
Pengajar dan praktisi hidroponik di Sekolah Sampah, Dadan Ramdhani Edukasi Siswa SDN Tarikolot O3 Peduli Lingkungan
TABLOIDSINARTANI.COM, Citeureup, Bogor – SDN Tarikolot 03, Citeureup, Kabupaten Bogor menjadi tuan rumah kegiatan roadshow edukatif dari Sekolah Sampah yang mengusung tema “Belajar Membuat Minuman Fermentasi Buah Alami (JusPro), Olah Sampah Organik 1 Detik dengan Biowash Promik, dan Edukasi Sampahku Tanggung Jawabku”.
Acara ini memadukan edukasi lingkungan dan kesehatan, menghadirkan Komunitas Biowash Promic Indonesia, program CSR PT Indocement, serta tokoh pendidikan dan masyarakat setempat.
Ketua Umum Komunitas Biowash Promic Indonesia, Dwi Kartika Fitri, memaparkan pentingnya konsumsi makanan dan minuman fermentasi sebagai sumber probiotik alami.
Ia mengingatkan bahwa kuliner tradisional seperti tape, tempe, asinan, hingga sambal terasi, merupakan hasil fermentasi yang menyimpan banyak bakteri baik.
“Probiotik sangat penting untuk kesehatan usus, kekebalan tubuh, bahkan memengaruhi mood dan berat badan,” ujarnya.
Dwi juga menyoroti bahaya penggunaan antibiotik secara berlebihan yang dapat membunuh bakteri baik dalam tubuh.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa fermentasi tak hanya bermanfaat untuk tubuh manusia, tetapi juga untuk lingkungan.
Melalui teknologi Biowash Promic, limbah organik bisa diolah menjadi pupuk cair dalam waktu singkat.
“Dengan satu detik, kita bisa memulai mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ini solusi nyata mengatasi sampah rumah tangga,” tegasnya.
Sejalan dengan itu, pengajar dan praktisi hidroponik di Sekolah Sampah, Dadan Ramdhani, , mengingatkan pentingnya kesadaran ekosistem dalam pengelolaan sampah.
“Kita berasal dari tanah, dan tanah akan terus memberi manfaat jika kita menjaganya. Sampah bukan sekadar buangan, tapi bagian dari siklus kehidupan,” ungkapnya.
Roadshow ini bukan kali pertama digelar. Menurut Joni Budianto, pengajar Sekolah Sampah lainnya, kegiatan serupa telah berlangsung belasan kali, menyasar berbagai jenjang pendidikan.
“Tujuannya sederhana, anak-anak sejak dini bisa memilah sampah organik dan anorganik serta peduli pada lingkungan. Kami juga mendorong setiap sekolah punya Bank Sampah untuk mendukung program Adiwiyata dan Kampung Ramah Lingkungan,” jelasnya.
Kepala Sekolah SDN Tarikolot 03, Muhammad Roqib, menyambut antusias kegiatan ini.
“Manfaatnya luar biasa, siswa jadi paham cara memilah dan mengelola sampah. Ada juga donasi tempat sampah dari Cimory. Harapan kami, ilmu ini dibawa pulang dan diterapkan di rumah,” katanya.
Hal senada disampaikan Ketua Komite Sekolah SDN Tarikolot 03, H. Nana Juhana, yang terkesan dengan metode pembelajaran interaktif.
“Awalnya saya ragu, tapi ternyata bahan buangan bisa diolah menjadi minuman sehat penuh bakteri baik. Sangat edukatif dan bisa diterapkan di rumah tangga,” ujarnya.