Saturday, 24 October 2020


Dampak Covid-19, Penduduk Miskin Kian Rentan Pangan

09 Oct 2020, 17:55 WIBEditor : Yulianto

Penduduk miskin kian rentan pangan | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pandemi Covid-19 membuat jumlah penduduk yang masuk kategori miskin kian bertambah, bahkan makin rentan terhadap pangan. Data menyebutkan sebelum pandemi, penduduk miskin hanya sekitar 24,8 juta jiwa (September 2019), namun pada Maret 2020 naik menjadi 26,4 juta jiwa.

Pengamat Pertanian, Khudori mengatakan, kondisi kemiskinan, pengangguran, dan turunnya pendapatan, membuat warga menjadi rentan kekurangan pangan. Dalam situasi normal, keluarga miskin membelanjakan 74 persen dari pendapatannya untuk kebutuhan pangan. Jika harga pangan naik, mereka terancam makin miskin dan kelaparan,” ujarnya dalam Webinar mengenai Bansos yang diselenggarakan Pataka, Kamis (8/10).

Apalagi lanjutnya, jumlah penduduk rentan di Indonesia tergolong tinggi di Asia Pasifik. Data Bank Dunia, sebanyak 68 persen penduduk Indonesia masuk kategori miskin dan rentan terhadap goncangan ekonomi.

Rentannya penduduk yang masuk dalam kategori miskin tersebut karena mayoritas bekerja di sektor industri dan jasa sebagai tenaga kerja kerah biru dan kepesertaan BPJS Kesehatan kelas tiga. Untuk itu, peran pemerintah di tingkat paling bawah (kelurahan/desa) menjadi sangat krusial,” tegasnya.

Menurut Khudori, agar jumlah orang miskin tidak bertambah besar akibat pandemi, pemerintah merancang program jaring pengaman sosial (JPS), seperti bantuan sosial, bantuan langsung tunai, dan sejenisnya. “Program ini bukan untuk mengentaskan kemiskinan, tapi mencegah orang menjadi miskin,” katanya.

Karena Indonesia tidak memiliki kapasitas fiskal yang besar untuk menangani Covid-19, Khudori mengingatkan, bantuan sosial mesti valid dan bisa menemukan sasaran yang tepat. “Apalagi dampak pandemik, walaupun bersifat universal, tetapi regresif terhadap kelas ekonomi,” katanya.

Khudori mengatakan, tambahan penduduk miskin tersebut sangat tergantung pertumbuhan ekonomi. Jika asumsi pertumbuhan optimis sebesar 1 persen, maka jumlah penduduk miskin diprediksi 33 juta. Namun jika pertumbuhan pesimis (minus 3,5 persen), maka jumlah penduduk miskin akan mencapai 44,5 juta jiwa

Mengenai Program Keluarga Harapan (PKH) yang pemerintah lakukan membantu masyarakat miskin, Khudori mengatakan, berdasarkan dasil Studi Nainggolan dan Susantyo (2017) tentang PKH menunjukkan bahwa masih banyak keluhan warga tentang ketepatan sasaran penerima manfaat PKH.

Kasus exclusion error dan inclusion error masih terjadi. Akibatnya pengelola program di lapangan sering menjadi sasaran kekecewaan hingga menjadi korban kemarahan pihak-pihak tertentu,” tuturnya.

Khudori menilai, agar pemahaman atas program (PKH dan Sembako) utuh, perlu sosialisasi kembali. Terutama pelaksana teknis di masyarakat dan aparat desa/kelurahan beserta jaringannya. “Untuk itu sosialisasi harus dibuat sederhana, menyertakan simulasi penyesuaian program sebelum dan saat pandemi,” harapnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018