Monday, 16 February 2026


Kementan Gerak Cepat Pulihkan Sawah Sumatera, Mentan Amran : Agar Musim Tanam Tidak Tertunda

14 Jan 2026, 07:57 WIBEditor : Gesha

Mentan Sekaligus Kepala Bapanas Amran Sulaiman Saat Meninjau Cabai dari Petani Aceh di Bandara Halim Perdanakusuma

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Sawah terdampak bencana di Sumatera segera dipulihkan. Mentan Amran tegaskan, musim tanam petani tetap lancar, dengan bantuan alat dan benih gratis dari pemerintah.

Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat memulihkan sawah terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatera. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan rehabilitasi lahan pangan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat harus dilakukan segera agar musim tanam tidak tertunda dan produksi pangan nasional tetap terjaga.

“Sudah dianggarkan sekitar Rp5 triliun untuk pemulihan lahan sawah terdampak bencana,” ujar Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian, Sam Herodian, usai kegiatan Road to Jakarta Food Security Summit (JFSS) di Jakarta, Selasa (13/1/2026).

 

Groundbreaking rehabilitasi sawah direncanakan berlangsung pada Kamis (15/1/2026) di Aceh sebagai simbol dimulainya penanganan terpadu lintas wilayah terdampak bencana. Kementan bertanggung jawab menanggulangi kerusakan ringan hingga sedang, sementara kerusakan berat akan dikoordinasikan bersama kementerian teknis lain sesuai kewenangan masing-masing.

“Kalau yang berat nanti PU, yang sedang sampai ringan dari kami. Kami akan membentuk kembali lahannya, menyediakan bantuan alat pertanian, dan mendampingi proses penanaman,” tambah Sam.

Rehabilitasi mencakup pembersihan sedimen, perbaikan saluran irigasi, penataan kembali struktur lahan, penyediaan benih, serta pendampingan penanaman agar sawah bisa segera kembali produktif. Selain Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara juga mendapat penanganan serupa untuk mempercepat proses pemulihan.

 

Menteri Amran menegaskan pemerintah menanggung seluruh biaya perbaikan. “Pemerintah ambil alih pembangunan lahan hingga kembali seperti semula, termasuk pengiriman alat dan benih gratis. Petani tidak akan dibebani biaya apapun,” ujarnya saat meninjau banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Desember 2025 lalu.

Di Sumatera Barat, persiapan rehabilitasi sawah terdampak bencana terus dimatangkan. Groundbreaking akan berlangsung di Munggu Tanah, Selayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, difasilitasi Balai Penerapan dan Modernisasi Pertanian (BRMP). Rangkaian kegiatan akan diikuti secara langsung maupun daring oleh pejabat daerah terdampak.

Penanganan disesuaikan dengan tingkat kerusakan lahan: kategori ringan dan sedang ditangani Kementan melalui pembersihan, penyemaian, dan penanaman ulang. Sementara kategori berat memerlukan alat berat dan keterlibatan pihak ketiga. Wakil Bupati Solok, H. Candra, menekankan akurasi data sebagai dasar pemberian bantuan. “Data harus valid agar bantuan tersalurkan tepat sasaran,” kata Candra.

Verifikasi lapangan mencatat kerusakan berat seluas 892 hektare. Untuk kerusakan ringan, bantuan mencapai Rp4,6 juta per kelompok tani, termasuk biaya irigasi dan pupuk, dengan total dukungan sekitar Rp15 juta per hektare. Simulasi teknis penanganan lahan ringan dan sedang juga dijadwalkan pada 15 Februari 2026 sebagai panduan lapangan.

Berdasarkan data Sakato Plan Provinsi Sumatera Barat, total sawah terdampak bencana mencapai 1.072 hektare dengan kerusakan irigasi di delapan titik sepanjang 1.364 meter. Dampak lain meliputi 90,9 hektare hortikultura, 10,3 hektare perkebunan, 1 hektare ladang, 110 ekor ternak, serta tiga lokasi asuransi pertanian. Total kebutuhan anggaran penanganan tercatat lebih dari Rp90 miliar.

 

Pemkab Solok berharap program rehabilitasi ini mempercepat pemulihan lahan pertanian sehingga aktivitas tanam masyarakat kembali berjalan normal. Groundbreaking pada Kamis nanti diharapkan menjadi momentum untuk menjaga ketahanan pangan regional sekaligus memastikan musim tanam 2026 berjalan lancar.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018