
Presiden Jokowi ditemani Mentan, Amran Sulaiman saat melihat kegiatan tanam di Banyumas
Suwandi juga mengakui, petani juga masih terkendala modal. Pemerintah terus mendorong KUR (Kredit Usaha Rakyat). Tantangan lainnya adalah income petani baru sekitar 3.870 dollar AS/kapita/tahun. Pemerintah berupaya mendorong naik menjadi 15.287 dollar AS/kapita/tahun pada tahun 2045. ”Kenaikan income tersebut harus diikuti dengan kesejahteraan petani,” ujarnya.
Tantangan lainnya adalah produktivitas padi riil Indonesia di lapangan masih belum mencapai potensi hasilnya. Posisi intensitas tanam padi juga rata-rata belum dua kali, ada yang satu ada yang dua. Meski sebagian ada yang tiga dan juga ada yang empat. Namun secara umum, rata rata masih di bawah dua.
“Untuk meningkatkan produktivitas padi, pemerintah berupaya menggeser varietas yang memiliki produktifitas rendah dengan menyiapkan varietas unggul,” ujarnya. Di sawah irigasi menurut Suwandi, saat ini petani masih banyak menanam varietas Ciherang yang produktifitasnya hanya 5-6 ton/ha.
Untuk itu, pemerintah menyiapkan varietas Inpari 32 yang produktivitasnya bisa mencapai 7-8 ton/ha. Di lahan tadah hujan ada varietas Inpago 8. Di lahan rawa ada Inpara yang produktifitasnya bisa mencapai 4-8 ton/ha. “Ini yang kita lakukan untuk meningkatkan produktivitas padi. Saya berharap benih padi unggul digratiskan saja untuk petani dan jangan diperjualbelikan,” katanya.
Dorong Hilirisasi
Untuk menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia, menurut Suwandi, bukan hanya teknologi mekanis, tetapi juga teknologi lainnya seperti IoT (Internet of Things) dan bioteknologi yang membuat menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan, serta hasil produksinya baik untuk kesehatan dan memenuhi aspek keamanan pangan.
Kunci kedua adalah membangun hilirisasi pertanian. Hilirisasi dapat berjalan baik jika industri produknya mendekatkan pada lokasi produksi yaitu di pedesaan. Karena itu, Suwandi berharap pentingnya mengawal dan memperkuat hilirisasi pangan. “Kita harus terus memperkuat lini produksi pangan. Selain aspek hulu dan on farm, juga aspek hilir kita perkuat,” katanya.
Dengan demikian, bagaimana produksi yang sudah berjalan kemudian dipastikan hilirisasinya juga mengalir dengan baik menghasilkan produk yang dapat diterima dan dimanfaatkan masyarakat. Aspek-aspek hilir yang perlu diperkuat, salah satunya downstream industri yang menghasilkan produk turunan.
Suwandi mencontohkan, komoditas padi dapat menghasilkan 34 produk turunan mulai dari berbagai macam beras konsumsi, tepung, hingga bioethanol. Contoh lainnya jagung dapat menghasilkan 44 jenis produk turunan, kedelai 29 jenis produk turunan, kacang hijau 27 jenis produk turunan , dan kacang tanah 42 jenis produk turunan.
Bahkan untuk komoditas sawit, produk hilirisasinya sebanyak 144 jenis produk turunan. Dari mulai sabun cuci, sabun mandi sampo, termasuk coklat dari sawit yang sudah berkembang, tapi memang belum besar. “Jadi kuncinya adalah bagaimana mengawal agar proses hillirisasi dapat berjalan dengan baik,” kata Suwandi