banyak berkurangnya lapangan kerja akibat dampak Covid-19. Pertumbuhan PDB pertanian tersebut disumbang subsektor tanaman pangan dengan memasuki panen raya dan seubsektor hortikultura dan perkebunanan, khususnya komoditas sawit, kopi dan tebu.

Meski pertumbuhan PDB positif, SYL menegaskan, pihaknya tetap menyiapkan beberapa stimulus. Diantaranya, dalam jangka pendek melakukan refocusing anggaran, pengembangan barbershop untuk 11 pangan pokok, kegiatan pasar murah, kemitraan dengan petani dan mendorong tumbuhnya star-up pertanian.

“Kami juga melakukan percepatan tanam pada Mei-September seluas 5,8 juta hektar,” kata SYL. Dari luasan tersebut, diharapkan akan ada produksi beras sebanyak 12,5-15 juta ton pada akhir Desember 2020. Dengan tambahan produksi  tersebut, nantinya ada stok sebanyak 1,1 juta ton carry over pada tahun 2021.

Selain stimulus tersebut, SYL mengungkapkan, pihaknya juga menyiapkan empat cara bertindak. Pertama, peningkatan kapasitas produksi melalui percepatan tanam, pengembangan kawasan pangan (food estate) di Kalimantan Tengah, perluasan areal tanam di daerah baru.

Kedua, diversifikasi pangan lokal seperti ubi kayu, sorgum dan sagu dan pemanfaatan lahan pekarangan dengan program P2L. Ketiga, penguatan cadangan pangan.  Yakni, melalui penyediaan cadangan pangan daerah, baik di provinsi, kabupaten dan kota, serta akselerasi melalui lumbung pangan desa bekerjasama dengan konstraling dan penguatan logistik.

Keempat, pengembangan pertanian modern melalui smart farming dan food estate, khusus untuk komoditas padi, jagung dan kedelai.  “Dengan stimulus tersebut, kita harapkan kekhawatiran FAO dapat diminimalisir sekecil mungkin, sehingga kita dapat memulihkan ekonomi,” katanya.

SYL mengakui, secara global, bangsa di dunia  termasuk  Indonesia menghadapi tiga tantangan besar. Pertama, pendemi Covid-19 yang terjadi sejak awal tahun 2020, secara langsung maupun tidak langsung telah menjadi ancaman bagi ketahanan pangan. “Dampak Covid-19 sangat luar biasa dan tidak pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

Tantangan kedua, menurut SYL, peringatan FAO akan terjadi krisis pangan di negara-negara Afrika dan Asia. Namun demikian, indeks ketahanan pangan Indonesia pada tahun 2019 berada diperingkat 5 dari 9 negara di Asia. Sedangkan di Asia Pasifik berada diperingkat 12 dari 23 negara. “Ini harus mendapat perhatian kita melalui berbagai upaya agar peringkat kita menjadi lebih baik,” katanya.

Tantangan ketiga, adanya perang dagang AS dan Tiongkok. Karena beberapa produk pangan Indonesia, baik ekspor maupun impor terkait dengan dua negara tersebut, harus diantisipasi terhadap penyediaan pangan di dalam negeri.

Sementara itu Ketua Umum Perhimpunan Ahli Agronomi Indonesia (Peragi), M. Syakir juga mengakui, dampak Covid-19 membuat dunia saat ini mengalami kontraksi. Namun, bagi Indonesia dampaknya masih relatif kecil dibandingkan negara besar, khususnya dalam perekonomian.

“Masih ada sektor yang yang cukup kuat dan tangguh, serta tetap tumbuh yakni pertanian.  Pertanian bukan hanya penyelamat, tapi sebagai penyedia tenaga kerja. Pertanian mempunyai kekuatan sebagai penyangga ekonomi,” katanya.

Syakir melihat dengan adanya pandemic Covid-19 membuat kita harus meng-upagrede kekuatan ekonomi yakni fokus pada platform bioekonomi dengan memanfaatkan kekuatan sumberdaya lokal yaitu sumberdaya hayati,” katanya saat webinar Ketahanan Pangan Berbasis Biekonomi untuk Sehat dan Sejahtera.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018