Jumat, 23 Februari 2024


Inilah PR Pemerintah Baru

03 Jan 2024, 15:21 WIBEditor : Yulianto

Pemerintah Baru mendatang mempunyai PR cukup berat di sektor pertanian. | Sumber Foto:Budi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Tahun 2024, bangsa Indonesia akan menggelar hajatan besar, Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Belajar dari lima tahun terakhir Pemerintahan Joko Widodo, masih banyak pekerjaan rumah (PR) dalam pembangunan pertanian, dari mulai soal produksi hingga masalah kersjahteraan petani. Ini yang harus pemerintahan baru jawab.

Seperti apa visi dan misi calon Presiden RI mendatang? Himpunan Alumni IPB University menggelar Dialog Food dan Agriculture Summit III di IPB International Convention Center, Bogor selama dua hari (Senin-Selasa, 18-19/12). Dialog tersebut untuk melihat dan mengetahui sejauh mana keberpihakan dan komitmen dari para Capres dalam program Kedaulatan Agromaritim, dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Konsep Agromaritim digagas Himpunan Alumni IPB  dituangkan dalam 'Buku Putih Gagasan Besar Alumni IPB untuk Kedaulatan Indonesia di bidang Pendidikan, Desa, Kewirausahaan dan Agromaritim'. Dari banyak hal yang terungkap. Khusus soal pertanian, dalam Buku Putih diungkapkan, sektor pertanian belum tumbuh stabil pasca Pandemi Covid-19, sehingga belum dapat dijadikan andalan pengentasan kemiskinan dan pembangunan investasi manusia.

Bahkan produktivitas pertanian melambat dari Rp 41,5 juta pada 2010 menjadi Rp22,9 juta per pekerja pada 2022. Seangkan pertumbuhan produktivitas padi di Indonesia melandai, karena inovasi yang lambat, sangat jauh dibandingkan produktivitas padi di Vietnam dan Filipina.

Buku Putih Gagasan Besar Alumni IPB menyoroti secara khusus soal masalah perubahan iklim. Secara umum, perubahan iklim telah memberikan dampak negatif besar terhadap pertanian Indonesia. Pengaruh perubahan iklim yaitu berupa langsung dan tak langsung. Pengaruh langsung berupa penurunan produksi karena gagal proses penyerbukan, temperatur yang tidak lagi optimum bagi pertumbuhan tanaman, meningkatnya ancaman banjir, kekeringan, salinitas.

Perubahgan iklim juga meningkatkan serangan atau populasi hama dan penyakit tanaman. Ini menjadi tantangan produksi tanaman pangan saat ini dan masa depan. Misalnya serangan wereng cokelat tahun 2012-2019 rata-rata mencapai 72.550 ha/tahun dan penyakit blas 55.000 ha/tahun, sehingga menyebabkan kerugian hasil sebesar Rp 2,43 trilyun/tahun.

Diperkirakan dengan adanya perubahan iklim serangan wereng coklat akan semakin parah, terbukti populasi dan kerusakan tanaman akibat outbreak wereng coklat dengan peningkatan CO2 (570 ppm) dan suhu (30 lebih tinggi). Pada tanaman perkebunan dan hortikultura beberapa penyakit baru muncul dan diduga terkait dengan perubahan iklim yaitu mati pucuk pada pala, mati pucuk pada cengkeh dan penyakit penyakit virus pada cabai.

Persoalan lain yang menjadi PR pemerintah baru adalah penurunan tingkat penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian.  Baca selenjutnya.

 

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018